Berita Kerinci
Aksara Incung Diambang Kepunahan, Perlu Adanya Upaya Pelestarian
Aksara Incung, yang dikenal sebagai bahasa Kerinci kuno, mesti dilestarikan.
Penulis: Herupitra | Editor: Deni Satria Budi
TRIBUNJAMBI.COM, KERINCI - Aksara Incung, yang dikenal sebagai bahasa Kerinci kuno, mesti dilestarikan. Karena meskipun masih tergolong ke dalam rumpun bahasa Melayu, bahasa Kerinci diperkirakan telah hidup lebih tua.
Seorang tokoh adat Kabupaten Kerinci, Suhardiman mengatakan, bentuk grafis aksara Incung diidentifikasi hampir mirip dengan aksara daerah Sumatera lainnya seperti Batak, Rejang, dan Lampung.
Walaupun begitu kata Suhardiman, banyak juga ditemui perbedaan yang mendasar, sehingga aksara Incung tidak bisa dikatakan sama dengan aksara-aksara yang dipakai oleh suku lain.
Menurutnya, Kabupaten Kerinci merupakan daerah di Indonesia yang memiliki aksara atau tulisan kuno yang sering disebut dengan Incung. Pada zaman dahulu aksara Incung ditulis diberbagai bentuk media purba, seperti tanduk, bambu, kertas, tulang, dan batu.
Kini aksara incung dijadikan Sko atau barang pusaka yang hanya dilihat oleh warga dan tokoh adat saat ada Kenduri Sko dan penobatan Depati dalam waktu yang tidak ditentukan.
"Adapun isi dari aksara Incung ini merupakan pesan, doa, syair, pantun, dan mantra yang dituliskan orang-orang terdahulu," bebernya.
Baca juga: Aksara Incung di Batik Kerinci
Baca juga: 4 Destinasi Wisata Jambi di Kabupaten Kerinci, Ada Gunung Kerinci yang Menakjubkan
Keberadaan aksara Incung ini terancam punah, sehingga memerlukan program berkelanjutan untuk memperkenalkannya kembali kepada masyarakat.
"Hingga saat ini sangat sedikit minat generasi untuk belajar aksara Incung. Kita takut nanti aksara Incung tidak dikenal masyarakat lagi," ujarnya.
Diakuinya, aksara Incung diambang kepunahan. Oleh sebab itu, dirinya berharap agar kaum intelektual, terutama para budayawan, ilmuwan, dan cendikiawan, untuk mengambil langkah yang konkrit untuk menggali kembali, menyelamatkan dan melestarikan kebudayaan suku Kerinci ini.
Saat ini kata Suhardiman, aksara Incung hanya di simpan dalam kotak atau peti kecil sebagai benda pusaka/Sko yang dikeluarkan ketika acara kenduri Sko.
"Ketua adat atau Depati banyak juga yang tidak bisa membaca Incung ini. Mereka hanya menyimpan saja di atas loteng rumah dan dikeluarkan ketika ada kenduri Sko atau kenduri adat," ungkapnya.
Untuk mengatasi agar aksara Incung tidak punah, Pemerintah Kota Sungai Penuh beberapa waktu lalu, menggelar lomba melukis ragam hias aksara Incung. Bahkan kini di sekolah juga ada mata pelajaran aksara Incung.
Selain itu, di Kota Sungai Penuh juga terdapat rumah belajar aksara Incung. Rumah belajar Incung tersebut didirikan oleh anak-anak muda.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/aksara-incung_20161031_115331.jpg)