Testimoni Puteri Indonesia Favorit Jambi soal Kenduri Swarnabhumi

Tribunjambi/Fitri Amalia
Puteri Indonesia Favorit Jambi, Sindy Novela. 

 

TRIBUNJAMBI.COM - Baru-baru ini Direktorat Jenderal (Ditjen) Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) bersama sejumlah pemerintah daerah secara resmi membuka Kenduri Swarnabhumi sebagai realisasi pemajuan kebudayaan sesuai amanah UU Nomor 5 Tahun 2017.

Kenduri Swarbahumi adalah upaya menghubungkan kembali, menyebarkan luas, dan memperkuat kebudayaan Melayu dengan berbagai kegiatan di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari.

Hajatan Kenduri Swarbahumi sendiri berlangsung Rumah Dinas Gubernur Jambi, Jumat (12/8/2022) lalu. Puteri Indonesia Favorit Jambi, Sindy Novela, ikut menghadiri perhelatan kebudayaan tersebut.

Dia mengatakan kita patut mengapresiasi perhelatan kebudayaan yang dilaksanakan di Jambi. Dia menyebut perhelatan ini menunjukkan satu upaya yang maju untuk membangun kesadaran tentang arti penting sungai dalam perkembangan peradaban dan kebudayaan masyarakat.

Sebagai Putri Indonesia Jambi Favorit 2022 sekaligus aktivis lingkungan yang sangat konsen pada advokasi sungai, dia senang dan merasa terhormat ambil bagian dalam kegiatan Direktur Jenderal (DIRJEN) Kebudayaan, Peluncuran “Kenduri Swarnabhumi” dengan tema “Menghubungkan Masyarakat Dengan Peradaban Sungai”.

Baca juga: Wisata Jambi Ancol, Destinasi Kuliner di Pinggir Sungai Batanghari

"Saya berharap ini tidak hanya menjadi perhelatan seremonial semata karena hal terpenting adalah bagaiman kegiatan ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat di Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari yang terdiri dari 7 Kabupaten dan 124 kecamatan di dua propinsi Jambi dan Sumatera Barat," ujar Sindy (23/8/2022).

Kenduri Swarnabhumi adalah momentum untuk menyegarkan kembali ingatan masyarakat tentang jejak peradaban Masyarakat Jambi yang ada di Daerah Aliran Sungai Batanghari.

Ada banyak peninggalan sejarah yang sudah ditemukan, ada banyak candi dan bekas istana yang pernah tegak di sepanjang sungai ini, ada banyak benda-benda purbakala penanda peradaban TERMAJU di zamannya.

Sungai Batanghari adalah pusat peradaban TERMAJU di masanya, abad 7-15 Masehi, cahaya keemasan matahari sejarah pernah bersinar terang sepanjang aliran sungainya.

"Kita berdiri tegak bersisian dengan peradaban dunia lainnya kala itu penuh kebanggaan. Sejak zaman colonial, Orang Eropa yang pernah melihat dan menuliskan Sungai Batanghari hingga sebelum Orde Baru pasti sependapat Batanghari sangat cantik," sebutnya.

Baca juga: Ratusan Mahasiswa di Indonesia, Selusur Sungai Batanghari

Pada abad ke 13 para leluhur berhasil menjadikan Batanghari sebagai pusat peradaban baru. Negara Melayu Hindu-Budha dan Dharmasraya diantaranya. Sekarang belum ada prasasti baru yang layak ditulis menceritakan kejayaan baru yang berhasil dibuat generasi sekarang di sepanjang Sungai Batang Hari.

Belum ada “candi-candi” penanda peradaban baru, belum ada yang menegakkan istana seperti yang dilakukan Adityawarman di masa lalu. Jangankan sejajar dengan pusat peradaban dunia yang baru, sejajar dengan peradaban beberapa kabupaten dan propinsi yang tidak semegah Sriwijaya, Melayu dan Darmasraya saja tidak lagi segagah dulu.

"Sekarang, kita rasanya tidak perlu bercerita panjang. Keruh air Sungai Batang Hari sepanjang tahun telah berbicara banyak, apa adanya, tentang keadaan dan tingkat peradaban Indonesia, tidak hanya peradaban masyarakat sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Batang Hari," kata Sindy.

Orang Melayu yang turun-temurun tinggal di sepanjang sungai ini bercerita, Batang Hari hanya jernih tiga hari menjelang dan sesudah Idul Fitri. Keruhnya air sungai legenda berlekuk nan cantik ini adalah buramnya wajah cerminan peradaban Indonesia.

Keadaan ini tidak akan berubah sendiri di masa datang, siapa saja yang menganggap dirinya berperadaban tinggi harus membuktikan ketinggian peradabannya dengan mengubah warna air sungai ini, mengubah wajah sosial-ekonomi masyarakat DAS Batanghari yang telah hidup turun-temurun hingga sekarang.

Dia mengatakan butuh peran anak muda Jambi dalam merawat harmoni alam dengan manusia, utamanya tentang melestarikan sungai sebagai bagian dari cinta budaya.

Dengan mengisi aktivitas dengan kegiatan yang dapat meningkatkan pemahaman kita tentang sejarah dan arti penting sungai bagi kemajuan masyarakat, kebudayaan dan pelestarian lingkungan hidup di Jambi. Aktif dalam kegiatan studi, penelitian dan pendidikan bersama di kalangan pemuda sangat penting dalam proses ini.

"Lalu melatih diri dalam komunitas dan organisasi untuk melakukan berbagai praktik advokasi pemulihan sungai, misalnya kegiatan pembersihan sungai, budidaya ikan air tawar khas sungai Batanghari, ataupun kegiatan pertanian pangan, sayur-syuran yang mamanfaatkan air sungai Batanghari. Semua ini bisa dilakukan mulai dari dusun-dusun, desa dimana kita tinggal, hingga ke kota-kota sepanjang aliran sungai Batanghari," ujarnya.

Dia mengatakan anak muda Jambi jangan sampai ketinggalan untuk mendukung berbagai kebijakan dan program pelestarian sungai. Begitupun sebaliknya, tidak ragu memberikan tanggapan terhadap kebijakan dan berbagai praktik yang justru merusak sungai.

"Karena anak muda adalah bagian terpenting dari kemajuan kebudayaan dan pelestarian lingkungan hidup," tutup Sindy. 

Baca berita terbaru Tribunjambi.com di Google News