Perang China dan Taiwan Kemungkinan Kecil Terjadi, Ternyata Ini Alasannya
China dan Taiwan saling bergantung dari sisi ekonomi sehingga peluang perang kecil terjadi.
TRIBUNJAMBI.COM - China dan Taiwan saling bergantung dari sisi ekonomi sehingga peluang perang kecil terjadi.
China dan Taiwan memiliki hubungan yang baik dari sisi ekonomi.
Hubungan China dan Taiwan diprediksi masih akan terjalin karena dua negara ini saling menguntungkan.
Hal ini disampaikan Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus.
Dampak perang itu adalah ancaman stabilitas ekonomi, di mana dapat berdampak terhadap aliran perdagangan global.
Dari kedua negara tersebut memang saling bergantungan, di mana China menjadi supplier bahan baku dan Taiwan merupakan produsen seperti chip semikonduktor.
"Taiwan memiliki pabrik terbesar di dunia yang memunculkan ekspektasi bahwa potensi tercetus perang antar keduanya cukup minim. Sebab apabila terjadi, dampaknya bisa menghambat distribusi pasokan global yang berasal dari kedua negara tersebut," kata Nico.
Perang itu jika terjadi berpotensi mengganggu aktivitas perdagangan dengan Indonesia sebagaimana China merupakan mitra dagang terbesar dalam negeri.
"Selanjutnya, juga pada akhirnya mengganggu sejumlah indikator ekonomi seperti ekspor impor, cadangan devisa, neraca dagang dan pembayaran. Sementara, ekonomi kita saat ini cukup kuat yang tercermin dari pertumbuhan ekonomi kuartal II yang pada akhir pekan lalu dilaporkan berada di atas perkiraan pasar atau sebesar 5,44 persen," pungkasnya.
Sebelumnya Aksi provokasi militer China terhadap Taiwan pasca kunjungan Ketua DPR AS Nancy pelosi jadi sorotan.
Sejumlah pihak menyayangkan China terhadap Taiwan terkait kunjungan Nancy Pelosi.
Reaksi China bahkan dianggap menganggu kedaulatan Taiwan.
Perwakilan Taiwan untuk AS dalam Twitternya mengatakan 'Perilaku China yang tidak bertanggung jawab dan berbahaya telah membahayakan perdamaian regional'.
Duta besar de facto Taiwan untuk AS, Hsiao Bi-khim, mengatakan di media sosial bahwa “perilaku China yang tidak bertanggung jawab dan berbahaya telah membahayakan perdamaian regional.
Taiwan akan dengan tegas membela diri.”
China dilaporkan mengirim 21 jet tempur dan kapal induk ke pertahanan Taiwan.
Hubungan China dan Taiwan memanas pasca kunjungan ketua DPR AS Nancy Pelosi beberapa waktu lalu.
Kini China mengerahkan kekuatan militernya mendekati wilayah China.
Diperkirakan 21 jet tempur China dilaporkan terbang ke zona pertahanan udara Taiwan pada Selasa (2/8/2022), saat ketua DPR AS Nancy Pelosi berkunjung ke pulau itu.
"21 pesawat PLA (People's Liberation Army/Tentara Pembebasan Rakyat China) memasuki ADIZ barat daya Taiwan pada 2 Agustus 2022," klaim Kementerian Pertahanan Taiwan dalam sebuah pernyataan di Twitter, mengacu pada zona identifikasi pertahanan udara.
Dilansir dari AFP, ADIZ tidak sama dengan wilayah udara teritorial Taiwan, tetapi meliputi area yang jauh lebih besar yang tumpang tindih dengan bagian dari zona identifikasi pertahanan udara China sendiri dan bahkan mencakup beberapa daratan.
Artikel ini Diolah dari Tribunnews.com
Baca juga: Dua Mahasiswa Unja Akan Ikuti Program Youth Elites Exchange di National Quemoy University Taiwan
Baca juga: Jepang Protes Tindakan China Tembakan Rudal di Perairan Taiwan: Ancaman Serius
Baca juga: Nancy Pelosi ke Taiwan, China Marah dan Lepaskan Lima Rudal Balistik ke Wilayah Dekat Taiwan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/05082022-rudal.jpg)