Dampak Kedepannya Jika Covid-19 Varian Delta Terus Menyebar ke Seluruh Dunia, 148 Kasus di Indonesia

Pada April 2021, varian Delta menjadi jenis virus corona yang paling banyak menyebar dan menjadi penyebab lonjakan kasus Covid-19 di India.

Editor: Leonardus Yoga Wijanarko
Hendro sandi
Ilustrasi. Virus corona 

TRIBUNJAMBI.COM - Benarkah virus corona Covid-19 varian Delta lebih cepat menular dan gejalanya berbeda?

Dilansir dari Medical News Today, varian delta SARS-CoV-2 secara ilmiah dikenal sebagai garis keturunan B.1.617.2 pertama kali diidentifikasi oleh para ilmuwan pada Desember 2020 di India.

Pada April 2021, varian Delta menjadi jenis virus corona yang paling banyak menyebar dan menjadi penyebab lonjakan kasus Covid-19 di India.

Menurut sumber tepercaya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sejak itu varian ini telah dilaporkan di 80 negara.

Karenanya, varian Delta pun sudah dimasukkan WHO dalam daftar variant of concern atau paling mengkhawatirkan di dunia, bersama 3 varian lain yakni varian Alpha (sebelumnya disebut varian B.1.1.7), varian Beta (sebelumnya disebut varian B.1.351), dan varian Gamma (sebelumnya varian P.1).

Baru-baru ini, ada kekhawatiran – terutama di Inggris dan Amerika Serikat – bahwa varian Delta dapat menimbulkan gelombang Covid-19 lain yang bisa menghambat upaya nasional dan internasional untuk mengurangi penularan pandemi.

Baca juga: Kumpulan Doa yang Baik Dilakukan Setelah Solat dan Diwaktu Tengah Malam

Penyebaran varian Delta, termasuk di Indonesia

Menurut laporan terbaru dari Public Health England (PHE), varian Delta mungkin telah menjadi varian dominan di Inggris.

"Dengan 74 persen kasus infeksi SARS-CoV-2 dan 96 persen kasus sekuensing dan genotipe yang disebabkan oleh varian Delta ini," tulis laporan PHE.

Di AS, data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menyebutkan proporsi kasus Covid-19 baru yang dikaitkan dengan varian Delta sebesar 2,7 persen.

Ini adalah data pengawasan genomik selama 2 minggu, terhitung 8-22 Mei 2021.

Baru-baru ini, mantan komisaris Food and Drug Administration (FDA) Dr. Scott Gottlieb mencatat bahwa sekitar 10 persen kasus baru Covid-19 disebabkan oleh varian Delta.

Dr. Anthony S. Fauci, direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular, telah memperingatkan bahwa negara mana pun yang memiliki varian Delta harus khawatir bahwa akan ada lonjakan infeksi, terutama jika sebagian besar penduduk negara belum divaksinasi.

“Kami telah melihat bahwa ketika varian Delta menyebar di antara orang-orang yang tidak divaksinasi, itu bisa menjadi dominan dengan sangat, sangat cepat,” kata Fauci.

Seperti diberitakan Kompas.com sebelumnya, kasus varian Delta di Indonesia telah ditemukan di 6 provinsi Indonesia.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved