Pemerintah Diminta Hentikan Tes GeNose, Politis PDIP Ini Menentang Keras

Anggota Komisi VII DPR RI itu menilai GeNose merupakan alat tes Covid-19 yang bisa dijangkau semua masyarakat karena harganya yang terjangkau.

Editor: Teguh Suprayitno
Tribunnews/Jeprima
Calon penumpang kereta api jarak jauh mengikuti pemeriksaan sampel napas GeNose C19 di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, Kamis (4/2/2021). Mulai 5 Februari 2021 PT KAI menyediakan layanan pemeriksaan GeNose C19 sebagai alat pendeteksi Covid-19 di Stasiun Pasar Senen dan Stasiun Tugu, Yogyakarta, sebagai syarat untuk naik kereta api jarak jauh dengan dikenai tarif sebesar Rp 20.000. 

Ahli Minta Tes GeNose Dihentikan, Politis PDIP Ini Menentang Keras

TRIBUNJAMBI.COM- Imbauan tes GeNose dihentikan medapat tentangan dari politisi PDIP Adian Napitupulu.

Adian mengaku tak setuju jika penggunaan alat tes Covid-19 buatan Universitas Gadjah Mada (UGM) itu dihentikan.

Anggota Komisi VII DPR RI itu menilai GeNose merupakan alat tes Covid-19 yang bisa dijangkau semua masyarakat karena harganya yang terjangkau.

Menurut Adian, harga tes GeNose yang lebih terjangkau dibandingkan Antigen menjadi bukti bahwa negara hadir untuk semua rakyat.

"GeNose diizinkan digunakan kan pasti ada prosesnya, apalagi dari Kemenkes juga sudah kasih izin," kata Adian dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (26/6/2021).

Dia khawatir jika penggunaan GeNose dihentikan, karena yang akan terkena dampaknya adalah rakyat kecil.

Kata dia, kebijakan itu juga akan memengaruhi mobilitas manusia. Dampaknya bisa memukul perekonomian di bidang transportasi maupun pariwisata.

Sebelumnya, Ahli biologi molekuler Ahmad Utomo mengimbau pemerintah untuk menghentikan sementara penggunaan alat tes GeNoSe.

Utomo mengatakan, penghentian itu dilakukan untuk menunggu hasil validasi eksternal dari kampus mereka.

Validasi eksternal sebelumnya direncanakan secara independen oleh tim peneliti dari institusi non-UGM dan berlangsung hingga April 2021.

"Ini sudah Juni, sejak Februari belum ada hasilnya. Ini kampus kita benar-benar merdeka ndak untuk melaporkan hasilnya," kata Utomo dilansir Kompas.com, Senin (21/6/2021).

Baca juga: Gejala Covid-19 Semakin Bias dan Bahaya, Disarankan Segera Periksa Jika Merasakan Ini

Baca juga: Kenali Apa Itu Anosmia, Gejala Covid-19 yang Ditandai Kehilangan Penciuman

Seperti yang diketahui, sejak 1 April 2021, GeNoSe bisa menjadi syarat perjalanan di semua moda transportasi, selain antigen dan PCR.

Penggunaan GeNose berdasarkan Surat Edaran (SE) Nomor 12 Tahun 2021 tentang Ketentuan Perjalanan Orang Dalam Negeri dalam Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Utomo menduga, ledakan kasus Covid-19 yang terjadi belakangan akibat dari penularan orang yang bepergian.

Terkai pemberhentian itu, Adian pun mempertanyakan alasan sejumlah pihak yang menyebut GeNose menjadi penyebab lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia.

"Itu pernyataan yang berdasarkan data, rasa atau kepentingan?," kata Adian.

Adian mengatakan, jika GeNose menjadi penyebab lonjakan Covid-19, maka harusnya itu terjadi setidaknya 1 atau 2 bulan setelah digunakan atau sekitar Maret atau April 2021. Bukan bulan Juni.

"Nah, faktanya Maret dan April justru kasus Covid Indonesia justru pada titik terendah sepanjang pandemi, landai sekali," tambah Adian.

Malahan, Adian menilai lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia terjadi karena rendahnya kedisiplinan rakyat, lemahnya kontrol aparat, serta kurang masifnya upaya pencegahan yang dilakukan pemerintah.

"Saya melihat mereka yang mengkambinghitamkan Genose tanpa data bisa jadi hanya menduga-duga. Hanya dapat dari katanya atau infonya, tanpa pegang data yang valid, atau bisa juga bagian dari kelompok yang memiliki kepentingan politik maupun bisnis," ungkapnya.

Adian mengatakan GeNose merupakan alat uji Covid-19 yang paling murah. Dengan demikian maka alat tes tersebut bisa dijangkau oleh beragam kalangan.

"Menghentikan penggunaan GeNose akan membuat kesehatan hanya menjadi milik orang-orang kaya saja yang mampu membayar mahal hanya untuk tes saja," ucap dia.

Berita ini telah tayang di Kompas.tv

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved