Berita Nasional
Moeldoko Ungkap Alasan Terima Menjadi Ketum Demokrat & Memilih Tidak Beritahu Presiden, Saya Khilaf
Jenderal (Purn) Moeldoko akhirnya angkat bicara soal keputusannya menerima menjadi Ketua Umum Partai Demokrat versi Kongres Luar Biasa (KLB)
Moeldoko Ungkap Alasan Terima Menjadi Ketum Demokrat & Memilih Tidak Beritahu Presiden, Saya Khilaf
TRIBUNJAMBI.COM - Jenderal (Purn) Moeldoko akhirnya angkat bicara soal keputusannya menerima menjadi Ketua Umum Partai Demokrat versi Kongres Luar Biasa (KLB) yang dilangsungkan di Deli Serdang, Sumatera Utara pada 5 Maret lalu.
Setelah KLB digelar, Moeldoko jarang terlihat dalam setiap kegiatan konferensi pers yang dilakukan Partai Demokrat kubu kontra-AHY.
Kali ini, Kepala Staf Kepresidenan (KSP) ini Moeldoko memberikan pernyataan melalui akun Instagram pribadinya, @dr_Moeldoko, Minggu (28/3/2021). Mantan
Panglima TNI itu mengaku tidak memberitahu Presiden Joko Widodo atas keputusannya menerima jabatan sebagai Ketua Umum Partai Demokrat versi KLB.
Moeldoko bilang, keputusan itu merupakan otoritas pribadinya. Sehingga, ia tak ingin membebani Presiden atas keputusan tersebut.
“Terhadap persoalan yang saya yakini benar itu atas otoritas pribadi yang saya miliki, maka saya tidak mau membebani Presiden,” katanya.
Moeldoko menjelaskan alasan dirinya dipilih oleh sejumlah eks kader Partai Demokrat sebagai ketua umum.
Dikatakannya, hal itu telah terjadi setelah adanya perubahan arah demokrasi di partai berlambang mercy tersebut.
“Saya ini orang yang didaulat untuk memimpin Demokrat, dan kekisruhan sudah terjadi, arah demokrasi sudah bergeser di tubuh partai Demokrat,” katanya.
Moeldoko juga melihat bahwa pertarungan ideologis menguat jelang tahun politik 2024.
Ia menilai pola itu akan menjadi penghalang tujuan Indonesai Emas di tahun 2024. Pertarungan ideologis itu, sambung Moeldoko, juga terjadi di internal Partai Demokrat.
“Ada kecenderungan tarikan ideologis juga terlihat di tubuh Partai Demokrat. Jadi ini bukan sekedar menyelamatkan Demokrat, tapi juga menyelamatkan bangsa dan negara. Itu semua berujung pada keputusan saya menerima permintaan untuk memimpin Demokrat,” jelas dia.
Terbiasa mengambil resiko
Moeldoko mengaku dirinya terbiasa mengambil resiko dalam setiap keputusannya.