Rabu, 15 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Renungan Kristen

Renungan Harian Kristen - Kasih Allah Itu Abadi, Mengatasi Waktu

Bacaan ayat: Mazmur 89:3 (TB) Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit.

Editor: Suci Rahayu PK
Instagram Kasih Kristen
Ilustrasi renungan Kristen 

Kasih Allah Itu Abadi, Mengatasi Waktu

Bacaan ayat: Mazmur 89:3 (TB) Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit.

Oleh Pdt Feri Nugroho

Pdt Feri Nugroho
Pdt Feri Nugroho (Instagram @ferinugroho77)

Sepasang muda mudi jatuh cinta. Mereka sepakat untuk saling terikat dalam ikatan pacaran.
Bunga cinta mekar. Sehari rasanya setahun jika tidak berkomunikasi atau sekedar bertukar kabar. Cinta kasih bersemi dalam pengenalan yang semakin intens.

Masing-masing ingin memperlihatkan cintanya dengan memberikan yang terbaik. Pengenalanpun bertumbuh. Mulai mengenal karakter dan kepribadian masing-masing. Beberapa perbedaan mulai mengganggu relasi.

Masing-masing mempunyai argumentasi yang baik untuk pendapatnya. Sikap memaksakan kehendak menjadi letupan kecil yang mulai merenggangkan relasi.

Seiring waktu, letupan berkembang menjadi ledakan.

Konfrontasi tidak segan dipilih untuk memperlihatkan superioritas.

Tiba-tiba mereka tersadar: dimana cinta kasih yang mula-mula tumbuh? Dimana kehangatan yang semula ada?

Dimana bunga cinta indah yang pernah mekar kala itu? Tiba pada satu titik, untuk putus hubungan pacaran.

Anehnya, setiap jumpa, entah sengaja atau tidak, justru sakit hati dan benci yang muncul.

Baca juga: Renungan Harian Kristen - Hidup Taat Karena Percaya

Itulah sekelumit cerita tentang kasih yang dialami manusia. Kasih yang tumbuh dalam kuasa rasa. Bergelora sesaat dalam sukacita, namun redup ketika badai kehidupan datang.

Kasih yang hanya berfokus pada diri sendiri; entah itu kepentingan, pelarian, atau sekedar pemuasan semata. Malu jika disebut jomblo, maka yang penting tidak jomblo meskipun berantem melulu adanya.

Kasih menjadi bersyarat. Ketika menjawab pertanyaan: Mengapa kamu berpacaran dengan dia?

Jawabnya, "Karena dia menerima aku apa adanya; karena dia mengerti aku, memahami aku, baik padaku... ", aku dan aku, itulah yang selalu menjadi fokus.
Ketika apa yang dipikir telah tidak didapat lagi, kasih pun mulai pudar; luntur lalu menghilang. Ironisnya, beberapa justru berubah menjadi kebencian.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved