Selasa, 12 Mei 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Militer Indonesia

Jenderal Pentagon Terpukau Aksi Kopassus Sebagai Pasukan Elite Terbaik

kisah jenderal Pentagon yang menyaksikan aksi Kopassus atau Komando Pasukan Khusus dalam aksi yang memukau.

Tayang:
Editor: Heri Prihartono
Tangkapan Layar Chanel Top Info
Ilustrasi Snipper Kopassus yang beraksi. 

TRIBUNJAMBI.COM - Berikut kisah jenderal Pentagon yang menyaksikan aksi Kopassus dalam aksi yang memukau.

Kopassus adalah Komando Pasukan Khusus yang merupakan pasukan elite kebanggaan Indonesia.

Sebelumnya yuk simak sekilas penjelasan tentang Kopassus,

Ketika tahun 1980-an ABRI/TNI hendak membentuk pasukan khusus yang antara lain memiliki kemampuan antiteror.

Dari berbagai referensi yang diperoleh TNI pun melihat beberapa pasukan yang dinilai cocok.

Di antaranya Pasukan khusus dari Jerman (GSG-9), Inggris (SAS), pasukan khusus antiteror Angkatan Laut Prancis, dan pasukan khusus Korea Selatan.

Satuan-satuan pasukan elite terbaik dunia yang banyak mempengaruhi pembentukan pasukan khusus di lingkungan TNI seperti, Kopassus, Denjaka dan Kopaska serta Paskhas.

Strategi pelatihan pasukan khusus dari sejumlah negara itu kemudian direkomendasikan oleh Asisten Intelijen Hankam/Kepala Pusat Intelijen Strategi Letjen TNI LB Moerdani.

Benny minta secepatnya  pembentukan pasukan khusus TNI di kesatuan Kopassus.

Berbagai teknik yang diramu dari berbagai ‘aliran’ pasukan khusus itu, diyakini mampu membentuk tiap personel pasukan khusus TNI menjadi pasukan tempur yang sangat profesional.

Profesional yang dimaksud Letjen Benny yakni tiap personel pasukan khusus yang sudah terlatih.

Di antaranya  melaksanakan misinya hingga tuntas meski hanya bermodal peralatan dan persenjataan yang sangat terbatas.

Kehebatan pasukan khusus tidak ditentukan oleh teknologi yang digunakan dalam pertempuran.

Namun pada kemampuan personel dalam penguasaan ilmu beladiri, penggunaan senjata tajam.

Kopassus juga digembleng dengan ketrampilan penggunaan senjata api yang tidak dilengkapi teknologi serba canggih.

Demi mencetak pasukan khusus yang dalam misi tempurnya tidak terlalu tergantung pada teknologi, Letjen LB Moerdani melarang pasukan-pasukan khusus AS untuk dipergunakan sebagai referensi.

pasukan khusus AS seperti Green Berets, Navy Seal, Delta Force, SWAT, dan lainnya memang selalu tergantung kepada teknologi militer untuk mendukung operasi tempurnya.

Saat melakukan pertempuran malam hari, semua pasukan khusus AS sangat tergantung kepada teropong pelihat malam (Night Vision Google/NVG).

Dengan menggunakan teropong seperti ini tentara Amerika Serikat bisa melihat targetnya dalam gelap.

Bagi Kopassus, untuk melihat dalam gelap tidak perlu NVG.

Pasukan khusus TNI AD telah dibekali ilmu beladiri pernapasan Merpati Putih sehingga bisa ‘melihat’ dalam gelap.

Setiap prajurit Kopassus juga sanggup  menembak tepat layaknya sniper tanpa dibantu oleh teropong dalam jarak minimal 300 meter.

Berbeda dengan  pasukan khusus AS umumnya bisa melakukannya dengan bantuan teropong.

Berkat kemampaun pasukan khusus Indonesia yang tiap personelnya menguasai ilmu beladiri dan tenaga dalam itu, sesungguhnya telah membuat para jenderal di markas besar militer AS, Pentagon kagum.

Jenderal di Pentagon yakin, pasukan khusus Indonesia menguasai ‘ilmu hantu’, sementara pasukan khusus AS sama sekali asing dengan ilmu kebatinan tersebut.

Jika dalam latihan bersama para pasukan khusus TNI mulai menerapkan ilmu kanuragannya (beladiri dan tenaga dalam).

Misalnya saat makan beling sewaktu mempraktekkan ilmu debus, benar-benar membuat para pasukan khusus AS sama sekali tak berkutik.

Masuk akal jika dalam pertempuran melawan pasukan khusus TNI, para pasukan khusus AS yang bertempur tanpa menggunakan teknologi militer canggihnya, bisa dengan mudah dikalahkan. (*)

Berita lainnya seputar Kopassus

Sumber:

Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando, PBK, 2009

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved