Waspada Cacar Monyet

Jokowi Perintahkan Menkes Siapkan Vaksin, Minta Masyarakat tak Panik Hadapi Cacar Monyet

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyiapkan langkah antisipasi agar penyakit cacar

Editor: Fifi Suryani
istimewa
Presiden RI Joko Widodo didampingi Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin (kedua kiri), Rektor Universitas Indonesia, Prof. Ari Kuncoro, S.E., M.A., Ph.D (ketiga kiri) dan Direktur RSUI, dr. Astuti Giantini (tengah) saat meninjau Sentra Vaksinasi Indonesia Bangkit di RSUI, Depok, Rabu (9/6/2021). 

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyiapkan langkah antisipasi agar penyakit cacar monyet di Indonesia tidak meluas. Satu arahan yang disampaikan Jokowi adalah agar Kementerian Kesehatan (Kemenkes) segera menyiapkan vaksin cacar monyet. ”Ya, sudah saya perintahkan kepada Menkes, yang pertama urusan vaksin segera,” kata Jokowi kepada wartawan di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Selasa (23/8).

Selain itu Jokowi juga meminta dilakukan pengetatan di pintu-pintu masuk kedatangan luar negeri untuk mencegah penyebaran cacar monyet. "Untuk tempat-tempat yang interaksinya tinggi kemudian gerbang-gerbang masuk ke negara kita betul-betul dicek secara ketat," ujarnya.

Meski demikian, Jokowi juga meminta masyarakat tidak terlalu panik menghadapi penyakit tersebut. Jokowi menyampaikan cacar monyet hanya bisa ditularkan lewat sentuhan langsung. Penyakit ini tak menular lewat percikan air liur atau droplet seperti Covid-19. "Ini juga kita tidak perlu terlalu panik karena penularannya lewat kontak langsung, bukan lewat droplet. Saya rasa yang paling penting adalah kesiapan-kesiapan kita untuk mengatasi itu," ujar Jokowi.

Sebelumnya, kasus cacar monyet perdana di Indonesia terkonfirmasi pada pasien laki-laki berusia 27 tahun dari DKI Jakarta. Juru Bicara Kemenkes Mohammad Syahril mengatakan, pasien itu terdeteksi mengalami sejumlah gejala sebelum akhirnya terdiagnosis cacar monyet pada Jumat (19/8) malam. "Dengan gejala tanggal 14 (Agustus) itu ada demam, kemudian juga ada pembesaran kelenjar. Tapi keadaannya baik, artinya tidak sakit berat," ujarnya, dalam konferensi pers, Sabtu (20/8).

Menkes Budi Gunadi Sadikin memprediksi penyakit Monkeypox atau cacar monyet yang teridentifikasi di Indonesia tidak akan menyebabkan pasien mengalami perburukan gejala hingga menyebabkan situasi fatal. Menurut Budi karakteristik cacar monyet yang ditemukan di Indonesia dan Asia kemungkinan tidak akan separah kasus di sejumlah negara Afrika.

Namun demikian ia belum bisa memastikan status atau kategori cacar monyet dari temuan seorang pasien di DKI Jakarta lantaran masih menunggu detail data dari tes whole genome sequencing (WGS). Hanya saja ia menyebut kondisi pasien cacar monyet di Indonesia terpantau baik dan hanya mengalami gejala ringan. "Cacar monyet ada dua tipe, Afrika Barat sama Afrika Tengah, yang satu fatal yang satu tidak fatal. Dan biasanya yang banyak di Eropa dan yang di Indonesia itu bukan yang fatal," kata Budi dalam agenda Q & A 'The 3rd G20 Health Working Group' yang disiarkan melalui kanal YouTube Kementerian Kesehatan RI, Senin (22/8).

Budi melanjutkan, berdasarkan data terkini, dari 39-40 ribu kasus konfirmasi cacar monyet di dunia, setidaknya 12 orang yang tercatat meninggal pasca terinfeksi. Dengan demikian, fatality rate atau tingkat kasus kematian cacar monyet menurutnya sangat rendah atau berkisar 0,04 hingga 0,05 persen. "Penularannya dia itu terjadi pada saat sudah bergejala, berbeda dengan Covid-19," kata dia.

Karena cacar monyet bukan penyakit dengan tingkat penularan tinggi, pemerintah juga tidak akan menggelar vaksinasi massal untuk menyetop penyebarannya seperti saat menangani Covid-19. "Karena itu tadi, menularnya susah sekali, ini jauh lebih susah dibandingkan Covid. Jadi, enggak worth it untuk semua orang dikasih vaksin cacar monyet," kata Budi di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (23/8).

Budi memastikan Kemenkes lebih siap menghadapi potensi cacar monyet apabila semakin meluas. Ia menyebut, pihaknya telah memiliki lebih dari 1.000 laboratorium PCR yang tersebar di berbagai provinsi. Mantan Wakil Menteri BUMN itu kemudian bergurau bahwa cacar monyet hanya akan membuat pasien terlihat 'jelek' lantaran gejala klinis cacar monyet menyebabkan muncul ruam dan bintik-bintik di kulit pasien. "Because it's only affect your skin, basically. Yeah, you look ugly definitely, but at least you will survive," kata Budi.

Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved