Sahabat Rasulullah
Thalhah bin Ubaidilah Sahabat Nabi Kesatria Perang Uhud, Berlepas Diri dari Perang Jamal
Nabi Muhammad saw bersabda yang kian meneguhkan sosok Thalhah bin Ubaidilah. “Thalhah dan Zubair adalah tetanggaku di surga.”
Penulis: Deddy Rachmawan | Editor: Deddy Rachmawan
TRIBUNJAMBI.COM - Rasulullah saw dalam beberapa kesempatan menyebut nama sahabat Thalhah bin Ubaidilah.
Ucapan Rasulullah itu kian meneguhkan sosok sahabat Nabi tersebut.
Diriwayatkan suatu ketika Rasulullah saw membaca Surat Al Ahzab ayat 23.
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya).”
Lalu, kemudian Rasulullah berkata dan menunjuk Thalhah yang ada di sana. “Siapa yang ingin melihat seorang laki-laki yang berjalan di atas bumi, padahal ia telah wafat maka hendaklah ia melihat Thalhah.”
Pada kesempatan lain, Nabi Muhammad saw bersabda yang kian meneguhkan sosok Thalhah bin Ubaidilah. “Thalhah dan Zubair adalah tetanggaku di surga.”
Khalid Muhammad Khalid dalam bukunya Biografi 60 Sahabat Rasulullah saw memberi judul Kesatria dalam Perang Uhud saat membahas sahabat Nabi Thalhah bin Ubaidilah.
Dalam perang Uhud, Thalhah bin Ubaidilah tampil perkasa. Ia tampil di depan dan menyelamatkan Rasulullah saat Rasulullah terdesak. Ia memapah Rasulullah ke tempat aman sembari tangan kanannya terus mengayunkan pedangnya.
Saat itu menurut Abu Bakar Asshidiq, Thalhah bin Ubaidilah mendapatkan 70 lebih luka tusukan di tubuhnya.
Lalu tibalah fitnah-fitnah selepas wafatnya Rasulullah saw.
Pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan ra, terjadi fitnah besar.
Sejumlah perbedaan atau perselisihan terjadi. Hingga akhirnya Utsman terbunuh dan ada kelompok yang ingin menuntut balas.
Alhasil, terjadilah perang Jamal antara mereka yang menuntut balas atas darah Utsman dan mereka yang mendukung sahabat Ali bin Abin Thalib.
Khalid Muhammad Khalid menulis; Ali sendiri setiap kali memikirkan situasi sulit yang harus dilalui oleh Islam dan kaum Muslimin dalam perselisihan sengit itu maka ia sangat bersedih. Air matanya berlinang dan menangis tersedu-sedu.
Sungguh ia telah terseret ke dalam dilema yang sulit. Sebagai khalifah kaum Muslimin, ia tidak bisa dan tidak berhak untuk menoleransi setiap pembangkangan terhadap negara atau perlawanan bersenjata terhadap kekuasaan yang sah.