Pengamat Politik: Sistem Proporsional Tertutup Menguntungkan Oligarki

Pengamat Politik Jambi, Dr Pahrudin HM menyoroti soal kemungkinan pemilu 2024 dilaksanakan dengan sistem proporsional tertutup.

Penulis: Danang Noprianto | Editor: Teguh Suprayitno
istimewa
Pengamat Politik sekaligus Direktur Publik Trust Institute (PUTIN), Dr Pahrudin. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Pengamat Politik Jambi, Dr Pahrudin HM menyoroti soal kemungkinan pemilu 2024 dilaksanakan dengan sistem proporsional tertutup.

Menurut Direktur Eksekutif Public Trust Institute (PUTIN) ini mungkin saja dilaksanakan, karena ini merupakan produk politik.

Hanya saja untuk melaksanakan pemilu dengan sistem proporsional tertutup menurutnya Partai Politik di Indonesia saat ini masih belum ideal, masih banyak catatan yang perlu dibenahi.

Sistem proporsional tertutup ini bisa dilaksanakan ketika partai politiknya sudah ideal juga.

"Partai hari ini sangat oligarkis, keputusan lebih banyak didominasi oleh orang-orang yang terkoneksi langsung dengan elit politik utamanya," ujarnya, Minggu (8/1/2023).

Sehingga jika menggunakan sistem proporsional tertutup, menurutnya yang akan menjadi wakil rakyat nantinya ialah orang-orang yang ada di sekeliling oligarki atau elit partai.

Baca juga: 8 Parpol Tolak Pemilu Sistem Proporsional Terutup, Ini kata Pimpinan Wilayah Jambi

Sehingga akan menutup kesempatan tokoh-tokoh baru untuk muncul, terutama yang tidak memiliki koneksi secara langsung dengan oligarki.

"Ada banyak orng yang berkualitas atau dikehendaki perannya sebagai wakil rakyat oleh lingkungannya, tetapi karena tidak tekoneksi dengan oligarki atau elit-elit utama di parpol ini tidak akan dipilih," jelasnya.

Namun kata Pahrudin Positifnya dalam sistem ini ialah money politik akan berkurang di tengah masyarakat.

Kata Dosen Universitas Nurdin Hamzah ini jika ingin menggunakan sistem proporsional tertutup maka harus benahi dulu partai politiknya. Optimalkan fungai-fungsi partai politik, jika ini dijalankan dengan baik, tentu bisa dijalankan.

Sebaliknya jika tetap menggunakan sistem proporsional tertutup maka masyarakat memiliki kebebasan untuk memilih calon wakil rakyat yang dikehendaki.

Baca juga: Kantor Badan Pemenangan Presiden Diresmikan, Prabowo: Kader Harus Kerja Keras di Pemilu 2024

"Masyarakat bisa memilih orang yang dianggap cocok untuk menjadi anggota legislatif," ucapnya.

Hanya saja problemnya ketika proporsional terbuka peluang money politik cukup besar.

Intinya pelaksanaan sistem proporsional tertutup ini akan menguntungkan para oligarki dan elit-elit politik serta partai-partai besar yang telah dikenal masyarakat, sementara pelaksanaan sistem proporsional tertutup akan menguntingkan masyarakat sebagai pemilih.

Ikuti berita terbaru Tribunjambi.com di Google News

Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved