Breaking News:

Pimpinan MPR Sebut KKB di Papua Bisa Diatasi dengan Cara Gus Dur

Keberadaan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua makin meresahkan. Kasus pembunuhan dan pembakaran terus terjadi.

Editor: Teguh Suprayitno
Istimewa via TribunPapua
Ilustrasi sejumlah anggota Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua tampak membawa senjata. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA-Hingga saat ini Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua masih belum bisa ditumpas, meski ratusan aparat dari berbagai kesatuan telah dikerahkan.

Kasus pembunuhan dan pembakaran terus terjadi. Banyak warga sipil, aparat dan kelompok KKB menjadi korban.

Yang terbaru, kontak senjata antara personel TNI Satgas Pamtas 403/WP dengan KKB terjadi di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, pada Senin (13/9/2021).

Dalam kontak tembak itu dilaporkan satu anggota Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan Indonesia-PNG dari Batalion Infantri 403/WP terluka di bagian lengan kanan akibat terkena pecahan peluru, beruntung kondisinya stabil.

Namun, kelompok bersenjata itu membakar fasilitas umum di sana, di antaranya puskesmas, kantor kas BPD Papua, dan gedung sekolah dasar.

Meurut Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid, salah satu cara menumpas kelompok bersenjata ini, yaitu  TNI dan Polri harus memutus  jaringan penyuplai senjata bagi kelompok bersenjata tersebut. 

"Menurut saya akar (persoalan) yang harus kita cari, salah satunya adalah jejaring mereka harus diputus, termasuk jaringan untuk mendapatkan senjata," ujar Jazilul dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, (14/9/2021).

Baca juga: Pangdam XVIII Kasuari: Kalau KKB Berani Gebrak Meja, Kita Hancurkan

Baca juga: Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo Jadi Sorotan Politisi PAN Jelang Pilpres 2024

Gus Jazil, sapaanya, mengatakan itu terkait kejadian kontak senjata antara personel TNI Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan Indonesia-PNG dari Batalion Infantri 403/WP dengan kelompok bersenjata itu di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, Senin (13/9).

Ia menyayangkan kontak senjata terjadi, yang menyebabkan anggota TNI tertembak dan ada fasilitas umum setempat dibakar.  "Saya harap pendekatan yang dilakukan untuk mengatasi konflik di Papua lebih holistik dan lebih canggih sehingga KKB di Papua dapat ditumpas hingga ke akar-akarnya," katanya.

Menurut dia, konflik yang berkepanjangan dan selalu berulang di Papua menunjukkan kurang canggihnya aparat dalam pemetaan lapangan sekaligus memitigasi dan mengantisipasi setiap gerakan kelompok bersenjata itu.

Satgas Nemangkawi di Kali Yegi, Distrik Dekai untuk mencari pekerja PT Indo Papua yang melarikan diri dari KKB, Yahukimo, Papua, Senin (23/8/2021).
Satgas Nemangkawi di Kali Yegi, Distrik Dekai untuk mencari pekerja PT Indo Papua yang melarikan diri dari KKB, Yahukimo, Papua, Senin (23/8/2021). ((Dok Humas Polda Papua))

Ia mencontohkan, dalam hal suplai dan jenis senjata yang mereka pakai, tidak mungkin senjata yang dipakai diproduksi di Papua.

"KKB bukan kelompok yang terlalu besar, semestinya TNI yang sedemikian besar bisa menumpas ini sampai ke akar-akarnya sehingga tidak terus muncul setiap tahun, setiap musim. Salah satunya mencari otak dan penyuplai senjata darimana mereka mendapatkan senjatanya," katanya.

Selain itu, dia menilai dalam menangani persoalan di Papua harus dilakukan dengan pendekatan lain yaitu kemanusiaan, kebudayaan, dan kesejahteraan.

Menurut anggota Komisi III DPR itu, pendekatan itu pernah dilakukan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Berita ini telah tayang di KompasTV

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved