Tradisi Memasak Gulai Talang di Batanghari, Daging Bebek Dimasak Kaum Laki-laki Malam Hari

Gulai Talang adalah masakan tradisional masyarakat Kabupaten Batanghari, Jambi, terutama bagi mayarakat di Kecamatan Mersam.

Penulis: A Musawira | Editor: Suci Rahayu PK
Tribunjambi.com/Musawira
Seorang Ibu warga Mersam sedang memotong bebek sebagai bahan utama memasak gulai talang, di rumah warga yang hendak menggelar hajatan. 

TRIBUNJAMBI.COM, MUARABULIAN - Gulai Talang adalah masakan tradisional masyarakat Kabupaten Batanghari, Jambi, terutama bagi mayarakat di Kecamatan Mersam.

Masyarakat di sana tak asing lagi mendengar santapan yang berbahan utama bebek itu.

Masakan tradisional satu ini merupakan warisan leluhur.

Gulai talang
Gulai talang (Tribunjambi.com)

Masakan gulai talang berawal dari warga Mersam yang biasa memasak untuk makan siang di kebun.

Kala itu, masakan ini menggunakan bumbu sederhana, antara lain meliputi garam, bawang merah dan putih, cabai, jahe, kunyit, dan sereh.

Adapula bahan utamanya yang mudah didapat di kebun seperti bebek yang biasa dipelihara di kebun atau ayam hutan dan kancil yang bisa diburu di kawasan sekitar kebun.

Makanan ini disantap oleh warga Mersam ketika siang hari diwaktu istirahat. Alhasil, nama masakan ini disebut talang dalam bahasa setempat.

Seiring perkembangan waktu, warga tidak lagi berburu ayam hutan atau kancil untuk makan siang, sekarang daging bebek yang dimasak menjadi gulai talang.

“Dulu, gulai talang ini dibuat dan dimakan oleh orang-orang yang hidup di hutan dengan bumbu seadanya dan menggunakan daging hewan yang ada di hutan meliputi ayam hutan, bebek, kancil dan lain-lain,” kata Leni Sekretaris Camat Mersam pada Jumat (12/8/2022).

Baca juga: Wisata Air Panas Semurup Kerinci, Bisa Terapi Kesehatan hingga Nikmati Rebus Tanpa Api

Baca juga: Tempat Wisata Danau Sipin di Kota Jambi, Destinasi yang Menawarkan Pemandangan Sungai Batanghari

Sekarang ini warga Mersam kata dia punya tradisi makan gulai talang, yang disebut masak talang, di rumah warga yang hendak menggelar hajatan.

“Kalau sekarang Gulai Talang dimakan pada acara malam perkawinan sekitar pukul 24.00 WIB, dan tradisi ini biasanya yang masak adalah kaum laki-laki,” ujarnya.

Tradisi masak talang di rumah warga yang memiliki hajatan biasanya seluruh warga berkumpul pada malam hari dan menyantap gulai talang bersama-sama.

Leni mengkui untuk melestarikan tradisi masakan Gulai Talang ini dengan cara selalu menghadirkan dikala acara pengantin, adat, keagamaan dan acara resmi lainnya.

“Tradisi masak Gulai Talang ini tidak boleh dilupakan. Sampai saat ini kami melestarikannya dengan menampilkan Gulai Talang ini dengan mengikuti bazar baik tingkat kabupaten bahkan sudah pernah menang pada tingkat nasional di Bali,” pungkasnya. (Tribunjambi.com/Musawira)


Simak berita terbaru Tribunjambi.com di Google News

Baca juga: Tempat Wisata Tugu Keris di Kota Jambi, Destinasi yang Menawarkan Wisata Kuliner hingga Olahraga

Tempat Wisata Jambi Menara Gentala Arasy, Destinasi Terbaik di Kota Jambi yang Wajib Dikunjungi

Baca juga: Konservasi Gajah Wisata Jambi Terbaru di Tebo, Melihat Gajah Mandi dari Jembatan Gantung

Sumber: Tribun Jambi
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved