3 Permintaan Soeharto pada Ratna Sari Dewi di Akhir Kekuasaan Soekarno

Artikel ini membahas tentang kisah Soeharto dan pertemuannya dengan Ratna Sari Dewi di akhir kekuasaan Soekarno

Editor: Heri Prihartono
Istimewa
Dewi Soekarno istri dari Bung Karno 
TRIBUNJAMBI.COM - Ratna Sari Dewi atau yang kerap dipanggil Dewi Soekarno diperistri Bung Karno pada tahun 1962.

Ratna Sari Dewi  adalah seorang wanita asal Jepang yang kemudian diboyong Bung Karno ke Indonesia.

Artikel ini mengupas peran  Naoko Nemoto jelang kejatuhan Soekarno dan mulai naiknya Soeharto menjadi penguasa Indonesia.

Naoko Nemoto atau yang dikenal dengan  Dewi Soekarno merupakan wanita diantara pergolakan politik jelang kejatuhan Soekarno.

Sebelum kejatuhan Soekarno benar-benar terjadi, Dewi Soekarno sendiri sempat diperingatkan oleh Soeharto.

Dia  diberi tiga pilihan demi kebaikan Soekarano.

Menurut penulis Jepang, Aiko Kurasawa terdapat seorang perempuan Jepang yang hadir di tengah pergolakan politik dan limbungnya kekuasaan Soekarno pasca-peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang dikenal dengan tragedi G30 S PKI.

Sosok penting itu adalah Ratna Sari Dewi, yang diperistri oleh Soekarno pada tahun 1962.

Dalam buku yang berjudul Peristiwa 1965: Persepsi dan Sikap Jepang, Aiko pun menulis bahwa perempuan yang dikenal dengan nama Dewi Soekarno berusaha melakukan berbagai upaya rekonsiliasi antara Soekarno dan Angkatan Darat.

Bahkan wanita itu  rela pergi ke Jepang, untuk bertemu dengan Perdana Menteri Sato pada 6 Januari 1966 untuk meminta dukungan bagi Soekarno.

"Namun, saat itu, Pemerintah Jepang telah memutuskan untuk berada di sisi Soeharto, dan secara bertahap meninggalkan Soekarno," kata Aiko dalam diskusi di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (10/3/2016).

Dalam periode tahun 1965, Jenderal M Jusuf mendatangi Dewi sambil mengatakan bahwa dia diutus oleh Soeharto.

Jusuf prihatin dengan posisi Soekarno yang dikelilingi oleh Soebandrio dan Hartini yang pro-PKI.

Dia minta kepada Dewi untuk membujuk suaminya agar menyerahkan kekuasaan politik kepada Soeharto secara damai, dengan sepenuhnya tetap menyandang status sebagai presiden.

Jusuf berkata, hanya Dewi yang sekarang dapat membujuk seorang Soekarno.

Pasca-Supersemar, menurut Aiko, Dewi pun belum sadar sama sekali atas seriusnya dampak Supersemar terhadap kekuasaan Soekarno.

Dewi juga begitu gembira dengan pelarangan terhadap PKI dan penahanan terhadap Soebandrio.

Pada tanggal 15 Maret 1966, Dewi  ikut merencanakan jamuan makan malam untuk merayakan pelarangan terhadap PKI.

Sayang  acara tersebut dibatalkan karena Soekarno marah besar ketika mendengar rencana itu.

Aiko juga bercerita, pada tanggal 20 Maret 1966, Soeharto pernah bermain golf dengan Dewi.

Menurut pemberitaan media Jepang, Asahi Shimbun, tanggal 23 Maret 1966, saat bermain golf, Soeharto mengusulkan tiga opsi terkait nasib Soekarno.

Pertama, pergi ke luar negeri untuk beristirahat.

Kedua, tetap tinggal sebagai presiden sebulan saja.

Ketiga, mengundurkan diri secara total.

Soeharto menyarankan  opsi pertama dan menyarankan Jepang atau Mekkah sebagai tempat peristirahatan.

"Belakangan, Dewi memberikan kesaksian kepada saya bahwa begitu mendengar tiga opsi saran Soeharto itu, Dewi menyadari bahwa ia dan suaminya telah kalah dalam pertandingan ini," tulis Aiko.

Bu Tien Marah Besar

Ibu Tien saat itu marah besar ketika tahu suaminya Soeharto bertemu dengan istri Soekarno

Peristiwa G30S 1965 benar-benar mengubah kestabilan politik dan keamanan negara Indonesia.

 Soekarno jadi ikut bertanggung jawab atas peristiwa pemberontakan PKI itu.

Sampai turun Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) yang kontroversial tersebut.

Dalam isian Supersemar, Soekarno selaku presiden Republik Indonesia menginstruksikan agar Pangkopkamtib Mayjen Soeharto agar mengambil tindakan yang dianggap perlu untuk mengatasi situasi keamanan dalam negeri yang buruk kala itu.

Berbekal instruksi tersebut, Soeharto  bergerak melaksanakan perintah pemulihan keamanan.

Orang yang dianggap dekat dengan Bung Karno pun ditanyai perihal G30S oleh Soeharto.

Termasuk  istri Soekarno yang berasal dari Jepang, Ratna Sari Dewi Soekarno.

 Soeharto tahu tak akan mudah bertemu dengan Dewi Soekarno lantaran dirinya bak primadona Indonesia kala itu terlebih dirinya istri presiden.

Jadi Soeharto sangat hati-hati dalam bertindak.

Maka disuruhnya Brigjen TNI Yoga Sugomo selaku asisten I (Intelijen) Kostrad bersama dengan Martono yang kelak menjadi Menteri Transmigrasi era Orde Baru merancang pertemuan dengan Dewi Soekarno.

 Soeharto dan Ratna Sari Dewi akan bertemu di lapangan golf Rawamangun, Jakarta Timur.

"Tidak mudah mengatur pertemuan itu karena Dewi adalah istri presiden. Oleh karena itu, diusulkan agar pertemuan dilakukan secara tidak resmi. Rencananya, Soeharto akan bertemu dengan Dewi di lapangan golf," kata Yoga yang dicukil dari biografinya, Jenderal Yoga : Loyalis di Balik Layar.

Tujuan pertemuan itu menggali informasi kebijakan juga kegiatan Soekarno sebelum detik-detik G30S terjadi.

Bertemulah keduanya di lapangan golf Rawamangun pada 20 Maret 1966.

Dewi kala itu tak sadar jika pertemuan dengan Soeharto amatlah penting.

Dirinya awalnya yakin Supersemar dapat mengendalikan situasi serta kepemimpinan Soekarno akan terus langgeng di Indonesia.

Saat pertemuan dengan Soeharto tersebut Dewi menyadari kepemimpinan Soekarno sudah habis dan kalah.

"Belakangan Dewi memberi kesaksian kepada saya bahwa begitu mendengar tiga opsi saran Soeharto itu, dia baru menyadari bahwa dia dan suaminya telah kalah dalam permainan," kata Aiko Kurasawa seorang sejarawan asal Jepang.

Jika Soeharto memberikan tiga pilihan kepada Soekarno maka lain pula nasibnya ketika harus berhadapan dengan istrinya, Siti Hartinah atau ibu Tien Soeharto.

Ibu Tien ternyata  tahu jika Soeharto bertemu secara diam-diam dengan Dewi Soekarno, ia dibakar api cemburu.

 Ibu Tien mendiamkan Soeharto beberapa hari lantaran ulah suaminya itu.

"Aduh, buat apa sih dipertemukan segala. Itu Bu Harto jadi marah," kata Probosutedjo, adik Soeharto.

Soekarno juga mengetahui pertemuan tersebut dan marah karena mengira Soeharto hendak menculik Ratna Sari Dewi.

"Tidak jelas mengapa rencana yang sudah diatur sangat rahasia itu bocor. Tentu saja, info tersebut sampai kepada presiden dengan penafsiran yang sudah keliru," kata Yoga Sugomo.

(Tribunjambi.com).

Berita lainnya seputar Soeharto

 
 
 
 
 
Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved