Berita Sosok
Begini Reaksi Orangtua Polwan Miranti Silaban, Anaknya Ditugaskan Jadi Anggota Brimob Polda Jambi
Polwan anggota Brimob Polda Jambi, Miranti Silaban bercerita mengenai reaksi keluarganya saat awal mula penempatan dirinya di korps Brigade Mobil.
Penulis: Ade Setyawati | Editor: Andreas Eko Prasetyo
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI – Polwan anggota Brimob Polda Jambi, Miranti Silaban bercerita mengenai reaksi keluarganya saat awal mula penempatan dirinya di korps Brigade Mobil.
Awalnya, soal penempatan Miranti Silaban di Korps Brimob buat dirinya bersedih.
Bahkan, menangis hingga dua minggu dirasakan oleh Miranti kala itu.
Ia sempat menangis karena ditempatkan sebagai Brimob, bahkan sampai curhat kepada orangtua. Namun kini ia sangat menikmatinya penugasan di Korps Brimob.

Bagaimana dukungan dari ibu Miranti Silaban untuk karirnya sebagai anggota Brimob?
Miranti mengatakan ibunya sangat menguatkannya agar tidak menyerah.
“Namanya juga anaknya ya, ya ibu bilang, Ya udahlah nak, di jalani saja, di syukuri, semua pekerjaan itu kalau kita ikhlas pasti enak ngejalaninya walaupun susah," kata Miranti.
Setelah bertugas menjadi anggota Brimob hampir empat tahun, ia mengatakan kesannya di kesatuan elit itu.
Paling menarik adalah saat pelatihan di Brimob.
Baca juga: Sempat Ogah Masuk Brimob, Polwan Mira Silaban Buka-bukaan Bisa Kepincut Mau di Korps Brigade Mobil
Baca juga: Miranti Silaban, Polwan yang Tugas di Brimob Polda Jambi Bercerita Soal Jiwa Korsa di Kesatuan
Baca juga: Kisah Polwan Cantik Jambi Miranti Silaban, Awalnya Menolak, Dua Bulan Jatuh Cinta dengan Brimob
“Pelatihan kan tidak memandang cowok atau cewek, jadi dimulai saat pembinaan, pelatihan anti anarkis, JW dan
BKO dan BKO, ini yang paling berkesan karena berhadapan lagsung dengan masyarakat,” ungkapnya.
Tahun 2019 ia pernah jadi BKO, untuk pengamanan pilpres.
Ia turun ke lapangan setelah magrib.
Hingga jam 04.00 belum bisa tidur juga karena situasinya yang mencekam.
“Bahkan istirahat di pinggir jalan. Di lempar batu sama masyarakat dan dilempar bom molotov juga. Itu pengalaman yang sangat luar biasa,” tutur Miranti.
Sebelum turun jadi BKO, ucapnya, ia telah mendapatkan pelatihan antianarkis.

Baca juga: Tim Penyelam Khusus Basarnas Jambi Mampu Menyelam dengan Mata Tertutup, Berenang dengan Beban 100 Kg
Baca juga: Pemkab Tebo Surati Kades Kuamang Terkait Dugaan Penggelapan Dana Desa
Baca juga: Abu Janda Menghilang dari Twitter dan Instagram, Benarkah Gara-gara Tersandung Kasus Rasisme?
Baca juga: Promo Indomaret Hari Ini 17 Februari Beras 5 Kg Rp53.900 Telur 10 Butir Rp21.000 Diapers Rp39.900
“Kami membuat lingkaran, dan di situ kita dilempari gas air mata di tengah-tengah sambil pegangan tangan,” terangnya.
“Sebelum masyarakat merasakan kita sudah merasakan duluan, dan gas air mata itu tidak ada masalah,” ucapnya.
Kena gas air mata, ucapnya, sebenarnya tidak jadi masalah besar.
“Cuma perih asal jangan di kucek biar tidak tambah perih,” tambahnya.
Dia menyebut pernah juga dilempar bom molotov sampai pecah.
“Karena kita full body safety semuanya jadi Alhamdulillah aman,” ungkapnya.
(Tribunjambi/ade susilawati)
IKUTI KAMI DI INSTAGRAM:
NONTON VIDEO TERBARU KAMI DI YOUTUBE: