Aksara Incung Kerinci Jambi Perlu Dilestarikan
Bahasa Kerinci bahkan telah ada sebelum pengaruh Arab masuk dan memengaruhi kebudayaan Melayu.
Penulis: Herupitra | Editor: Teguh Suprayitno
TRIBUNJAMBI.COM, KERINCI - Suku Kerinci memiliki peradaban dan kebudayaan sejak dulu sehingga menjadi kekhasan tersendiri. Begitu juga dengan bahasa Kerinci, meskipun masih tergolong ke dalam rumpun bahasa Melayu, bahasa kerinci diperkirakan lebih tua.
Disebutkan bahasa Kerinci bahkan telah ada sebelum pengaruh Arab masuk dan memengaruhi kebudayaan Melayu. Asumsi ini dibuktikan dengan adanya beberapa naskah kuno yang ditulis dengan Bahasa Kerinci Kuno yang dikenal dengan Aksara Incung.
Salah seorang tokoh adat Kabupaten Kerinci, Suhardiman mengatakan bahwa bentuk grafis aksara Incung diidentifikasi hampir mirip dengan aksara daerah Sumatra lainnya seperti Batak, Rejang, dan Lampung.
Walaupun begitu banyak juga ditemui perbedaan yang mendasar, sehingga aksara ini tidak bisa dikatakan sama dengan aksara-aksara yang dipakai oleh suku lain.
Dikatakannya, Kabupaten Kerinci merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki aksara atau tulisan kuno yang sering disebut dengan Incung. Pada zaman dahulu aksara Incung ditulis diberbagai bentuk media purba seperti tanduk, bambu, kertas, tulang, dan batu.
Kini aksara incung dijadikan Sko atau barang pusaka yang hanya dilihat oleh warga dan tokoh adat saat ada kenduri Sko dan penobatan Depati dalam waktu yang tidak ditentukan.
"Adapun isi dari aksara incung ini merupakan pesan, doa, syair, pantun, dan mantra yang dituliskan orang-orang terdahulu," ujarnya.
Menurutnya, keberadaan aksara ini terancam punah sehingga memerlukan program berkelanjutan untuk memperkenalkannya kembali kepada masyarakat.
"Hingga saat ini sangat sedikit minat generasi untuk belajar aksara incung, Kita takut nanti aksara incung tidak dikenal masyarakat lagi," ujarnya.
Dirinya menegaskan, aksara incung kini diambang kepunahan. Oleh sebab itu, dirinya berharap agar kaum intelektual, terutama para budayawan, ilmuwan, dan cendikiawan untuk mengambil langkah yang konkrit untuk mengali kembali, menyelamatkan dan melestarikan kebudayaan suku Kerinci ini.
Dikatakan, saat ini aksara Incung hanya disimpan dalam kotak atau peti kecil sebagai benda pusaka/Sko yang dikeluarkan ketika acara kenduri Sko saja.
"Ketua adat atau Depati banyak juga yang tidak bisa membaca incung ini. Mereka hanya menyimpan saja di atas loteng rumah dan dikeluarkan ketika ada kenduri Sko atau kenduri adat," ujarnya.
Untuk mengatasi agar aksara incung tidak punah, Pemkot Sungai Penuh melalui dinas pariwisata dan kebudayaan beberapa waktu lalu mengelar lomba melukis ragam hias aksara Incung. Bahkan kini di sekolah juga ada mata pelajaran aksara Incung.
Bahkan juga di Kota Sungai Penuh juga terdapat rumah belajar aksara Incung. Rumah belajar Incung tersebut didirikan oleh anak anaka muda.(*)
Baca juga: TikTokers Kerinci Jambi Sempat Sebut HP Hilang, Popo Barbie Sengaja Unggah Videonya sama Patung?
Baca juga: Rumah Hangus, Mobil Calya dan Tiga Motor Milik Warga di Kerinci Juga Terbakar
Baca juga: Pengakuan Wanita yang Diduga Menggugurkan Janinnya di Sungai Penuh Jambi, Hasil Hubungan Gelap
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/Guru-mengajar-aksara-incung.jpg)