Kisah Polwan
Kisah Tivany Agustin, Dulu Dihina Tetangganya Kini Bungkam Hujatan dengan Sukses Jadi Polwan
Kiprah seorang polwan cantik, Brigadir Polisi Satu (Briptu), Tivany Agustin menginspirasi banyak orang.
Jadi tidak ada yang mengatur waktu bermain Tivany.
Baca juga: Gara-gara Sering Ganggu Istri Orang, Pria Ini Akhirnya Diculik dan Disiksa Sampai Disetrum
Baca juga: Youth and Religious Tolerance in Digital Era: Kaum Muda dan Toleransi Beragama Perdamaian
Baca juga: Promo HokBen Terbaru 14 April 2021 Bento Ramadan Mulai Rp55.000 Makan Berdua dan Super Bowl Rp33.000
Sejak saat itu, dirinya suka bermain dan mulai melakukan hal-hal yang berbeda dari kebiasaanya.
"Mama aku sibuk jualan buat cari duit untuk kami bertiga (Tivany dan dua adiknya)," kata Tivany yang merupakan warga Mentawai ini.
"Sebab kalau dulu pas ada papa telat pulang aja langsung dicari, sejak papa nggak ada aku pun nggak peduli lagi, pikiranku cuman main-main, aku jarang bantuin mama jualan," kata Tivany.
Sehingga dirinya lebih senang menghabiskan waktu dengan teman-temannya di luar rumah.
Meski begitu, Tivany mengatakan dirinya aktif dalam kegiatan luar sekolah seperti olahraga silat hingga pernah menjuarai tingkat kabupaten.
"Aku aktif dibagian luar sekolah, seperti olahraga silat, aku dulu sering juara silat membawa nama," kata Tivany.
Sehingga saat Tivany berhasil lulus sekolah, dirinya menginginkan untuk melanjutkan sekolah di jurusan olahraga di Yogjakarta.
Namun, niatnya terhenti karena sang ibu membujuknya untuk mengikuti test Polisi Wanita.
Akhirnya Tivany mengikuti test penerimaan POLRI Tahun 2015.
Meski dalam keadaan terpaksa, Tivany tetap melanjutkan tahapan-tahapan test demi ibunya.
"Aku baru mulai brfikir, aku sudah kasihan lihat mama yang berjuang mati-matian demi aku supaya lulus Polwan," katanya.
Tanpa disangka, Tivany dinyatakan lolos dan diterima menjadi anggota Polwan setelah melalui serangkaian tes, yakni administrasi, akademik, psikologi, aku kulus, hingga test kesehatan jasmani.
Menurut Tivany, sang ibu sangat merasa bangga terhadap Tivany, mengingat dirinya berjuang sendiri untuk membiayai kebutuhan sekolah anak-anaknya.
Para tetangga pun juga tak menyangka, Tivany dapat menjadi kebanggaan keluarga.