Berita Kerinci

Harimau yang Membutuhkan Manusia atau Manusia yang Membutuhkan Harimau?

Setiap 29 Juli Dunia memperingati Hari Harimau. Ditetapkan pada 2010 di St. Petersburg, Rusia, dalam Tiger Summit. Penetapan ini bertujuan mengingat

Penulis: Herupitra | Editor: Rian Aidilfi Afriandi
Ist
Pemasangan perangkap harimau 

TRIBUNJAMBI.COM, KERINCI - Setiap 29 Juli Dunia memperingati Hari Harimau. Ditetapkan pada 2010 di St. Petersburg, Rusia, dalam Tiger Summit. Penetapan ini bertujuan mengingatkan kita agar lebih peduli pada keberadaan harimau yang makin terdesak oleh perburuan liar dan konversi hutan.

Mengenai hal ini Rangga seorang pemandu pendakian Gunung Kerinci mengatakan, apakah Harimau yang membutuhkan manusia atau manusia yang membutuhkan Harimau?

Diungkapkannya, beberapa waktu lalu di Renah Kayu Embun (RKE) daerah pertanian Kota Sungai Penuh terjadi konflik antara Harimau dan Masyarakat yang berladang di RKE. Hingga hari ini, Harimau tersebut belum juga dapat ditangkap meski perangkap/karangkeng dan umpan telah disiapkan.

"Apakah kita membutuhkan Harimau? Sehingga kita harus peduli atas kelangsungan hidup Harimau," tururnya.

Meninjau dari sudut pandang ekologi sebutnya, jika Harimau punah dan tidak ada lagi Harimau, keseimbangan ekosistem akan terganggu. Jika ekosistem terganggu hidup manusia menghadapi masalah besar.

Punahnya Harimau menyebabkan trophic cascade, sebuah fenomena ekologi ketika jumlah satwa yang berada di bawah rantai makanan harimau akan melimpah. Jika satwa herbivora melimpah yang menjadi makanan Harimau Sumatra, maka hutan tidak akan tumbuh dan melakukan regenerasi dengan sempurna.

Akan terjadi konflik yang berkepanjangan antara petani yang berladang dipinggiran hutan dengan satwa yang berada dibawah rantai makanan Harimau Sumatra yang melimpah.

"Selain itu Harimau sudah menjadi bagian dari kultur dan kehidupan spiritual masyarakat kita sejak dahulu.
Harimau mendapat tempat dan penghormatan dengan sebutan, hangtuo, diyau," jelasnya.

Dikatakannya, konflik manusia-satwa liar sejak dulu disikapi dengan nilai-nilai kultural melalui tradisi ngagah di Pulau Tengah Kerinci sebuah tradisi menyantuni dan menghormati harimau yang mati.

Sehingga hal itu membuat masyarakat RKE menduga bahwa Harimau yang memangsa hewan ternak mereka "anjing" baru baru ini adalah Harimau yang sebelumnya dilepasliarkan pada tanggal 7-8 Juni 2022.

Harimau yang diberi nama Surya Manggala dan Citra Kartini sebelum dilepasliarkan, Harimau tersebut telah dipasangi GPS Collar untuk memantau pergerakan Harimau pasca lepas liar.

"Apakah Harimau ini gagal beradaptasi pasca dilepas liarkan, hingga harus turun kedaerah perladangan masyarakat? Saya sangat berharap konflik ini cepat terselesaikan hingga tidak lagi memakan korban hewan ternak, sehingga masyarakat yang berladang/bertani di RKE bisa bertani dengan tenang," harapnya.

Tentu saja lanjutnya, konflik yang terjadi antara Harimau dan manusia di RKE (Renah kayu embun) harus menjadi perhatian bersama, yakni Walikota Sungai Penuh, anggota DPRD dan perangkat pemerintah lainya Camat, Kepala Desa dan seterusnya.

"Masyarakat membutuhkan rasa aman dan kepastian dalam penanganan konflik ini. Apakah harus berada dirumah dan berhenti untuk sementara waktu pergi keladang atau bagaimana?" katanya bertanya.

Benar lanjutnya lagi, konflik harimau dan manusia tidak dapat dihindarkan sebagai akibat dari penggunaan sumberdaya yang sama. Namun konflik manusia dan harimau bukan hanya berhubungan dengan keselamatan manusia, tetapi juga harimau itu sendiri.

"Dan ini merugikan semua pihak," pungkasnya.

Simak berita terbaru Tribunjambi.com di Google News

Tonton Video Pelaku Pernikahan Sesama Jenis di Jambi Gaet Korbannya Via Aplikasi Ini

Baca juga: Polres Sarolangun Ungkap Kasus Kriminal, Selama Operasi Sebulan Terakhir

Baca juga: Dewi Perssik Singgung Soal Terluka: aku tidak mau membuka luka itu lebih lebar

Baca juga: Taman Selaras Pinang Masak Muara Sabak Kurang Terawat dan Sepi Pengunjung

Sumber: Tribun Jambi
BERITATERKAIT
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved