LIPUTAN KHUSUS

Kisah 50 Tahun Tak Dapat Aliran Listrik, Warga Geragai Tanjabtim Pakai Teplok, Diesel, Tenaga Surya

Sudah puluhan tahun dusun tersebut tidak mendapat aliran listrik. Warga sudah mengajukan ke pihak terkait, namun hingga 2023, belum terealisasi

|
Penulis: anas al hakim | Editor: Duanto AS
TRIBUN JAMBI/ANAS ALHAKIM
TENAGA SURYA - Penggunaan panel tenaga surya di Dusun Geragai, Desa Lagan Ulu, Kecamatan Geragai, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Sabtu (17/6). 

TRIBUNJAMBI.COM, MUARASABAK - Ketika malam, suasana gelap gulita karena bahan bakar minyak (BBM) untuk diesel sumber listrik habis.

Sebagian warga juga menggunakan teplok untuk penerangan.

Kondisi itu yang terjadi di Dusun Geragai, Desa Lagan Ulu, Kecamatan Geragai, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, hingga saat ini, Sabtu (17/6).

Sebagian wilayah di Provinsi Jambi ternyata masih ada yang belum mendapat aliran listrik PLN, di antaranya Dusun Geragai, Kabupaten Tanjab Timur.

Mayoritas penduduk di sana masih menggunakan lampu teplok, tenaga surya dan mesin diesel untuk sumber listrik penerangan pada malam hari.

Sudah puluhan tahun dusun tersebut tidak mendapat aliran listrik.

Warga sudah mengajukan ke pihak terkait, namun hingga 2023, belum juga terealisasikan.

Ketua RT 18, Dusun Geragai, Muhammad Yusuf, mengatakan untuk penerangan rumah sehari-hari, sebagian warga yang tidak miliki mesin diesel ataupun tenaga surya, bergotong royong menyambung kabel dari rumah ke rumah yang memiliki mesin diesel.

Waktu hidup mesin diesel pun terbatas, sejak pukul 18.00-22.00 WIB. Dalam waktu itu, mesin menghabiskan 2 liter bahan bakar minyak (BBM).

"Jadi, kalau minyak (BBM) habis, kami menggunakan lampu charge atau lampu teplok," ujarnya, Sabtu (17/6).

Sebagai warga yang mengalami persoalan listrik, M Yusuf prihatin dengan ketertinggalan program elektrifikasi pemerintah.

Sudah seharusnya listrik tuntas di desa-desa.

"Janji pemerintah untuk menyediakan aliran listrik belum terealisasi hingga kini. Hanya ada puluhan tiang listrik tanpa menggunakan kabel. Terhitung, sekitar sudah setengah abad warga kami membutuhkan aliran listrik," jelasnya.

Pernyataan senada diungkapkan Kepala Dusun Geragai, Toni.

Sekarang ini, sebagian warga menggunakan menggunakan mesin diesel, tenaga surya dan sisanya masih menggunakan lampu biasa alias teplok.

"Kalau untuk mesin diesel, paling kencang hingga jam 10 malam, karena mengingat stok minyak (BBM) terbatas. Kalau untuk tenga surya, sekarang ini sistemnya kredit. Jika mau beli secara langsung, anggarannya lumayan mahal, sekitar Rp3 jutaan," tuturnya.

Penggunaan tenaga surya pun kerap menemui kendala. Ketika cuaca mendung, maka aki tidak dapat terisi daya.

Terkait permasalahan aliran listrik di Dusun Geragai, Kabid Pengelolaan Informasi dan Komunikasi Publik Diskominfo Tanjab Timur, Willi, mengatakan sejak kewenangan ESDM tidak lagi di kabupaten, pihaknya kesulitan mengakomodasi persoalan listrik.

Namun, pihaknya tetap harus koordinasi dengan pemerintah provinsi.

"Sekitar dua minggu lalu persoalan listrik di Dusun Geragai ini kita ajukan proposal kembali ke provinsi. Dan kita langsung bersama Kepala Desa Lagan Ulu. Alhamdulillah diterima dengan baik bahkan dipertemukan langsung dengan pihak PLN Jambi," ujarnya, Sabtu (17/6).

Kata Willi, berdasarkan keterangan yang diperolehnya dari camat setempat, PLN menyatakan pada 2024 akan direalisasikan.

"Memang jarak dari saluran utama menuju Dusun Geragai ini lumayan jauh. Lebih kurang sekitar tujuh kilometer. Maka dibutuhkan sekitar 140 tiang dengan kabel lumayan panjang," tambahnya.

Dia pun berharap ke depannya permasalahan listrik di Dusun Geragai cepat direalisasikan.

"Dan, harapan kita, agar masyarakat juga harus mendukung jika nanti ada kendala-kendala di lapangan, misalnya ada tanah warga yang terpaksa terpakai untuk tiang, jangan sampai nanti jadi hambatan," harapanya.

Ganggu Pendidikan Anak

Warga berharap persoalan listrik di Dusun Geragai, Kabupaten Tanjab Timur, segera mendapat solusi dari pemerintah setempat.

Toni, Kepala Dusun Geragai, mengatakan di wilayah tersebut ada sekolah. Apabila tidak ada aliran listrik yang bagus, maka pendidikan akan terganggu.

"Di sini kan ada SD. Seandainya PLN masuk, otomatis perkembangan ilmu pengetahuan untuk tingkat SD sudah lumayan berkembang, karena kelas 5 dan 6 sudah belajar TIK, dan pengaruhnya untuk generasi yang akan datang supaya lebih mengenal lagi kemajuan teknologi," harapnya.

Selain itu, dengan adanya listrik, dia meyakini informasi yang masuk desa pun bakal bagus.

"Kasihan anak-anak yang belajar. Jadi pendidikan dan informasi untuk desa tidak tertinggal," ujarnya.

Saat ini, anak-anak di wilayahnya pun tetap semangat belajar meski dengan keterbatasan sumber daya listrik.

Inilah yang membuat M Yusuf memikirkan kondisi anak-anak dan perkembangan pendidikan.

Kondisi Merangin-Sungai Penuh

Kondisi desa belum mendapat aliran listrik juga ada di kabupaten lain.

Berdasarkan data Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jambi yang diperoleh Tribun pada Februari 2023, masih ada lima desa belum mendapat aliran listrik.

Di Kabupaten Merangin, yaitu Desa Renah Kemumu dan Desa Koto Rawang di Kecamatan Jangkat, Desa Air Liki dan Desa Air Liki Baru di Kecamatan Tabir Barat.

Sementara di Kota Sungaipenuh, yaitu Desa Renah Kayu Embun di Kecamatan Kumun Debai.

Untuk Desa Renah Kemumu dan Desa Koto Rawang ini, sedang dikerjakan oleh PLN dengan target 2023 selesai.

Tiga desa lainnya, Desa Air Liki, Desa Air Liki Baru dan Desa Renah Kayu Embun, rencana PLN, tiga desa itu akan dikerjakan tahun ini melalui program Listrik Desa dan targetnya pada 2024 semua desa sudah teraliri listrik. (cna/cwi)

Baca juga: Perasaan Aryo Dkk Deg-degan Melewati Pohon Bolong saat Pendakian Gunung Kerinci, Ternyata

Baca juga: Ternyata Ini Asal Duit Rp23 Miliar di Meja, Kejati Ekspose Kasus Gagal Bayar di Bank Jambi 2017-2018

Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved