Kamis, 30 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Sosok Pendeta SAE Nababan di Mata Annisa Wahid Putri Gusdur

Pendeta SAE Nababan ternyata cukup dekat dengan Gusdur. Hal itu diungkapkan Alissa Wahid, putri Abdul Rahman Wahid alias Gusdur.

Tayang:
Penulis: Suang Sitanggang | Editor: Suang Sitanggang
capture youtube
Alissa Wahid putri dari Gusdur saat menyampaikan pandangan tentang sosok Pendeta SAE Nababan, kala peluncuran buku Selagi Masih Siang, Catatan Perjalanan Pdt Dr SAE Nababan, Agustus 2020 

TRIBUNJAMBI.COM - Pendeta SAE Nababan ternyata cukup dekat dengan Gusdur.

Hal itu diungkapkan Alissa Wahid, putri Abdul Rahman Wahid alias Gusdur.

Dia menyebut Gusdur dan Pendeta SAE Nababan aktif dalam gerakan linstas iman sejak tahun 1980an.

Menurut Alissa Wahid, sosok Pendeta Nabanan ini layak jadi panutan bagi anak muda kristiani masa kini.

"Kami sering melihat Pendeta Nababan dan Gusdur," kata Alisa Wahid.

Ia mengungkapkan itu dalam tayangan lauching buku Selagi Masih Siang: Catatan Perjalanan Pdt Dr SAE Nababan, Agustus 2020.

Dia menyebut melihat keduanya sebagai tokoh yang menjadi penggerak pertama dan utama gerakan lintas iman.

"Saya katakan sebagai tokoh utama ya, itu tahun 1980an. Mereka Sudah dekat puluhan tahun," ungkap Alissa.

Baca juga: Sniper dari Indonesia ini Masuk dalam Daftar 7 Sinper Terhandal di Dunia

Baca juga: SAE Nababan Meninggal Dunia, Saat Memimpin HKBP Digoyang Orde Baru

Ia mengatakan di masa-masa orde baru, Gusdur dan Pendeta SAE Nababan memiliki persoalan yang nyaris sama, yakni tekanan dari pemerintah Orde Baru.

"Orde Baru itu menginginkan tunduk mutlak. Ditekan," ucapnya.

Baik NU maupun HKBP, ungkapnya, sama-sama merasakan tekanan ini.

"Tapi NU dan HKBP yang paling kelihatan ya, konfliknya secara terbuka," ungkapnya.

Gusdur saat itu ingin dilengserkan pemerintah dari kursi NU dengan cara mendukung calon lain.

Dia menyebtu Pendeta SAE Nababan mengalami hal yang sama, yakni tekanan kuat dari pemerintah, .

"Puncaknya di Sinode Godang ya, saya tahu itu menimbulkan dampak yang sama," ungkapnya.

"Pendeta Nababan harus benar-benar berhadapan, karena jadi ada dua kepengurusan berbeda," tuturnya.

Dia menyebut Pendeta SAE Nababan merupakan pempimpin yang sosoknya tidak hanya berkharisma, tapi figur paripurna, sehingga bisa jadi teladan bagi generasi saat ini.

Baca juga: Begini Sosok Pendeta SAE Nababan di Mata Keluarga Gusdur, Dua Tokoh Sudah Dekat Puluhan Tahun

Profil Singkat SAE Nababan

SAE Nababan telah meninggal dunia pada Sabtu 8 Mei 2021 di RS Medistra Jakarta.

Nama lengkapnya adalah Soritua Albert Ernst Nababan tapi lebih dikenal dengan nama SAE Nababan.

Ia lahir di Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara 24 Mei 1933.

Ia meraih gelar doktor bidang teologi ia dapatkan dari Universitas Heidelberg Jerman, pada usia 30 tahun.

Catatan perjalanan hidup Pendeta Dr SAE Nababan ini sudah tertuang dalam buku berjudul 'Selagi Masih Siang' yang diluncurkan tahun 2020 lalu.

Di dalam buku itu juga terungkap bagaiman Intervensi rezim orde baru terhadap kepemimpinan Nababan di HKBP.

SAE Nababan memperistri Alida Lientje Lumbantobing.

Hasil pernikahan itu, mereka dikaruniai dua orang putra dan seorang putri.

SAE Nababan merupakan saudara kandung dari Asmara Nababan seorang tokoh HAM di Indonesia, dan Panda Nababan seorang politisi PDI Perjuangan.

Ia dikenal sebagai sosok yang cukup dekat dengan orang-orang yang mendorong reformasi di era orde baru.

Di antaranya adalah Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri.

Ia turut terlibat memfasilitas pertemuan kekuatan sosial politik menjelang reformasi.

Campur Tangan Orde Baru

Pemerintahan Soeharto tidak sejalan dengan SAE Nababan yang saat itu menjadi Ephorus HKBP.

Ada perbedaan pandangan antara mereka, dan Nababan tidak mau menuruti kemauan pemerintahan Soeharto.

Pemerintahan orde baru tidak terima dengan kritisnya Nababan atas isu-isu kemanusiaan dan keadilan.

Hal itu membuat posisi Pendeta SAE Nababan sebagai Ephorus HKBP saat itu berusaha dilengserkan.

Kepemimpinannya diintervensi Badan Koordinasi Bantuan Pemantapan Stabilitas Nasional (Bakorstanas).

Ini merupakan lembaga yang dibentuk Soeharto pada tahun 1988, yang mengangkat Jenderal Try Sutrisno jadi ketuanya.

Tugasnya adalah mengkoordinasi upaya departemen dan instansi lain untuk stabilitas nasional, dan menyelesaikan segala yang dianggap sebaai hambatan, gangguan dan tantangan pemerintahan.

Campur tangan Bakorstanas pada akhirnya menyebabkan kemelut bertahun-tahun di tubuh HKBP, dan dualisme di gereja tersebut, antara Pro Nababan dan Pro Simanjuntak.

Baca juga: Profil SAE Nababan Mantan Ephorus HKBP yang Meninggal Dunia di Jakarta

Baca juga: HEBOH Jokowi Promosikan Bipang Ambawang, Jubir Presiden Buka Suara, Fadjroel: Bukan Babi Panggang

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved