Rabu, 6 Mei 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Renungan Kristen

Renungan Harian Kristen - Mengosongkan Diri untuk Mengisi Kehidupan

Bacaan ayat: Filipi 2:5-7 (TB) - "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang wala

Tayang:
Editor: Suci Rahayu PK
ist
Ilustrasi renungan harian 

Mengosongkan Diri untuk Mengisi Kehidupan

Bacaan ayat: Filipi 2:5-7 (TB) - "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,
yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia".

Oleh Pdt Feri Nugroho

Pdt Feri Nugroho
Pdt Feri Nugroho (Instagram @ferinugroho77)

Setiap orang diciptakan dalam kondisi berharga bagi sesamanya.

Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, memposisikan manusia pada kondisi membawa kemuliaan Allah di dalam dirinya.

Laki-laki dan perempuan setara di hadapan Allah meskipun berbeda dalam banyak hal. Manusia, siapapun adanya, mulia adanya.

Cara pandang tersebut menjadi rusak ketika manusia memilih tidak taat kepada Allah.

Manusia menjadi berdosa ketika memberontak kepada Allah. Akibatnya, ciptaan yang muliapun menjadi rusak keberadaannya.

Baca juga: Renungan Harian Kristen - Yesus Kristus, Sang Pengantaran

Warisan dosa telah menciptakan nilai bagi seseorang berdasarkan warna kulit, bahwa putih itu lebih baik dari hitam.

Sikap rasis dan diskriminasi merebak bagai jamur di musim hujan.

Seseorang dinilai berharga berdasarkan harta yang dimiliki, kepandaian yang dipunyai, jabatan dan kedudukan yang disandang, pangkat yang tersemat dipundak, kesukuan dimana seseorang lahir, pakaian yang dipakai.

Sampai-sampai dilahirkan sebagai seorang laki-laki dinilai lebih baik dari pada lahir sebagai seorang perempuan.

Bukankah seseorang tidak bisa memilih jenis kelaminnya, atau dimana dia dilahirkan, atau siapa orang tuanya?

Ironisnya, penilaian menciptakan sistem bertingkat. Semakin tinggi posisi akan (merasa) semakin dihargai.

Semakin mampu memenuhi kriteria dan standar, hidup dinilai lebih baik.

Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved