Jokowi Tak Mau Tergesa-gesa, Pandemi di Indonesia Belum Berakhir

Presiden Joko Widodo (Jokowi) tak mau terburu-buru menyatakan pandemi Covid-19 di Indonesia telah berakhir. Jokowi mengatakan bahwa

Editor: Fifi Suryani
Istimewa
Penanganan pandemi covid-19 sudah semakin terkendali, namun meskipun begitu Presiden Joko Widodo mewanti-wanti 

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) tak mau terburu-buru menyatakan pandemi Covid-19 di Indonesia telah berakhir. Jokowi mengatakan bahwa pemerintah akan hati-hati dalam memutuskan hal tersebut. Menurutnya, Indonesia akan tetap mewaspadai potensi penyebaran virus corona. ”Kalau untuk Indonesia saya kira kita harus hati-hati, tetap harus waspada tidak harus tergesa-gesa, tidak usah segera menyatakan bahwa pandemi sudah selesai,” kata Jokowi usai meresmikan ruas tol di Kabupaten Bekasi, Selasa, (19/9).

Pernyataan Jokowi itu disampaikanya merespons Presiden Amerika Serikat Joe Biden yang menyebut pandemi Covid-19 telah usai. Jokowi menegaskan tak ingin terburu-buru mengikuti langkah Biden. Ia menyebut hanya Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) yang bisa menyatakan pandemi telah selesai. "Pandemi ini kan terjadi di seluruh dunia, dan yang bisa memberikan statement menyatakan pandemi selesai itu adalah WHO," ujarnya.

Jokowi meminta seluruh pihak tetap mewaspadai penyebaran Covid. Ia mengingatkan sebelumnya juga banyak negara yang kasus Covidnya melandai, namun tiba-tiba melonjak lagi. "Tidak usah segera menyatakan bahwa pandemi sudah selesai, saya kira hati-hati, ada di satu-dua negara yang Covid-nya juga mulai bangkit naik hati-hati, kehati-hatian yang harus diterapkan," ujarnya.

Kasubbid Dukungan Kesehatan Bidang Darurat Satgas Covid-19 Alexander K Ginting sebelumnya juga mengatakan hal serupa. Ia menyebut Indonesia akan mengacu kepada aturan Badan Kesehatan Dunia atau WHO dalam penetapan pandemi Covid-19 berakhir. Selain aturan WHO, Alexander mengatakan Indonesia memiliki levelisasi PPKM dalam menetapkan status pandemi Covid-19.

"Indonesia tetap mengacu kepada badan kesehatan dunia. Jadi dalam hal ini tentu negara masing masing mempunyai aturan tersendiri dalam penanggulangan Covid-19. Indonesia punya PPKM Levelisasi tapi dengan tetap mengkombinasikan dengan aturan yang diberlakukan WHO," ujar Alexander kepada Tribunnews.com, Senin (19/9).

Keputusan menetapkan berakhirnya pandemi Covid-19 adalah capaian vaksinasi. Meski vaksinasi Covid-19 dosis pertama sudah mencapai 203 juta atau 89 persen, dan dosis kedua 170 juta atau 72,6 persen, namun vaksinasi booster di Indonesia masih di angka 26,5 persen. Sehingga, Alexander mengatakan Pemerintah sedang menggalakkan vaksinasi booster demi mencegah terjadinya lonjakan angka Covid-19.

"Kita tidak mau terjadi lonjakan kasus di masa transisi ini. Di beberapa negara sudah ada pelonggaran, tapi kita punya pertimbangan sendiri di Indonesia," kata Alexander. "Kita tidak mau mengulangi ada kejadian luar biasa yang sporadis di berbagai provinsi kabupaten kota, jika PPKM ini tidak dijalankan," tambah Alexander.

PPKM, kata Alexander, masih diterapkan untuk mencegah terjadinya lonjakan kasus Covid-19. "Ini dasarnya, jadi walaupun Amerika misalnya melepaskan masker dan membebaskan, itu sah-sah saja. Kendati pun, WHO belum mencabutnya. Tapi yang jadi pegangan kita adalah cakupan vaksinasi booster pertama di Indonesia, hanya DKI Jakarta, Bali, dan Riau yang di atas 50 persen. Ini yang menjadi catatan," jelas Alexander.

Dalam penetapan berakhirnya pandemi Covid-19, Alexander mengatakan Indonesia tidak bisa hanya mengikuti negara lain. Angka vaksinasi booster di Indonesia, menurut Alexander, belum setinggi vaksin pertama dan kedua. "Sehingga kita tidak bisa mengikut-ikut negara lain, karena sudah angka prevalensi turun atau positivity ratenya sudah turun. Kita lebih karena imunitas dengan vaksinasi booster, kita belum setinggi apa yang pada vaksinasi 1 dan 2," kata Alexander.

Sebelumnya Presiden AS Joe Biden menyatakan bahwa pandemi Covid-19 di Amerika Serikat sudah berakhir walaupun Negeri Paman Sam masih harus berurusan dengan penyakit tersebut. "Pandemi sudah berakhir. Kami masih punya masalah dengan Covid. Kami masih mengatasinya, tapi pandemi sudah berakhir," ujar Biden dalam acara bincang-bincang di CBS, seperti dikutip AFP, Senin (19/9).

Pernyataan Biden ini senada dengan Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, yang mengatakan bahwa akhir pandemi Covid-19 "sudah di depan mata." Berdasarkan data Universitas Johns Hopkins, kasus Covid-19 di AS memang berangsur turun dalam dua pekan belakangan, hingga mencapai sekitar 65 ribu kasus per hari.

Sumber: Tribunnews
  • Baca Juga
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved