Pemkab Tanjabbar Terima Bantuan Bibit dan Peralatan Pertanian dari Wakil Menteri Pertanian
Wakil Menteri Pertanian Ir. Harvick Hasnul Qolbi menyerahkan bantuan kepada Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat.
Penulis: Ade Setyawati | Editor: Teguh Suprayitno
"Pertanian terdiri atas tanaman pangan dan hortikultura, peternakan dan perkebunan," jelasnya.
Bupati mengatakan di sektor peternakan terdapat ternak besar dan unggas yang populasinya berkembang cukup signifikan. pada tahun 2022 populasi sapi diperkirakan sebanyak 9.151 ekor, kerbau 748 ekor, kambing 40.010 ekor, domba 809 ekor dan unggas (ayam buras, broiler dan itik) lebih dari 2 juta ekor.
"Sedangkan pada sub sektor perkebunan ada 5 komoditi unggulan yang dikembangkan di kabupaten tanjung jabung barat yaitu kelapa yang lazim kami sebut dengan kelapa dalam dengan luas tanam 51.539 ha, pinang seluas 13.645 ha, kopi liberika 2.869 ha, kelapa sawit 75.997 ha dan karet 7.388 ha," jelasnya.
Kemudian kelapa dalam, pinang dan kopi berjenis liberika merupakan komoditi perkebunan spesifik yang hanya tumbuh baik di wilayah hilir atau dataran rendah dengan topografi tanah rawa dan gambut.
"Sektor pertanian memegang peranan penting dalam perekonomian daerah dan kesejahteraan masyarakat, namun pada faktanya banyak kendala dan masalah mendasar yang saat ini dihadapi pada sektor ini," tambahnya.
Alih fungsi lahan persawahan merupakan salah satu permasalahan utama pada subsektor tanaman pangan. dimana banyak lahan sawah berubah menjadi lahan perkebunan khususnya perkebunan kelapa sawit dan nilai tukar menjadi alasan utama terjadinya alih fungsi tersebut.
"Upaya pemerintah daerah mengatasi masalah ini dengan menetapkan perda lahan pertanian pangan berkelanjutan (lp2b), namun masih perlu formulasi yang tepat dalam implementasinya," lanjutnya.
Sementara pada sub sektor perkebunan masalah utama yang dihadapi saat ini adalah terjadinya penurunan harga yang sangat tajam dalam dua tahun terakhir khususnya pada komoditi kelapa dalam dan pinang.
Saat ini di tingkat petani harga kelapa dalam hanya berkisar pada Rp1.000 per butirnya sehingga margin keuntungan yang diperoleh sangat kecil, sedangkan harga biji pinang kering hanya mampu dijual petani pada harga Rp. 3.000,- sampai Rp. 5.000 per kg dimana sebelumnya pernah mencapai di atas Rp. 20.000 per kg
"Saat ini petani bahkan banyak yang tidak memanen pinangnya lagi karena dianggap biaya yang dikeluarkan lebih besar dari hasil yang diperoleh," tutupnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/Wakil-Menteri-Pertanian-Ir-Harvick-Hasnul-Qolbi.jpg)