Jumat, 15 Mei 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Berita Internasional

DUGAAN Keterlibatan China Dalam Kudeta Militer Myanmar, Bisa Beri Dampak Bahaya Bagi Joe Biden

Sedang terjadi krisis besar dalam negerinya. Kini Myanmar menghadapi kudeta militer untuk kesekian kalinya.

Tayang:
Editor: Andreas Eko Prasetyo
Via Intisari.Online
Pertemuan Menlu China Wang Yi dengan pemimpin militer Myanmar Min Aung Hlaing, China dicurigai terlibat dalam kudeta militer Myanmar 

Tatmadaw sudah sering memilih isolasi internasional daripada ketergantungan negara lain, bahkan kepad China yang seharusnya bisa diterima Tatmadaw sebagai dua pihak yang sama-sama berpandangan sosialis.

Tatmadaw takut bergantung pada China akan menyebabkan sebagian akomodasi demokrasi militer Myanmar ditangguhkan.

Dan juga, mereka takut jika ada proyek lain yang ditangguhkan China.

Rupanya, kebijakan pinjaman utang China juga melebar ke Myanmar, dan saat ini ada proyek pembangunan proyek besar China seperti Dam Myitsone senilai 3,6 miliar Dolar AS yang tidak ingin dilewatkan Myanmar.

Sejak kedua negara sepakat atas pinjaman itu, hubungan China dan Myanmar terus tumbuh.

Min Aung Hlaing telah berjanji melanjutkan dan memperdalam ikatan ekonomi antara dua negara, membuat China ragu untuk mempertegas dukungan untuk Aung San Suu Kyi.

Jika proyek dam dimulai kembali, entah apa cara yang dipakai untuk memindahkan para warga lokal, hal itu menjadi tanda jika Myanmar memang memilih China daripada AS.

Meski begitu, mungkin saja China tidak berikan persetujuan untuk jenderal agar bisa bertingkah sebagaimana yang ia mau, tapi pemimpin militer beranggapan mereka tetap bisa dibela China bagaimanapun keadaannya nanti.

Logikanya, China tidak akan melewatkan kesempatan membela Myanmar agar melebarkan pengaruhnya di Asia untuk mengalahkan AS, sehingga ketika Washington dan sekutunya menghukum Myanmar atas kudeta ini, pejabat China akan tetap bekerjasama dengan Myanmar dan para pejabatnya.

Hal ini menjadi ujian besar pertama untuk Presiden AS Joe Biden, dan harus dihadapi dengan memandang kedua belah pihak, baik Myanmar dan juga ambisi Beijing.

Joe Biden, Presiden Amerika
Joe Biden, Presiden Amerika (Reuters)

Beijing sendiri belum tunjukkan dukungan total untuk kudeta, dan memang tampaknya di publik Beijing lebih mendukung persatuan militer dengan Aung San Suu Kyi.

Jika benar demikian, maka Hlaing memang laksanakan kudeta atas inisiatifnya sendiri dan Beijing akan membantu Washington untuk mengatasi hal ini.

Namun jika kedua negara adidaya itu bersatu menyelesaikan kudeta, maka akan terjadi tawar menawar antara China dan AS.

AS akan akhirnya mengakui proyek Belt and Road Initiative China di Myanmar, sebagai biaya membayar dukungan China memaksa Myanmar menyelesaikan masalah Rohingya di perbatasan dan agar pelaksanaan demokrasi di Rohingya terlaksana.

Hal ini menjadi skenario paling optimistik, tapi AS juga harus tahu bagaimana posisi China dalam kudeta militer ini.

Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved