Pembunuhan Brigadir Yosua

Putri Candrawati Disebut Tak Tulus saat Membaca Pledoi Permintaan Maaf pada Keluarga Yosua

Secara verbal, kita mendengarkan kata maaf. Sementara nonverbal ini yang divalidasi apakah pesan maaf ini tersampaikan, yakni dapat dirasakan tulus

Editor: Suci Rahayu PK
Capture Kompas TV
Terdakwa pemunuhan Brigadir Yosua, Putri Candrawati sampaikan Nota Pembelaan atau pledoi di PN Jakarta Selatan 

Update kasus Ferdy Sambo

TRIBUNJAMBI.COM - Ekspresi dan gestur Putri Candrawati saat membacakan pledoi dibaca pakar gestur dan mikro ekspresi, Monica Kumalasari.

Gestur dan ekspresi yang ditekankan Monica terutama saat Putri Candarwati membaca permintaan maaf pada keluarga Brigadir Yosua.

Menurut penjelasannya, kata maaf mengadung pengertian secara verbal dan nonverbal.

"Secara verbal, kita mendengarkan kata maaf. Sementara nonverbal ini yang divalidasi apakah pesan maaf ini tersampaikan, yakni dapat dirasakan tulus atau tidak," kata Monica dalam Kompas Petang Kompas TV, Kamis (26/1/2023).

Dia menyebut permintaan maaf secara nonverbal bisa diamati dari gestur, yakni apakah ekspresi yang ditunjukkan sama tidak dengan apa yang disampaikan.

Terkait Putri Candrawati, Monica melihat istri Ferdy Sambo ini memiliki ekspresi yang flat atau datar, saat menyampaikan permohonan maaf.

"Ternyata dari ekspresi yang kita lihat ini flat seperti saat Putri Candrawati menyampaikan hal lainnya, jadi tidak terasa ada sesuatu yang berbeda," jelasnya.

Selain ekspresi, dia juga menyoroti suara Putri Candrawati yang menurutnya belum ada yang dapat dirasakan dari ucapan maafnya.

Baca juga: Dalam Pledoi, Richard Eliezer Sebut Diperalat dan Dibohongi Ferdy Sambo

Baca juga: Masyarakat Jambi Perjuangkan Hak Lahan hingga ke Jakarta, Edi Purwanto: Kita Segera Fasilitasi

"Kita juga bisa mengamati suara yang bersangkutan, ternyata dari hal ini kita juga tidak mendapati sesuatu yang bisa dirasakan," jelasnya.

Melihat hal itu, Monica menilai Putri Candrawati tidak tulus meminta maaf kepada keluarga Brigadir Yosua.

"Kalau kita melihat dari facial ekspresi wajah), mikro ekspresi, maupun dari suara yang bisa amati, masyarakat belum merasakan permohonan maaf ini adalah maaf yang genuine (tulus)," tegasnya.

 


Simak berita terbaru Tribunjambi.com di Google News

Baca juga: Dalam Pledoi, Richard Eliezer Sebut Diperalat dan Dibohongi Ferdy Sambo

Baca juga: Macet Akibat Truk Batu Bara Belum Terhindarkan, Ini Kata Gubernur

Baca juga: Masyarakat Jambi Perjuangkan Hak Lahan hingga ke Jakarta, Edi Purwanto: Kita Segera Fasilitasi

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved