Jumat, 10 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Bisnis

Daya Beli Masyarakat Menurun Menjadi Biang Kerok Mal Sepi

Sejatinya kinerja pusat perbelanjaan sudah hampir normal kembali, tetapi ada beberapa yang tingkat kunjungannya tidak meningkat, bahkan memburuk

Editor: Hendri Dunan
abdiwan/tribun-timur.com
Pengunjung antri memasuki restoran Jepang, Ichiban Sushi di Trans Studio Mall, Rabu (13/11/19). 

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja merespons perihal beberapa mal di Jakarta yang sepi pengunjung.

Ia mengatakan, sejatinya kinerja mayoritas pusat perbelanjaan sudah hampir normal kembali, tetapi ada beberapa yang tingkat kunjungannya tidak meningkat, bahkan memburuk.

Menurut Alphonzus, seharusnya pusat perbelanjaan bukan lagi hanya sekadar tempat belanja, melainkan harus memiliki fasilitas untuk pelanggan melakukan interaksi sosial dengan sesamanya.

"Setelah PPKM dicabut, maka yang pertama kali dicari oleh masyarakat adalah berinteraksi sosial dengan sesamanya secara langsung yang bukan di dunia maya karena itu adalah yang dilarang selama pembatasan yang telah berlangsung sekitar tiga tahun," katanya kepada Tribunnews, Senin (7/8).

Ia mengatakan, pusat perbelanjaan yang hanya mengedepankan fungsi belanja akan langsung berhadapan dengan e-commerce.

"Setelah wabah Covid-19 mulai mereda, maka yang pertama kali dicari oleh masyarakat bukan belanja. Keperluan belanja selama pandemi Covid-19 telah dapat tergantikan oleh e-commerce atau belanja online," ujarnya.

Alphonzus menekankan, pusat perbelanjaan harus bisa menyediakan atau memberikan pengalaman kepada para pelanggannya.

"Customer experience ataupun customer journey dapat diciptakan dari konsep gedung dan juga “tenant mix"," katanya.

Ia mengatakan, banyak pusat perbelanjaan yang berhasil memberikan fungsi lain dari sekedar belanja saja, sehingga diminati dan banyak dikunjungi oleh masyarakat, bahkan tingkat kunjungannya telah mencapai 100 persen.

"Pusat perbelanjaan harus menambahkan fungsi lain, yaitu menjadi hub koneksi sosial dikarenakan hampir tiga tahun manusia di dunia ini tidak bisa dengan bebas berinteraksi secara langsung," ujar Alphonzus.

Dihubungi terpisah, Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, daya beli masyarakat yang menurun menjadi sebab dari berbagai mal di Jakarta sepi pengunjung.

Ia mengatakan, daya beli menurun mulai terlihat usai Lebaran 2023, disebabkan oleh masyarakat yang cenderung menghentikan konsumsinya akibat banyak biaya yang harus dikeluarkan.

"Ada biaya pendidikan yang terus naik tiap tahunnya, uang masuk sekolah. Tahun ajaran baru banyak yang ngerem untuk belanja. Nah itu terjadi merata di semua wilayah," kata Bhima.

Bila dibandingkan dengan konsumsi kelas atas dan menengah, Bhima mengatakan masyarakat kelas menengah ke bawah lebih tertekan.

"Kecenderungannya ini yang tertekan itu kelas menengah ke bawah. Mereka berhadapan dengan inflasi, jadi kalau mau belanja juga pikir-pikir ulang karena harga-harga barang kebutuhan pokok masih mahal," katanya.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved