Siapa Sebenarnya Rudy Badil, Anggota Warkop DKI Selain Dono Kasino Indro Teman Dekat Soe Hok Gie
Sebenarnya anggota awal Warkop DKI selain Dono, Kasino dan Indro, ada Rudy Badil dan Nanu Mulyono. Tapi Rudy lebih dikenal sebagai kawan Soe Hok Gie
Sebenarnya anggota awal Warkop DKI selain Dono, Kasino dan Indro, ada Rudy Badil dan Nanu Mulyono. Tapi Rudy lebih dikenal sebagai kawan Soe Hok Gie, Mapala Universitas Indonesia dan wartawan Kompas. Siapa sebenarnya Rudy Badil?
BANYAK yang belum mengetahui Warkop DKI awalnya bukan hanya Kasino, Dono dan Indro.
Ada sosok Rudy Badil yang berpulang beberapa waktu lalu.
Rudy Badil merupakan satu di antara pendiri grup lawak legendaris itu.
Memang, selain Dono, Kasino dan Indro, ada sosok Nanu Mulyono dan Rudy Badil yang merupakan generasi awal Warkop DKI.
Nama Nanu masih kerap terdengar di dunia hiburan. Namun Rudy Badil surut, karena undur diri dari dunia lawak.
Selepas lulus dari Fakultas Sastra Anthropologi Universitas Indonesia, teman Soe Hok Gie ini memilih jalannya sebagai wartawan dan pecinta alam.
Rudy Badil dikenal sebagai wartawan senior di Harian Kompas, yang telah melanglang buana selama 32 tahun hingga pensiun pada 2006.
Siapa sebenarnya Rudy Badil?
Sebelum menelusuri jejak Rudy Badil, sebaiknya melihat kilas sejarah terbentuknya Warkop DKI lebih dahulu.
Awalnya, Warkop DKI bernama Warkop Prambors. Grup ini juga kemudian dikenal sebagai Trio DKI yang merupakan grup lawak.
Grup ini dibentuk Nanu (Nanu Mulyono), Rudy (Rudy Badil), Dono (Wahjoe Sardono), Kasino (Kasino Hadiwibowo) dan Indro (Indrodjojo Kusumonegoro).
Nanu, Rudy, Dono dan Kasino merupakan mahasiswa Universitas Indonesia (UI), Jakarta. Sedangkan Indro kuliah di Universitas Pancasila, Jakarta.
Di situs wikipedia dituliskan, mereka pertama kali meraih kesuksesan lewat acara Obrolan Santai di Warung Kopi garapan dari Temmy Lesanpura, Kepala Bagian Programming Radio Prambors.
Acara lawakan itu hadir setiap Jumat malam antara pukul 20.30-21.15 WIB, disiarkan radio Prambors yang bermarkas di kawasan Mendut, Prambanan, Borobudur, alias Menteng Pinggir.
Dalam acara obrolan itu, Rudi Badil sering berperan sebagai Mr James dan Bang Cholil.
Indro yang berasal dari Purbalingga berperan sebagai Mastowi (Tegal), Paijo (Purbalingga), Ubai atau Ansori.
Kasino yang asli Gombong perannya bermacam-macam, bisa Mas Bei (Jawa), Acing/Acong (Tionghoa), Sanwani (Betawi) dan Buyung (Minang).
Nanu yang asli Madiun sering berperan sebagai Poltak (Batak).
Sementara itu Dono berperan sebagai Slamet (Jawa).
Warkop dan demam panggung
Ide awal obrolan Warkop Prambors berawal dari senior di radio Prambors, Temmy Lesanpura.
Saat itu, Radio Prambors meminta Hariman Siregar, mahasiswa senior UI, untuk mengisi acara di Prambors. (Hariman kemudian hari dikenal sebagai tokoh peristiwa Malari 1974).
Hariman pun menunjuk Kasino dan Nanu, sang pelawak di kalangan kampus UI untuk mengisi acara ini. Ide ini pun segera didukung oleh Kasino, Nanu dan Rudy Badil, lalu disusul oleh Dono dan Indro.
Rudy Badil yang semula ikut Warkop saat masih siaran radio, tak berani ikut Warkop dalam melakukan lawakan panggung, karena demam panggung (stage fright).
Begitu juga Dono.
Awalnya saat manggung, Dono harus mojok dulu beberapa menit karena masih malu dan takut. Setelah beberapa menit, barulah Dono mulai ikut berpartisipasi dan mulai kerasan, hingga akhirnya terus menggila hingga akhir durasi lawakan.
Fakta lain tentang awal terbentuknya Warkop, tentang Indro.
Indro merupakan anggota termuda. Saat anggota Warkop yang lain sudah menduduki bangku kuliah, dia masih pelajar SMA.
Pesta SMA IX
Warkop pertama kali muncul di pesta perpisahan (sekarang prom nite) SMA IX Jakarta yang diadakan di Hotel Indonesia.
Kala itu semua personel gemetar, alias demam panggung. Dan hasilnya hanya bisa dibilang lumayan saja, tidak terlalu sukses.
Pada peristiwa pada 1976 itulah pertama kali Warkop menerima honor berupa uang transport sebesar Rp 20.000.
Uang itu dirasakan para personel Warkop besar sekali. Namun, akhirnya habis untuk mentraktir makan teman-teman mereka.
Berikutnya, mereka manggung di Tropicana.
Sebelum naik panggung, kembali seluruh personel komat-kamit dan panas dingin, tetapi ternyata hasilnya kembali lumayan.
Baru pada acara Terminal Musikal (asuhan Mus Mualim), grup Warkop Prambors baru benar-benar lahir sebagai bintang baru dalam dunia lawak Indonesia.
Acara Terminal Musikal sendiri tak hanya melahirkan Warkop tetapi juga membantu memperkenalkan grup PSP, yang bertetangga dengan Warkop.
Sejak itulah honor mereka mulai meroket, sekitar Rp 1.000.000 per pertunjukan atau dibagi empat orang, setiap personel mendapat Rp 250.000.
Mereka juga jadi dikenal lewat nama Dono-Kasino-Indro atau DKI (yang merupakan plesetan dari singkatan Daerah Khusus Ibukota).
Pengambilan nama DKI karena nama mereka sebelumnya Warkop Prambors memiliki konsekuensi tersendiri.
Selama mereka memakai nama Warkop Prambors, maka mereka harus mengirim royalti kepada Radio Prambors sebagai pemilik nama Prambors. Maka itu kemudian mereka mengganti nama menjadi Warkop DKI, untuk menghentikan praktik upeti itu.
Itulah sosok Rudy Badil personel Warkop yang juga teman Soe Hok Gie. (Tribunjambi/sud)
Baca juga: Daftar Lengkap 34 Film Warkop DKI 1979-1984 dari Mana Tahaaan s/d Pencet Sana Pencet Sini
Baca juga: Kecantikan Istri Dono Warkop DKI yang Tak Diketahui Orang, Foto Lawasnya Beredar
Baca juga: Siapa Sebenarnya Titi Kusumawardhani, Istri Dono Warkop DKI yang Jarang Diketahui Orang