VIDEO Gorengan yang Masih Jadi Primadona Pelaku UMKM

Awal mulai berjualan perantauan asal Jawa ini sempat menyewa gerobak untuk berjualan gorengan, saat itu satu...

Penulis: M Yon Rinaldi | Editor: Nani Rachmaini

Berjualan Gorengan Masih Menjadi Primadona Pelaku UMKM

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI – Telah sejak lama gorengan telah menjadi makanan yang cukup digemari di negeri ini.

Sentimen negatif, yang mengkampanyekan berbagai penyakit yang bisa ditimbulkan oleh makanan ini seolah tidak menyurutkan minat masyarakat untuk mengkonsumsi gorengan.

Faktanya penjual gorengan masih banyak dapat kita jumpai, bahkan dampak ekonomi yang di hasilkan oleh pandemi corona seolah tidak memiliki dampak terhadap bisnis kuliner ini.

Gorengan sendiri, Kendati ukuranya tak terlalu besar. Faktanya gorengan terbilang mengenyangkan dan harganya pun murah meriah. Biasanya kuliner ini bandrol Rp 1 000.

Di Jalan Di Panjaitan Jambi pas di depan Bank BCA Jelutung. di antara deretan penjual kuliner malam ada penjual gorengan yang penjualanya bisa dikatakan cukup laris manis.

Dalam semalam penjualanya bisa mencapai 1.500 buah gorengan.

Harganya Pun cukup murah Rp 2.000 dapat tiga buah gorengan.

Namun,walaupun harganya relatif murah untuk urusan rasa tidak bisa di pandang sebelah mata. Penjualan yang bisa mencapai 1.500 dalam semalam sudah bisa di jadikan tolak ukur dari kualitasnya.

Untuk varian gorengan ini memiliki delapan pilihan, mulai dari Pisang goreng, tahu, risol, bakwan. Tempe, combro, cireng sampai ubi goreng.

Anta badrun pemilik UMKM gorengan ini mengatakan semenjak berjualan gorengan dia telah berhasil membeli sebuah rumah untuk keluarganya.

“ Sebelum jualan gorengan, susah sekali ngunpuli uang,” ujarnya kepada Tribunjambi.com beberapa hari yang lalu

Tidak hanya rumah, diapun saat ini telah memiliki beberapa motor untuk mobilisasi aktifitas kesehariannya.

Lebih lanjut Anta menceritakan telah banyak usaha yang dia lakukan, namu pintu rezekinya makin terbuka lebar setelah dia memutuskan berjualan gorengan.

Awal mulai berjualan perantauan asal Jawa ini sempat menyewa gerobak untuk berjualan gorengan, saat itu satu hari dia menyewa sebesar Rp 1.000.

Tidak hanya gerobak, diapun masih harus menyewa motor untuk membeli berbagai bahan baku jualanya.

Saat itu 2015, ojek online masih belum ada, yang ada hanya ojek pangkalan yang harganya cukup mahal.

“ menyewa motor satu-satunya solusi paling murah saat itu,” tutupnya ( Tribunjambi.com / M Yon Rinaldi ).

Baca juga: Niat dan Doa Sholat Dhuha, Lengkap dengan Tata Cara dan Manfaat Menjalankannya

Baca juga: Kisah Gadis 14 Tahun Lawan Dua Perampok Bersenpi, Selamatkan Ibu yang Disandera

Baca juga: Peringatan Dini Gelombang Tinggi Besok, Diperkirakan Akan Terjadi Gelombang Tinggi Hingga 4 Meter

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved