Breaking News:

Renungan Kristen

Renungan Harian Kristen - Mendisiplinkan Buah Hati

Bacaan ayat: Amsal 13:24 (TB) - "Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya"

Editor: Suci Rahayu PK
Sahabatan 

Mendisiplinkan Buah Hati

Bacaan ayat: Amsal 13:24 (TB) - "Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya".

Oleh Pdt Feri Nugroho

Pdt Feri Nugroho
Pdt Feri Nugroho (Instagram @ferinugroho77)

Mereka yang saat ini berusia 40 atau 50 tahun pasti akan menganggukkan kepada tanda setuju ketika membaca kata mutiara dari Amsal tersebut.

Masih jelas dalam ingatan bahwa orang tua begitu tegas (atau mungkin keras) bersikap ketika anak bersalah.

Beberapa menyiapkan alat pemukul di belakang pintu, jika sewaktu-waktu diperlukan.

Beberapa anak mengantisipasi dengan selalu melihat belakang pintu untuk membuang tongkat tersebut jika ada kesempatan.

Pukulan di pantat atau paha hingga berwarna biru, kadang bisa berulang terjadi.

Baca juga: Renungan Harian Kristen - Tetaplah Percaya dalam Pengharapan

Anak pulang dengan menangis dan mengadu bahwa ia telah dibully, bukannya dibela, justru kena marah ketika sampai di rumah.

Pergi dari rumah karena takut, menjadi pengalaman mendebarkan.

Akhirnya harus kembali pulang dengan rasa lapar. Minimal kemarahan orang tua sudah reda dan diganti dengan makanan yang lezat tersaji di meja makan.

Namun tetap saja, selesai makan nasihat dan petuah akan meluncur deras bagai hujan di penghujung musim kemarau.

Nampaknya kala itu para orang tua sedang mempersiapkan anaknya menjadi pribadi yang tangguh.

Mereka ingin anaknya berprestasi dalam pendidikan sehingga berhasil di masa depan.

Mereka tidak berharap bahwa anaknya akan membalas budi baiknya dengan harta yang melimpah, cukuplah jika melihat anaknya sukses.

Itu cukup untuk mengobati jerih lelah yang mereka alami untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga.

Baca juga: Renungan Harian Kristen - Jangan Lupa Untuk Memberitakan Kabar Baik

Lalu, bagaimana dengan anak-anak masa kini? Anak-anak yang disebut generasi Z?

Apakah juga setuju dengan Amsal ketika berbincang tentang mendidik anak?

Tidak bisa dihindari, zaman telah berubah. Tantangan dan kondisi zaman mengalami percepatan, bukan lagi kecepatan. Hak azasi manusia dijunjung tinggi.

Hak setiap orang, termasuk anak, dilindungi oleh hukum.

Pasal tertentu justru memposisikan orang tua seakan terberangus dalam mengekspresikan pendidikan dan pengajarannya kepada anak.

Pada titik tertentu, kita prihatin ketika ditemukan kasus anak yang tega memenjarakan orang tuanya sendiri.

Sadar atau tidak, fakta itu adalah salah satu imbas kebebasan yang memanfaatkan hukum untuk mengekspresikannya.

Bagaimanapun juga, tidak pernah ada yang namanya mantan anak atau mantan orang tua.

Ikatan darah menjadi wujud otoritas Ilahi dalam kehidupan, yang menjadi otoritas Tuhan dalam berkarya.

Baca juga: Renungan Harian Kristen - Mengasihi yang Memusuhi Dengan Mendoakan

Pertanyaannya sekarang, masih berlakukah kata bijak yang ditulis oleh Amsal? Dengan tegas akan dijawab: tetap berlaku.

Tentu dalam pemaknaan dan adaptasi yang baru. Ditemukan makna dasarnya dan terus diberlakukan dalam kehidupan.

Mencermati tulisan Amsal, penekanannya pada relasi antara orang tua dan anak ada dalam relasi saling mengasihi.

Orang tua mengasihi anak sebagai berkat dari Tuhan.

Anak dipandang sebagai pribadi yang utuh, bukan setengah manusia ketika masih bayi.

Anak perlu ditolong dan didampingi dalam memaknai kehidupan.

Pengetahuan anak masih dalam proses perkembangan dan pertumbuhan, maka sudah sewajarnya jika apa yang dilakukannya terkadang meleset dari harapan.

Anak kadang sedang bereksperimen dan bereksplorasi terhadap segala hal.

Menjadi tidak tepat ketika anak dianggap sebagai harta milik. Anak diposisikan sebagai penentu harga diri dan martabat orang tua.

Anak yang berkategori gagal akan mempermalukan orang tua. Anak yang berkreasi itu sedang memberontak.

Menyebutkan anak dengan kata 'nakal', akan menjadi bentuk penghakiman yang akan berpengaruh bagi pembentukan kepribadian dimasa depan.

Baca juga: Renungan Harian Kristen - Damai Sejahtera dari Tuhan

Amsal sedang mengingatkan kita bahwa kasih adalah dasar relasi antara anak dan orang tua.

Melalui orang tua anak sedang mengenal dunia dan memaknainya.

Orang tua menjadi wakil Tuhan di bumi, untuk membuat anak menemukan kasih. Melalui orang tua, anak belajar kasih Tuhan dalam kehidupannya.

Sikap tegas sangat diperlukan. Tegas tidak harus keras. Tegas lebih kepada mengajarkan tentang komitmen dan kesungguhan.

Pesan kasih harus disampaikan dengan cara yang tepat dan tepat.

Amsal melihat tongkat sebagai salah satu cara untuk mendisiplinkan, bukan untuk menyakiti atau melukai.

Orang tua perlu bijak. Orang tua memperlengkapi diri dengan pengetahuan tentang perkembangan anak.

Ada tahap usia dalam perkembangan anak yang perlu dipahami oleh orang tua agar dapat memilih metode yang tepat dalam mendidik dan mengajar mereka.
Diperlukan kedewasaan iman dalam mendidik.

Keluarga menjadi tempat bagi anak untuk mengenal kasih Tuhan. Orang tua berada pada posisi yang tepat untuk mewujudkannya. Amin

Bacaan Renungan Kristen Lainnya

Renungan oleh Pdt Feri Nugroho S.Th, GKSBS Palembang Siloam

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved