Berita Internasional

AKHIRNYA KNKT Ungkap Penyebab Jatuhnya Sriwijaya Air SJ 182: Throttle Sebelah Kiri Bergerak Mundur

Kemudian, berdasarkan rekaman data FDR, sistem autopilot pesawat tersebut aktif di ketinggian 1.980 kaki.

Editor: Andreas Eko Prasetyo
ANTARA FOTO/Yadi Ahmad/MRH/hp.
Seorang pramugari menabur bunga di lokasi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ182 dari geladak KRI Semarang-594 di Kepulauan Seribu, Jakarta, Jumat (22/1/2021). Tabur bunga tersebut sebagai penghormatan terakhir bagi korban pesawat Sriwijaya Air PK-CLC nomor penerbangan SJ 182 dengan rute Jakarta-Pontianak yang jatuh pada Sabtu (9/1/2021). 

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Setelah penantian beberapa pekan untuk mengetahui penyebab jatuhnya pesawat Boeing 737-500 dengan nomor penerbangan SJ 182, milik Sriwijaya Air.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) pun membeberkan kronologi dan penyebab jatuhnya pesawat nahas itu. 

Dalam penjelasan awal terkait penyebab jatuhnya SJ 182 ini, KNKT menyebutkan pesawat ini telah terbang mengikuti jalur keberangkatan yang sudah ditentukan sebelumnya.

Kemudian, berdasarkan rekaman data FDR, sistem autopilot pesawat tersebut aktif di ketinggian 1.980 kaki.

Kepala Sub Komite Penerbangan KNKT Kapten Nurcahyo Utomo mengatakan, saat melewati ketinggian 8.150 kaki tuas pengatur tenaga mesin (throttle) sebelah kiri pesawat SJ 182 bergerak mundur, sehingga tenaga berkurang.

"Sementara itu tuas pengatur tenaga mesin sebelah kanan tetap."

"Kemudian saat melewati ketinggian 10.600 kaki, pesawat berada di posisi 46 derajat lalu mulai berbelok ke arah kiri," ungkap Nur Cahyo dalam konferensi pers daring, Rabu (10/2/2021).

Penjelasan Resmi dari KNKT Terkait Kronologi Jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air SJ 182

Komunikasi Terakhir Captain Afwan Mulai Terungkap, Begini Detik-detik Sriwijaya Air SJ 182 Jatuh

Misteri Pemilik Cincin Kawin Emas di Jari Manis Korban Sriwijaya Air: Jangan Sampai Ngaku-ngaku 

Nurcahyo menjelaskan, sebelumnya pilot pesawat SJ 182 meminta kepada petugas Air Traffic Controller (ATC) untuk berbelok ke 75 derajat, dan diizinkan.

ATC pun memprediksi perubahan arah ini akan membuat SJ 182 bertemu dengan pesawat lain dengan tujuan yang sama.

Maka, pesawat ini pun diminta untuk mempertahankan ketinggian di 11 ribu kaki.

"Pada ketinggian 10.900 kaki, menurut data FDR, sistem autopilot tidak aktif, dan throttle sebelah kiri kembali turun dan tenaga semakin berkurang."

"Sedangkan tuas Throttle sebelah kanan tidak bergerak," ucap Nurcahyo.

Pada ketinggian tersebut, pesawat mulai turun dan sistem autopilot tidak aktif atau disengage.

Sikap pesawat, menurut data FDR, pada posisi naik atau pitch up, dan pesawat miring ke kiri. Kemudian tuas mesin throttle sebelah kiri kembali berkurang.

Melihat anomali tersebut, lanjut Nurcahyo, ATC pun meminta pesawat SJ 182 untuk menaikkan ketinggian ke 13 ribu kaki, dan dijawab oleh pilot.

Halaman
1234
Sumber: Warta Kota
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved