Berita Tanjabtim
Harga Kelapa Dalam di Tanjabtim Perlahan Turun, Petani Masih Optimis Permintaan Tinggi
Berita Tanjabtim-Harga kelapa dalam di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) mengalami penurunan, namun para petani mengaku
Penulis: Abdullah Usman | Editor: Nani Rachmaini
TRIBUNJAMBI.COM, MUARA SABAK - Harga kelapa dalam di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) mengalami penurunan, namun para petani mengaku permintaan kelapa masih tinggi, Senin (29/11/21).
Harga kelapa dalam sebelumnya, berada diangkat Rp 2.800 per kilogram, namun sejak beberapa pekan terakhir harga kelapa mengalami penurunan menjadi Rp 2.650 per kilogram.
Salah satu penampung kelapa dalam di Desa Majelis Hidayah, Kecamatan Kuala Jambi, Rohim mengatakan, bahwa turunnya harga kelapa ini sudah terjadi sejak beberapa Minggu terakhir ini. Hal itu terjadi karena beberapa faktor, seperti saat ini buah kelapa sedang banjir dan lain-lain.
"Selain itu, saat ini kapal yang membawa kelapa itu masih antri, jadi berpengaruh terhadap harga kelapa," katanya.
Dijelaskan Rohim, turunnya harga kelapa menjadi Rp 2.650 per kilogram itu, tidak berpengaruh terhadap permintaan.
Sampai saat ini untuk permintaan kelapa dalam masih terbilang tinggi, namun sesuai dengan permintaan pembeli meminta kelapa dengan kualitas yang bagus.
"Sekarang mereka cuma minta yang bagus. Kalau tidak ada yang bagus, mereka tidak mau. Memang sekarang untuk permintaan banyak, tapi untuk kelapa yang bagus saja," jelasnya.
Pembeli tidak mau mengambil jika kelapa dalam kondisi lembab maupun basah. Karena kelapa yang lembab atau basah bisa berpengaruh terhadap kelapa yang lain atau kelapa yang bagus, sehingga dapat mengakibatkan kelapa menjadi berjamur. Makanya mereka menolak jika ada kelapa yang lembab atau basah.
"Pembeli tidak mau mengambil resiko. Karena bisa berdampak dengan kelapa yang bagus. Jika kelapa berjamur, maka kelapa tidak bagus lagi," ungkapnya.
Terkait hal itu, Dirinya selaku penampung kelapa tidak akan dirugikan dengan aturan yang dibuat pembeli tersebut. Pasalnya, pihaknya membeli kelapa dari petani rata-rata dengan sistem timbang bukan per butir. (usn)
Baca juga: Kerjasama Jalur Ekspor Kelapa Tanjabtim-Tanjabbar-Inhil Menjadi Peran Penting Pengendalian Pasar
Baca juga: Warga Tanjabbar Keluhkan Pengolahan Kelapa di Gudang Alo Pakai Batu Bara, Asap Cemari Lingkungan