Breaking News:

Densus 88 Turun ke Garut, Selidiki Puluhan Anak Muda yang Dibaiat Kelompok Radikal NII

Sebanyak 59 remaja di Garut, Jawa Barat, diduga dibaiat oleh kelompok Negara Islam Indonesia (NII).

KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELI
Anggota Densus 88 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Puluhan remaja di Garut, Jawa Barat, dikabarkan telah dibaiat oleh kelompok Negara Islam Indonesia (NII).

Saat ini Polres Garut hingga masih mendalami kasus tersebut untuk mengetahui apakah kelompok tersebut menyebarkan aliran intoleransi dan radikalisme.

"Saat ini masih dilakukan pendalaman secara kolaboratif, kemudian melibatkan juga unsur dari MUI, termasuk KPAI, dari Kesbangpol, P2TP2A,” ujar Kapolres Garut AKBP Wirdhanto Hadicaksono seperti dikutip dari tayangan Sapa Indonesia Akhir Pekan KOMPAS. TV, Sabtu (9/10/2021).

“Ini masih dalam pendalaman kami, apakah memang ini adalah terpapar terhadap aliran-aliran intoleransi dan radikalisme, sehingga tentunya harus betul-betul pasti dulu, kira-kira seperti apa,” tambahnya.

Tak hanya itu, Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri juga ikut diturunkan untuk menyelidiki informasi baiat yang dilakukan kelompok NII.

“Kita sudah monitor kejadian ini dan sedang mengumpulkan informasi lebih detail,” kata Kepala Bagian (Kabag) Bantuan Operasi Densus 88 Antiteror Polri Kombes Pol Aswin Siregar, Kamis (7/10/2021).

Ramainya kasus tersebut menggiring publik pada sebuah pertanyaan, mengapa kelompok semacam NII kerap menyasar anak muda sebagai kader-kadernya?

Baca juga: Alasan Fadli Zon Minta Densus 88 Dibubarkan, Kompolnas: Itu Menyesatkan dan Berbahaya

Baca juga: Kementerian BUMN Angkat Bicara Setelah Pegawai Kimia Farma Ditangkap Densus 88

Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Masduki Baidlowi mengatakan bahwa anak muda cenderung menyukai cara beragama secara sederhana dan hitam putih.

“Pertama karena tadi itu, logikanya sangat hitam putih. Anak-anak ini, rata-rata itu punya kecenderungan secara psikologis untuk beragama itu secara simpel. Kalau nggak boleh, ya boleh. Kalau nggak halal, ya haram, seperti itu,” jelas Masduki dalam Sapa Indonesia Akhir Pekan KOMPAS TV, pagi tadi.

“Jadi tidak ada detail. Padahal agama itu lebih banyak di detail itu, bukan di hitam putihnya,” sambungnya.

Menurut Masduki, memahami secara mendalam justru butuh belajar di bagian-bagian detailnya. Termasuk memahami hubungan antara keagamaan dengan kenegaraan.

Dari kecenderungan berpikir anak muda tersebut, kelompok seperti NII masuk dan bermain di ranah praktisnya saja.

“Nah di situlah dia main di yang praktis, yang simpel, yang disukai anak muda,” jelas Masduki.

Senada dengan Masduki, pengamat terorisme Ridwan Habib menjelaskan bahwa anak-anak yang mudah terpapar paham radikalisme rata-rata memiliki masalah internal dalam dirinya.

“Rata-rata mereka mengalami problem internal, mungkin tidak harmonis dengan keluarganya, atau mahasiswa yang tinggal di perantauan,” ungkap Ridwan.

Untuk melawan paham-paham intoleransi dan radikalisme, Masduki mengusulkan untuk mengajari anak cara berpikir mendetail dan bukan hitam-putih saja, khususnya saat mendalami masalah keagamaan.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Puluhan Remaja di Garut Diduga Dibaiat NII, Densus 88 Turun Tangan.

Sumber: Tribunnews
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved