Kisah Raja Copet Pakai Jimat di Bagian Vital Tapi Nyerah Kalau Ketemu Emak-emak Nekat

Ini kisah Tomo, copet yang berpengalaman puluhan tahun di dalam bus dan jalanan.

Editor: Duanto AS
Kompas.com
Ilustrasi copet. 

Kisah Raja Copet Pakai Jimat di Bagian Vital Tapi Nyerah Kalau Ketemu Emak-emak Nekat di Jalan

INI kisah nyata, bukan seperti film Raja Copet yang populer pada 1977.

Ini kisah Tomo, copet yang berpengalaman puluhan tahun di dalam bus dan jalanan.

Sang raja copet curhat dan berbagi cerita.

Kalau dalam film Raja Copet, Benyamin S menjadi copet legendaris yang lihai dan punya pantangan mencopet wadam dan wanita hamil, kisah di dunia nyata ini beda lagi.

Tomo (56) raja copet di Jakarta, satu di antara copet legendaris.

Selama 25 tahun mencopet, Tomo tak pernah tertangkap. 

Nama Tomo mulai tenar sejak lama. Dia menyandang gelar raja copet karena sudah 25 tahun menjadi copet di Jakarta.

Pada 2015, meskipun sudah berusia, perawakan cukup menakutkan karena punya tato di sekujur tubuh.

Jimat di kelamin

Bukan cuma badan yang dihiasi tato, tetapi alat kelamin Tomo juga dipasangi benda asing seperti "jimat".

Tomo juga memasang benda asing di alat kelaminnya.

Benda asing itu dipasang agar Tomo jago bersetubuh.

Tomo mengaku memasang benda asing itu saat berada di dalam Lembaga Pemasyarakatan (LP) Salemba saat ditahan tahun 1998 sampai tahun 2000.

Sementara, tato yang melingkar dari bahu kanan ke bahu kirinya, menambah kesan seram.

Di bagian perutnya juga masih ada tato lagi.

Pokoknya, seluruhnya tato bunga yang ada di sekujur badan Tomo.

"Ah, ini tato biasa saja," ucap Tomo yang berbadan pendek dan gempal ini kepada Wartakotalive.com saat jumpa pers, Jumat (28/8/2015).

Daerah Kekuasaan Tomo Cs

Tomo tidak bekerja sendiri, melainkan berkomplot dengan tiga orang anak buah.

Anak buahnya bernama Yanto Gondrong, Heri dan Yanto Botak.

Wilayah kerja copet Tomo dkk di terminal di Jabodetabek.

Cara kerjanya cukup standar.

Pencopet ini berpura-pura menjadi penumpang bus kota dan duduk menyebar.

Mereka berbagi peran, ada yang mencari target, mengalihkan perhatian calon korban, ada yang mengambil dompet dan ponsel korban.

Pencopet menempel korban, tangannya menyelinap ke saku celana korban.

Setelah mendapat barang, dia mengopernya ke temannya sesama pencopet yang ada di belakang, lalu turun dari bus.

Tomo Cs mengaku beraksi sejak pagi hingga sore hari, pindah antar bus dan jurusan.

Mengawali 'karier' copet

Tomo berkisah, mulai jadi copet sejak 1990, saat berusia 31 tahun.

"Ikut-ikutan saja. Semua copet begitu awalnya. Belajar dari ikut-ikutan," ucap Tomo.

Biasanya seorang pencopet ada yang bertugas sebagai 'pengerem'. Apa tugasnya?

Tugasnya adalah memperlambat jalan korbannya.

Setelah itu, baru jadi pendesak atau yang bertugas memepet korbannya di kiri dan kanan.

Selanjutnya baru jadi eksekutor atau yang bertugas mengambili barang korban, menyobet tas korban dan sebagainya.

Tomo menuturkan biasanya setelah copet menjadi senior dan mulai membentuk kelompok sendiri, maka copet senior akan menyerahkan tugas pendesak dan eksekutor ke anak buahnya.

"Saya juga sekarang jadi pengerem saja," ucap Tomo.

Kalau bertemu orang-orang khusus, seperti emak-emak nekat, Tomo lebih memilih menghindar. 

Sebab, kelompoknya sekarang berisi copet-copet yang pengalamannya di bawah Tomo.

Tomo mengakui kerap berpindah-pindah kelompok copet selama 25 tahun.

Dia kerap pula membentuk kelompok baru.

Kini bekas anak buahnya adapula yang sudah membentuk kelompok baru.

"Makanya, ada banyak copet yang mangkal di Terminal Pulo Gadung itu dan saling kenal," ucap Tomo.

Cara kerja copet teratur

Menurutnya, copet sama saja seperti karyawan.

Terutama, copet-copet yang sudah bekerja lebih dari lima tahun secara konsisten sebagai copet.

Pencopet punya jam kerja dan keteraturan, serta banyak orang di tempat nongkrong, mereka juga sudah tahu siapa dirinya.

Selama 25 tahun jadi copet, Tomo punya keteraturan.

Tomo datang pukul 05.00 WIB di Terminal Pulo Gadung.

Di sanalah semuanya berawal.

Sejak pagi buta, dia bertemu sesama pencopet lainnya di Terminal Pulo Gadung.

Pencopet nongkrong bersama, tertawa bersama, lalu mengatur jalur masing-masing sebelum berangkat.

Biasanya, dalam satu bus saat awal pagi bus-bus keluar di jam padat, maka hanya ada 1 kelompok copet di dalam bus.

"Kenek atau sopir bus atau Kopaja dan Metromini itu tahu kalau ada copet atau tidak di dalam bus mereka. Orang kenal semua kok, setiap hari ketemu," ucap Tomo.

Setahun belakangan, Tomo mengaku bergabung dengan kelompok barunya.

Sesama pencopet tua yang sudah di atas 10 tahun jadi copet.

Tapi, tetap saja, lantaran Tomo paling tua dan paling lama jadi copet, dia pun hanya bertugas jadi pengerem.

Menarik bukan, kisah raja copet yang legendaris.

(*)

Baca juga: Sangar! Satu Keluarga di Surabaya Jadi Copet, Terungkap Begini Cara Beraksi Komplotan

Baca juga: Legenda Kopassus Berkaki Satu di Hutan Papua, Berjasa Tapi Malah Dikeluarkan Dari Kesatuan

 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved