Komunitas
Berdayakan Suku Pedalaman Melek Kesehatan dan Pendidikan Melalui Komunitas Merah Muda
Komunitas Merah Muda, yaitu perkumpulan anak-anak muda yang mendedikasikan keilmuannya dalam bidang pendidikan dan kesehatan untuk suku di pedalaman.
Penulis: Rara Khushshoh Azzahro | Editor: Rian Aidilfi Afriandi
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Komunitas Merah Muda, yaitu perkumpulan anak-anak muda yang mendedikasikan keilmuannya dalam bidang pendidikan dan kesehatan untuk suku di pedalaman.
Lahir dari keinginan kuat anak-anak muda yang menginginkan pendidikan dapat dirasakan setiap orang.
Tiga orang yang mendirikan komunitas tersebut hingga memiliki banyak anggota tersebar dalam berbagai daerah di Indonesia maupun luar negeri.
Nama tersebut di antaranya Melda Ria Sinambela, Rut Eliana Simanjuntak, dan Dahlia Simamora yang merupakan cikal bakal hidupnya Komunitas Merah Muda.
"Karena setiap orang berhak mendapatkan pendidikan, dan berhak mendapatkan pelayanan kesehatan," ujar Melda Ria Sinambela, Founder Komunitas Merah Muda.
Awalnya, komunitas tersebut datang ke perkampungan hingga hutan-hutan yang ditinggali oleh suku anak dalam (SAD).
Mereka memberi arahan, bimbingan, dan pengetahuan mendasar tentang bagaimana hidup yang layak dengan memperhatikan kesehatan.
Pendidikan yang mereka miliki pun disampaikannya terhadap suku pedalaman agar mendapatkan kesempatan sama seperti masyarakat lainnya.
Karena latarbelakang dan kebiasaan masyarakat pedalaman yang berbeda, cara Komunitas Merah Muda pun berbeda dalam menjalankan perannya.
"Kita harus sabar dalam membimbing mereka, dan memberi pemahaman. Terlebih bahasa kita juga berbeda, mereka bahkan ada yang tidak pakai bahasa Indonesia. Karena mereka terbiasa pakai bahasa asli pedalaman," jelas Rut Eliana Simanjuntak, sebagai Co Founder Komunitas Merah Muda.
Kegiatan tersebut sering mereka lakukan ke pedalaman untuk setidaknya para masyarakat di sana mengerti cara beradaptasi.
Mereka tidak menginginkan merubah kebiasaan asli orang-orang di pedalaman, namun membantu mereka mengenalkan hak atas pribadinya.
Edukasi tersebut mereka lakukan dari tahun 2014 hingga 2022 ini, dan akan terus berlanjut kedepannya.
Bergeraknya komunitas ini tentu terkadang membutuhkan biaya, dan tidak jarang para perintis mengeluarkan uangnya sendiri demi keperluan edukasi.
Semesta tidak tidur, hal tersebut ternyata mendapatkan perhatian baik dan respon positif dari banyak pihak.