Kisah Gadis 14 Tahun Tembak Ibu, Ayah dan Abang, Hilangkan Jejak dengan Sayat Tangan
Mereka melakukan laporan adanya pembunuhan. Korban bernama Malini, 45 tahun, istri dari Bajpai dan putranya Sharda, 20 tahun.
TRIBUNJAMBI.COM - Melansir dari media lokal, gadis muda itu dikenal sebagai murid yang baik.
Ia sangat menyenangi novel yang seram dan juga mengalami depresi.
Pada tanggal 29 Agustus 2020, polisi di Kota Lucknow, ibu kota negara bagian Uttar Pradesh, India, dikejutkan atas panggilan laporan dari rumah BD Bajpai, Direktur Eksekutif Dewan Kereta Api di Delhi.
Mereka melakukan laporan adanya pembunuhan. Korban bernama Malini, 45 tahun, istri dari Bajpai dan putranya Sharda, 20 tahun.
Penelepon yang melapor itu adalah putri mereka, Bajpiai yang berusia 14 tahun.
Tragedi itu terjadi ketika negara bagian Uttar dilockdown guna mencegah penyebaran Covid-19.
Baca juga: Gaji Lionel Messi Rp 1,3 Triliun Per Tahun, Barcelona Bekerja Keras Agar La Pulga Tetap Bertahan
Baca juga: Foto-foto Anak Usia 3 Tahun Rela Tunggu Ibunya Sendirian Hingga Tertidur
Baca juga: Pemerintah Daerah di Jambi Diberi Peluang Usulkan Perubahan Peta Wilayah Pertambangannya

Dua korban ditemukan tewas di kamar tidur mereka. Tempat kejadian tidak menunjukkan tanda-tanda adanya pembobolan.
Polisi tidak mengetahui penyebab ibu dan anak tersebut dibunuh, karena mereka tidak ada rasa dendam kepada siapa pun.
Ditambah, di lokasi kejadian tidak ada tanda-tanda pembobolan atau perkelahian.
Saat polisi memasuki kamar anak perempuan keluarga itu, kebenaran berangsur-angsur terungkap saat mereka menemukan bekas peluru di cermin kamar mandi dengan kata-kata, “orang tidak memenuhi syarat” yang ditulis dengan saos tomat.
Saat ini, mereka memanggil gadis berusia 14 tahun tersebut untuk diinterogasi. Komisioner polisi Lucknow Sujeet Pandey mengatakan, “Si ibu ditemukan tewas akibat luka tembak. Putranya ditembak di kepala. Selama penyelidikan, akhirnya tindakan putri mereka ketahuan.”
Menurut penyidik, Bajpiai menulis teks di kaca dan menembakkan peluru pertama di atasnya.
Peluru kedua kemudian ia gunakan untuk menembak ibunya dan tembakan ketiga untuk saudara laki-lakinya.
Gadis itu juga menggunakan pisau cukur untuk melukai lengannya sendiri agar menyamarkan barang bukti.
Usai Bajpiai diinterogasi, kakek dan ayahnya kembali ke Delhi setelah mendengar kabar buruk tersebut.
Pembantu rumah itu mengatakan, pada pagi harinya, keluarga itu sarapan bersama dan pergi tidur.
Setelah itu, gadis itu bangun dan mengeluarkan senjatanya. Bajpiai mengaku memasukkan lima peluru ke dalam pistol lalu menembakkan tiga pelurunya.
Diketahui, Bajpiai adalah pemegang senjata bersertifikasi nasional dan dia sendiri yang membawa polisi untuk menyembunyikan senjata pembunuhannya.
Dalam penyelidikan yang lebih jauh, polisi menemukan bahwa Bajpiai dipengaruhi novel No Longer Human.
Gadis berusia 14 tahun itu juga mengoleksi puisi, quote yang berhubungan dengan kematian dan menyimpannya dalam buku harian.
Polisi juga menemukan foto tengkorak di meja Bajpiai di dalam kamar.
Sebelum membunuh ibu dan saudaranya, gadis tersebut pernah bercerita kepada mereka tentang dirinya yang melihat hantu, tetapi tidak ada yang percaya.
Bajpiai selalu menunjukkan dirinya sebagai anak yang penurut, berbakat dan mahir dalam memainkan lima jenis alat musik.
Dia juga bisa berbahasa Perancis, Jerman dan seorang penembak. Tetapi suatu hari dia menyebabkan kejahatan seperti itu.
Bajpiai didakwa dengan pembunuhan oleh Pengadilan Remaja dan di bawah pengawasan medis di King George College of Medicine saat dalam tahanan.
Saat itu, ayah gadis tersebut mengatakan kepada polisi bahwa gadis itu punya gangguan jiwa.
Karena kasusnya jarang terjadi, polisi tidak keberatan jika pengadilan menyetujui permintaan ayahnya.
Saat ini, belum jelas bagaimana kasus perempuan muda ini akan disidangkan. Namun, kasus ini telah menggugah opini publik India sejak lama.
Sumber : TRIBUNMEDAN