Harga Minyak Nabati Dunia Melejit, Dampak Jokowi Larang Ekspor CPO

Keputusan Presiden Joko Widodo melarang ekspor minyak sawit mendorong harga minyak nabati ke level tertinggi baru.

Youtube skretariat Presiden
Presiden Joko Widodo mengumumkan larangan ekspor ekspor minyak goreng. 

TRIBUNJAMBI.COM, PARIS/NEW YORK- Keputusan Presiden Joko Widodo melarang ekspor minyak sawit mendorong harga minyak nabati ke level tertinggi baru.

Ini jelas semakin membuat runyam pasar dunia yang sudah terancam akibat perang di Ukraina dan pemanasan global, seperti laporan Straits Times, Sabtu (30/4/2022).

Harga sawit, kedelai, minyak lobak Eropa dan bahkan mitra transgeniknya dari Kanada, minyak canola, mencapai rekor tertinggi dalam sejarah setelah pengumuman larangan ekspor CPO Indonesia hari Rabu (27/4/2022).

"Kami sudah mengalami masalah dengan kedelai di Amerika Selatan dan kanola di Kanada," ujar Prof Philippe Chalmin, seorang profesor ekonomi di Universitas Paris-Dauphine di Prancis, yang menyatakan kedua tanaman tersebut sangat terpengaruh oleh kekeringan yang berkepanjangan.

Kemudian datang kehancuran dari bencana "bunga matahari di Ukraina" akibat serangan Rusia, tambahnya.

Minyak sawit adalah minyak nabati yang paling banyak dikonsumsi di dunia, dan Indonesia menyumbang 35 persen dari ekspor global, menurut Mr James Fry, ketua perusahaan konsultan LMC.

Diketahui larangan ekspor CPO Indonesia dirancang untuk menurunkan harga di dalam negeri dan mengatasi kelangkaan, menurut Presiden Indonesia Joko Widodo saat mengumumkan kebijakannya.

Baca juga: Langkah Jokowi Larang Ekspor CPO Dinilai Sudah Tepat

Namun, Prof Chalmin mengatakan langkah itu "datang pada saat yang paling buruk".

Ia juga menekankan, "Kenaikan harga sudah terjadi sejak tahun lalu dan diperparah oleh konflik Ukraina."

Rich Nelson dari riset pasar pertanian dan perusahaan perdagangan Allendale mengatakan "industri percaya itu akan berlangsung mungkin selama satu bulan, mungkin dua (bulan),".

Tetapi sementara itu, harga telanjur meroket di pasar yang harganya "sudah melonjak", katanya.

Ilustrasi Harga TBS Kelapa Sawit di Provinsi Jambi Terbaru
Ilustrasi--pekerja di kebun sawit (Berry Subhan Putra/Kompas.com)

Tidak seperti biji minyak lainnya, buah sawit tidak disimpan begitu dipetik dan harus segera diproses, kata Pak Fry.

Sistem penyimpanan minyak sawit Indonesia, yang memiliki cadangan yang cukup besar, kini berada di bawah tekanan lebih lanjut, katanya.

Baca juga: Larangan Ekspor Sampai Minyak Curah Turun Rp14 Ribu/Liter

Lingkaran setan

Halaman
123
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved