Editorial

Menolak Rokok di Kalangan Pelajar

kepala sekolah di Kabupaten Muarojambi, mulai dari PAUD, SD hingga SMP melakukan deklarasi penanganan dan penolakan merokok di lingkungan sekolah.

Editor: Deddy Rachmawan
Shutterstock
Ilustrasi merokok, bahaya rokok. 

Rabu (7/12), puluhan kepala sekolah di Kabupaten Muarojambi, mulai dari PAUD, SD hingga SMP melakukan deklarasi penanganan dan penolakan merokok di lingkungan sekolah. Bukan hanya itu, forum ini juga menegaskan bahaya narkoba, perundungan atau pembulian di lingkungan sekolah.

Sanksi tegas pun menanti pelanggar, baik tenaga pendidik, siswa hingga pejabat yang merokok di ling- kungan sekolah.

Bakal ada sanksi teguran administrasi. Sebenarnya, larangan merokok itu telah dimulai sejak Agustus lalu. Kini keseriusan untuk pemberlakuan larangan merokok di lingkungan sekolah ditegaskan dengan adanya deklarasi yang dilakukan dinas pendidikan.

Komitmen yang coba dibangun ini sangat menarik, apalagi melihat kebiasaan merokok yang telah menjamur di kalangan pelajar. Itu bisa ditilik ketika kita berada di tempat-tempat umum. Asap mengepul dari mulut remaja.

Kementerian Kesehatan yang merilis hasil survei global penggunaan tembakau pada usia dewasa (Global Adult Tobacco Survey-GATS) pada 2011 dan diulang pada 2021, terdapat peningkatan jumlah pengguna rokok secara signifikan.

Dalam 10 tahun itu terjadi peningkatan jumlah perokok dewasa sebanyak 8,8 juta orang, yaitu dari 60,3 juta menjadi 69,1 juta perokok.

Masih dalam survei yang sama, ada kenaikan prevalen- si perokok elektronik hingga 10 kali lipat, dari 0,3% (2011) menjadi 3% (2021).

Sementara itu, prevalensi perokok pasif juga tercatat naik menjadi 120 juta orang.

Keterpaparan asap rokok terjadi di beberapa tempat tempat umum, seperti di restoran, rumah tangga, gedung pemerintah, tempat kerja, transportasi umum, dan bah- kan di fasilitas pelayanan kesehatan juga terlihat masih tinggi.

Baca juga: Dua Anak Pembobol Warung Ditahan di Polsek Sungai Manau, Polisi Sita Puluhan Slop Rokok

Menarik sekali bukan, ketika membaca data ini. Perlu diingat, dampak rokok bukan hanya soal kesehatan. Ini juga menimbulkan masalah sosial ekonomi masyarakat.

Di kalangan pelajar berusia remaja, kecenderungan ingin tahu menjadi pemicu seseorang menghisap asap tembakau.

Pada usia ini, seseorang bisa menjadi perokok karena pengaruh pergaulan. Kemudian secara pendidikan, kebiasaan merokok di kalangan pelajar ini pun bisa menjadi kebiasaan yang mengganggu belajar.

Baca juga: Fakta Paru-paru Orang yang Berhenti Merokok, Risiko Penyakit Jantung Berkurang Setelah Setahun

Komitmen dan deklarasi yang dibuat, tentu menjadi tantangan untuk melakukan upaya-upaya menjaga kesehatan, terutama di kalangan pelajar.

Langkah positif ini perlu mendapat dukungan berbagai pihak ter utama orang tua murid. Demi dunia pendidikan yang lebih baik. (*)

 

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved