Renungan Kristen
Renungan Harian Kristen - Hidup Dalam Penghayatan Akan Identitas Diri
Bacaan ayat: 1 Korintus 1:2 (TB) kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang
Hidup Dalam Penghayatan Akan Identitas Diri
Bacaan ayat: 1 Korintus 1:2 (TB) kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita.
Oleh Pdt Feri Nugroho
Setiap orang diciptakan Tuhan dengan identitas yang unik dan berbeda.
Secara genetik, perpaduan gen antara ayah dan ibu telah menciptakan warisan tertentu dalam tubuh anaknya.
Terkadang warisan tersebut menjadi resesif (tersembunyi, hanya dibawa) dan muncul pada generasi berikutnya; atau menjadi dominan (gen yang terlihat).
Pada bagian ini terdapat otoritas Allah sebagai penentu yang berkarya: jenis rambut, warna kulit, bentuk wajah, dan lain-lain.
Baca juga: Renungan Harian Kristen - Mengasihi Itu Sebuah Pilihan Untuk Membangun Hubungan
Identitas personal ini kemudian menjadi identitas sebuah kelompok dalam sebuah ikatan kekerabatan atau suku.
Sebuah kelompok menciptakan budaya tertentu berdasarkan konteks alam yang ditinggalinya dan membentuk pola pikir tertentu pula dalam memahami kehidupan.
Sampai akhirnya, terbangun sebuah identitas yang menandai keberadaan sebuah kelompok disandingkan dengan kelompok lain yang berbeda-beda dalam beberapa ciri khusus.
Faktanya, ketika terjadi pembauran budaya, dapat terjadi seorang yang lahir dalam gen suku Jawa, misalnga, ketika tinggal jauh dari tanah kelahirannya, akan membaur dengan budaya tempat dimana ia tinggal dan kehilangan ciri khusus yang diwarisinya secara genetik.
Apa identitas diri kita sebagai orang yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat?
Jika gen itu diturunkan, maka percaya adalah sebuah pilihan.
Seorang bayi yang baru dilahirkan, tidak pernah mempunyai agama.
Agama disematkan kepadanya melalui orang tua. Namun pada gilirannya, ketika ia mulai bertumbuh menjadi dewasa, ia mempunyai kebebasan personal untuk memaknai ulang identitas yang disematkan dan berhak mempunyai identitas baru sesuai dengan pilihannya sendiri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/08012021-renungan.jpg)