Kisah Megawati Jadi Mualaf, Berawal dari Sering Duduk di Musala Dengarkan Ceramah

Memutuskan memeluk Islam di usianya yang masih remaja, Megawati mengaku awalnya tidak mudah. Ia tak serta-merta menjadi mualaf.

Penulis: Srituti Apriliani Putri | Editor: Deddy Rachmawan
Tribunjambi/Srituti Apriliani Putri
Megawati (60) yang saat itu masih berusia 19 tahun telah mencintai Islam sebelum akhirnya menjadi seorang mualaf. 

Memutuskan memeluk Islam di usianya yang masih remaja, Megawati mengaku awalnya tidak mudah. Ia tak serta-merta menjadi mualaf. Pengalaman spiritual yang ia alami akhirnya membulatkan tekad Megawati hijrah.

Di usianya yang sudah sepuh, Megawati (60) masih aktif di dunia dakwah. Ia aktif menjadi pengurus pengajian di Masjid Laksamana Muhammad Cheng Ho, Kota Jambi. Kini Megawati tercatat sebagai Bendahara PITI Jambi atau Persatuan Islam Tionghoa Indonesia Jambi.

Ibu empat anak ini memeluk agama Islam pada tahun 1982. Saat itu ia masih berusia 19 tahun. Ditemui Tribun pada Rabu (22/3), ia mengatakan bahwa  telah mencintai Islam sebelum akhirnya sah menjadi mualaf.

Megawati menceritakan, dirinya besar di lingkungan muslim. Bahkan, rumahnya kala itu berdekatan dengan musala.

Ia kerap mendengar ceramah agama yang dari pengeras suara musala kampung tersebut. Waktu demi waktu, hatinya terketuk. Jadi, kata dia, saya sudah mencintai Islam dan Allah sebelum akhirnya mantap pindah agama.

"Saya sudah lebih dulu mencintai Allah saat itu, bagaimana hati ini rasanya tenang," tuturnya.

Ia menuturkan, saat masih kecil ia suka sekali duduk di pintu musala. Bahkan saat musala menggelar peringatan seperti maulid nabi, ia turut duduk di pintu  untuk mendengarkan ceramah.

Saat itu Megawati mengatakan ada perasaan tenang saat mendengarkan ceramah dan bacaan Al-Qur’an.

Perjalanannya memeluk agama Islam tidak mudah. Megawati mengatakan pada saat memutuskan untuk pindah agama, keluarga, terutama sang ibu sempat menolak. Suatu reaksi yang wajar tentunya.

Baca juga: Ramadan Hari Pertama, Satu Mualaf Bersyahadat di Masjid Nurdin Hasanah Kota Jambi

Ia mengenang kejadian itu sembari matanya berkaca-kaca. Kata dia, itulah fase terendah dalam hidupnya. Ia mengatakan sempat stres dan trauma karena sempat dijauhi oleh keluarga.

"Tetapi saya tetap berjuang, Alhamdulillah akhirnya beberapa tahun setelah itu hubungan dengan keluarga membaik," tuturnya bersyukur.

Setelah menikah, Megawati mengatakan ia pun masih mendapatkan ujian berupa masalah ekonomi. Namun, ia tetap berjuang untuk bisa menyekolahkan anak-anaknya. Hingga akhirnya anak-anaknya dapat menyelesaikan pendidikannya.

Pada tahun 2007 ia berkesempatan untuk melaksanakan ibadah umrah ke tanah suci. Itulah menjadi titik baliknya. Ia terus berusaha menjadi muslimah yang baik. Ia terus belajar cara membaca Al-Qur’an yang benar, ia terus memperdalam ilmu agama.

Baca juga: Doa saat Mimpi Buruk dan Tuntunan Mimpi Dalam Islam

Ia mengatakan, selama ini mencintai Islam karena seluruh hal dalam kehidupan diatur dalam Islam dan dijelaskan dengan rinci di dalam kitab sucinya.

"Saya belajar Al-Qur'an itu dari artinya dulu. Bagaimana Islam benar-benar mengatur semua hal secara rinci dari tidur sampai tidur lagi. Dari urusan jual beli sampai kehidupan sehari-hari," ujarnya.

Meski usianya kini tak muda lagi, Megawati sampai saat ini masih terus semangat belajar Al-Qur'an. Ia bersyukur diberikan umur yang panjang oleh Allah untuk bisa terus belajar. (srituti apriliani putri)

 

Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved