Breaking News:

Femallenial

Bertekad Suarakan Perempuan Hebat, Penulis Rahma Yuniarsih Menangis Ceritakan Perjuangan Hidupnya

RAHMA Yuniarsih, seorang penulis asal Jambi yang pernah merasa tersakiti oleh lingkungan sekitar.  Ia kemudian tumbuh menjadi sosok kuat.

ISTIMEWA
Rahma Yuniarsih 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - RAHMA Yuniarsih, seorang penulis asal Jambi yang pernah merasa tersakiti oleh lingkungan sekitar.  Ia kemudian tumbuh menjadi sosok kuat. Kini ia hasilkan 11 karya tulis yang dibukukan.

Ia belajar dari kisah seorang ibu yang dapat bertahan, dan kurangnya dukungan orang terdekat justru tidak membuatnya gentar. Ia ingin melabelkan diri untuk mengedepankan perempuan pada setiap tulisannya. Ia ingin perempuan-perempuan yang membaca bisa mendapat kekuatan, dan terinspirasi untuk kuat menjadi sosok yang serba banyak tuntutan.

"Sebenarnya kalau cerita ini sedih, tapi orang harus tau. Banyak perempuan hebat yang kita temui, terutama ibu kita. Saya jujur, saya adalah anak broken home. Dan saya sering dikatain nggak punya ayah, dan nggak akan mampu ngapa-ngapain," tuturnya sembari menangis, ketika ditanyai hal mendasar tentang ke mana fokus tulisannya akan mengarah, beberapa waktu lalu.

Tetapi melihat ibunya kuat, mampu melakukan apapun. Ternyata tekadnya mengalahkan kata-kata orang bahwa perempuan tanpa laki-laki tak bisa apa-apa. Atau anak tanpa ayah tak bisa sukses.

Sedari kecil Rahma mengakui bukan termasuk anak yang patuh terhadap peraturan. Itu juga satu di antara karakteristik serta latar belakang hidup yang ia alami. Namun ia memiliki prinsip mampu membuktikan besar di luar dugaan banyak orang, ketika orang mencoba untuk meremehkannya.

Ia merupakan anak yang suka membaca. Sedari kecil, ia suka membaca tulisan apapun, dari lembaran atau buku manapun. Bahkan, tak segan-segan ia membaca buku sang tante. Walaupun ia mengakui, belum tentu ia mampu mengonsumsi kualitas bacaan tersebut.

Pertama mulai menulis karya, yaitu berawal dari menulis curhatan di buku diary. 

Kemudian ketika mengenyam pendidikan pesantren yang tak lama, dengan segala keterbatasan akses, ia menulis cerita-cerita di buku tulis. Ia mulai menyodorkan karyanya ketika masih bersekolah SMA sederajat. Namun penolakan-penolakan sering ia dapatkan.

Ia tak gentar, dan yakin ada banyak cara yang belum ia lalui. Tentunya satu di antara cara tersebut membawa peluang untuknya.

Saat ini Rahma sudah sering mengisi acara bedah buku, mulai ada permintaan penulisan cerita rakyat, dan undangan lain yang membuatnya terus berkembang.(rara khushshoh azzahro)

Halaman
12
Penulis: Rara Khushshoh Azzahro
Editor: Fifi Suryani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved