Perang Rusia Ukraina
Rusia Kalah Telak dari Ukraina, Putin Minta Dukungan China
Artikel ini membahas Pasukan Rusia mundur dari sejumlah wilayah yang dikuasainya di Ukraina.
TRIBUNJAMBI.COM - Pasukan Rusia mundur dari sejumlah wilayah yang dikuasainya di Ukraina.
Kekalahan Rusia di Ukraina membuat Vladimir Putin meminta dukungan China.
Rusia butuh dukungan Beijing yang ditandai pertemuan penting antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan pemimpin China Xi Jinping minggu ini.
Pertemuan ini menandai kekalahan Pasukan Rusia hingga terpaksa meninggalkan kota strategis Izium, benteng utama mereka di timur laut Ukraina, pada Sabtu (10/9/2022).
Hal ini menjadi pukulan telak Rusia sejak mundur dari Kyiv pada Maret.
Ambil Alih Kharkiv
Ukraina akhirnya dapat mengambil alih Kharkiv dari pasukan Rusia pada hari Selasa (13/9/2022).
Pasukan Rusia yang telah 6 bulan menguasai Ukraina harus pergi meninggalkan Kharkiv.
Kekelahan Kremlin ditandai dengan pasukan Ukraina yang telah mengibarkan bendera negara mereka.
Ukraina telah mengusir Rusia keluar dari wilayah lebih dari 6.000 km persegi, termasuk zona di selatan negara itu di mana serangan balasan terpisah sedang berlangsung untuk merebut kembali kota Kherson.
Dikutip The Guardian, Serhiy Hadai, gubernur wilayah Luhansk, mengatakan partisan lokal telah mengibarkan bendera Ukraina di atas kota kunci Kreminna, yang telah kosong.
Militer Rusia telah meninggalkan daerah itu atau terlalu takut untuk menjatuhkan Ukraina, katanya.
Batalyon Rusia telah jatuh kembali ke posisi baru di timur Sungai Oskil, sekitar 10 mil dari kota Izium yang baru dibebaskan.
Adakah Peluang Damai?
Hingga saat ini perang antara Rusia dan Ukraina masih terus terjadi.
Perdamaian antara Rusia dan Ukraina diprediksi cukup kecil terjadi.
Hal ini disampaikan Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres setelah telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, Rabu (14/9/2022).
"Saya merasa kita masih jauh dari perdamaian. Saya akan berbohong jika saya mengatakan itu bisa terjadi segera," kata Guterres pada konferensi pers, dikutip dari SCMP.
"Saya tidak memiliki ilusi, pada saat ini peluang kesepakatan damai sangat minim," tambahnya.
PBB tetap menjaga kontak dengan kedua belah pihak dan menyatakan harapannya akan ada diskusi tingkat tinggi terkait konflik ini.
Artikel ini diolah dari Tribunnews.com
Baca Artikel Tribunjambi.com di Google News
Baca juga: Inggris Undang Rezim Kim Jong-un ke Pemakaman Ratu Elizabeth II, Presiden Rusia Iran Tak Diundang
Baca juga: Peluang Perdamaian Ukraina dan Rusia Tipis, Begini Kata Sekjen PBB
Baca juga: Pasukan Rusia Dipukul Mundur Ukraina, Kini Pendukung Kremlin Kabur ke Perbatasan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/Pasukan-Ukraina-berhasil-mengambil-alih-wilayahnya-dari-pasukan-Ukraina.jpg)