Breaking News:

Muhammadiyah Keluarkan Imbauan Terkait Salat Tarawih Saat Pandemi Covid-19

Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid mengeluarkan edaran terkait tuntunan ibadah di masa pandemi Covid-19.

SURYA.co.id
Ilustrasi salat-Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid mengeluarkan edaran terkait tuntunan ibadah di masa pandemi Covid-19. 

Muhammadiyah Keluarkan Imbauan Terkait Salat Tarawih Saat Pandemi Covid-19

TRIBUNJAMBI.COM - Sebentar lagi umat Islam akan menyambut  menyambut Ramadan 1442 Hijriyah.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid mengeluarkan edaran terkait tuntunan ibadah di masa pandemi Covid-19.

Salah satunya terkait soal pelaksanaan ibadah salat tarawih selama bulan Ramadan.

Muhammadiya menghimbau agar salat tarawih dilakukan di rumah saja. Kecuali, bagi suatu daerah yang sedang tidak memiliki penularan Covid-19.

“Kami cenderung pelaksanaan di rumah. Tapi bagi masyarakat yang memang sudah memiliki berbagai macam persiapan, baik sudah divaksin, masjidnya sudah disterilisasi, protokol dipenuhi, maka dengan pertimbangan yang sangat hati-hati, maka sebaiknya batasi yang datang ke masjid, maksimal 30 persen dari ruang yang tersedia,” jelas Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti, Senin (29/3/2021).

Dalam pelaksanaannya pun, jika akan melakukan salat berjamaah di masjid, tetap menjaga jarak antar shaf, memakai masker, masjid digunakan terbatas hanya untuk warga sekitar, jumlah jamaah maksimal 30% ruangan, takmir secara berkala menerapkan sterilisasi dan protokol kesehatan.

Salat Jumat
Salat Jumat (ist)

Sebagai tambahan, anak-anak, lansia, orang yang sedang sakit maupun yang memiliki comorbid dilarang untuk datang ke masjid atas pertimbangan resiko.

Tuntunan Ibadah Ramadan ini, menurut Mu’ti, patut dipatuhi oleh warga Persyarikatan, apalagi angka penularan Covid-19 di Indonesia masih berkisar di angka 12 persen, atau lebih tinggi 7 persen dari batas yang ditetapkan oleh WHO.

“Salat berjamaah itu bagus, tapi di situasi sekarang menghindari mafsadat itu lebih diutamakan,” jelasnya sambil membawakan hadis bahwa Nabi Muhammad lebih banyak melakukan salat tarawih di rumah bersama keluarganya.

Sementara terkait ide salat tarawih dua gelombang yang diusulkan oleh Ketua Dewan Masjid Indonesia Jusuf Kalla, Abdul Mu’ti menyatakan tak masalah dilakukan, namun persiapannya sangat sulit.

“Saya cenderung pada pendapat sebaiknya tidak usah 2 shif, karena persiapannya lebih sulit dan kemungkinan-kemungkinan pelaksanaan salat itu terjadi transmisi virus Covid-19," katanya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved