Sahabat Rasulullah

Kemarahan Sahabat Nabi kepada Kerabatnya Ini Jadi Sebab Turunnya Ayat 74 Surah At Taubah

Keluarga dekatnya itu menghina Rasulullah dengan perkataan tak pantas. Saat itu Umair bin Saad sudah memeluk Islam, sedangkan Jullas belum berislam.

Penulis: Deddy Rachmawan | Editor: Deddy Rachmawan
Freepik
Ilustrasi Alquran 

TRIBUNJAMBI.COM  -  Pada suatu ketika sahabat Nabi Umair bin Saad ra marah besar.

Ia marah kepada kerabatnya sendiri yang bernama Jullas bin Suwait bin Shamit.

Keluarga dekatnya itu menghina Rasulullah dengan perkataan tak pantas. Saat itu Umair bin Saad sudah memeluk Islam, sedangkan Jullas belum berislam.

Meski Jullas adalah keluarganya, namun Umair bin Saad merasa Rasulullah lebih layak dibela.

Di situlah Umair bin Saad membuktikan keislamannya.Kepada Jullas ia akhirnya mengatakan sikapnya dengan tegas.

“Wahai Jullas, demi Allah, sesungguhnya engkau adalah orang yang paling aku cintai, orang yang paling baik di sisiku dan paling tidak aku sukai jika engkau mengalami sesuatu yang tidak kau sukai.” Ujarnya.

Umari melanjutkan, “Akan tetapi engkau telah mengucapkan suatu kalimat yang andai disebarkan pastilah hal itu akan menyakitimu dan jika aku diamkan rusaklah agamaku. Sungguh hak agama itu lebih layak untuk dipenuhi dan aku harus menyampaikan yang kau katakan itu kepada Rasulullah.”

Begitulah ketegasan Umair terhadap akidahnya.Sikap yang membuktikan kecintaanya pada Allah dan Rasulullah.

Dari peristiwa inilah kemudian turun ayat 74 dari surah At Taubah.

Peristiwa ini menjadi asbabun nuzul ayat tersebut.

Ayat tersebut artinya: Mereka (orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakiti Muhammad). Sungguh, mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir setelah Islam, dan menginginkan apa yang mereka tidak dapat mencapainya; dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), sekiranya Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertobat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di bumi.

Ucapan Umair ini kelak dipuji oleh Nabi Muhammad saw.

Dan akhirnya Jullas bertobat dan mengakui salah. Ia kemudian menjadi muslim yang baik.

Baca juga: Kisah Sahabat Nabi, Saat Khalid bin Said Belum Bersedia Membaiat Abu Bakar Sebagai Khalifah

Baca juga: Sahabat Nabi yang Tak Menyadari Sedang Menyaksikan Mukjizat Rasulullah

Baca juga: Minta Salat Sebelum Disalib, Khubaib bin Adi Sahabat Nabi yang Burung pun Enggan Merusak Jasadnya

Saat mendengar kisah Umair dan Jullas ini Rasulullah kemudian memegang telinganya dan bersabda di dekatnya.

 “Wahai anak muda, telingamu telah memenuhi janji dan Tuhanmu telah membenarkanmu.”

Khalid Muhammad Khalid dalam bukunya menyebut, bahwa Umair bin Saad oleh sahabat dijuluki sebagai tokoh unik tiada duanya.

Dalam riwayat dikisahkan bahwa Umair bin Saad selalu berada di barisan terdepan dalam dua keadaan, yakni salat berjemaah dan peperangan.

“Allah swt menjadikan Umair sebagai orang yang dicintai dalam hati para sahabat. Ia menjadi penyejuk dan tumpuan hati mereka. Demikian itu karena kekuatan iman, kejernihan hati, ketenangan watak, aroma laku, dan cahaya kehadirannya mampu menimbulkan kegembiraan dan keceriaan bagi setiap orang yang duduk bersama atau melihatnya. Ia tidak pernah mementingkan seorang pun dan tidak pula mementingkan sesuatu pun melebihi agamanya.” Tulis Khalid Muhammad Khalid dama bukunya Biografi 60 Sahabat Rasulullah.

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved