Berita Bungo

Sejarah Batu Patah Sembilan di Senamat Ulu Bungo, Ada Tanda Jejak Harimau, Kaki Bayi dan Cakar Ayam

Batu berukuran besar itu dinamai warga Dusun Senamat, Kecamatan Bathin III Ulu, Kabupaten Bungo sebagai Batu Patah Sembilan.

Tribunjambi/darwin
Batu Patah Sembilan, Dusun Senamat Ulu, Bungo. 

TRIBUNJAMBI.COM, BUNGO - Menhir 1 berbentuk segi empat dengan bagian atas lebih kecil dari atasnya ukuran menhir ini 2,60x1,89x2,48 meter.

Batu berukuran besar itu dinamai warga Dusun Senamat, Kecamatan Bathin III Ulu, Kabupaten Bungo sebagai Batu Patah Sembilan.

Batu besar dengan bentuk agak melengkung dan memiliki tanda berupa jejak harimau, kaki bayi dan cakar ayam menjadi sejarah di Kabupaten Bungo.

Baca juga: Gratis Nonton Live Streaming Attack On Titan Season 4 Episode 8 Dini Hari Nanti, Catat Waktunya

Konon katanya, batu itu merupakan bagian dari sembilan pecahan, sementara tujuh di antaranya belum diketahui keberadaannya hingga saat ini.

Jejak kaki harimaru yang diperkirakan ribuan tahun lalu itu masih membekas jelas di atas batu besar berukuran dua meter di Dusun Senamat, Kecamatan Bathin III Ulu, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi.

Di atas batu tersebut bukan hanya sebatas jejak kaki harimau saja. Namun warga setempat meyakini bahwa yang ada diatas batu itu juga terdapat bekas telapak kaki bayi, bekas cakar ayam, bekas batu asahan parang/pedang, dan ada juga bekas sabetan pedang yang terdapat di atas batu.

Baca juga: Untuk Dapat Sertifikat Khatam Alquran, Tiap Anak di Sarolangun Diuji MUI

Meski memiliki sejarah dan telah menjadi salah satu cagar budaya di Provinsi Jambi namun tidak begitu dikenal di Jambi atau diluar Provinsi Jambi.

Lokasinya berada di Dusun Senamat Ulu yang berjarak lebih kurang 60 kilometer atau menempuh perjalanan lebih kurang dua jam menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat dari Kota Muara Bungo.

Dengan jarak tempuh tersebut yang terbilang jauh membuat warga setempat sangat bangga jika ada pendatang yang berkunjung melihat batu yang mereka sebut 'Batu Patah Sembilan' itu.

Baca juga: 7 Sumber Kekayaan Lesty Kejora di Usia 21 Tahun, Tapi Kok Ngaku Isi Saldo ATM Kosong?  

Mengenai sebutan batu 'Patah Sembilan' ini, menurut salah satu penulis buku dan sesepuh di Senama Ulu, yang bernama 'Guru Hasan Bawi' bercerita bahwa nama batu itu telah diwariskan turun-temurun. Bahkan menjadi acuan warga Senamat Ulu memberikan sebutan kepada batu besar tersebut.

Pria yang sudah berumur tersebut mengungkapkan bahwasa nama tersebut telah diabadikannya sejak dia duduk di bangku sekolah dasar.

"Saya menulis tentang Batu Patah Sembilan ini saat saya kelas enam SD," ujar Guru Hasan Bawi belum lama ini di Senamat Ulu.

Batu Patah Sembilan
Batu Patah Sembilan (Tribunjambi/darwin)

Katanya, batu itu merupakan salah satu dari pecahan batu Patah Sembilan. Namun yang diketahui keberadaannya hanya dua sisi saja, sedangkan tujuh sisi lagi tidak diketahui di mana keberadaannya hingga saat ini.

"Pangkalnya ada dibukit barisan, Sumatera Barat. Yang ada disini patahan yang paling ujung. Sedangkan yang tujuh lagi gaib (tidak tau keberadaannya)," ujar Guru Hasan Bawi dirumahnya beberapa waktu lalu.

Selembaran kertas yang ditulis oleh "Guru Hasan Bawi" beberapa puluh tahun yang lalu itu menjadi saksi bisu tentang kisah batu tersebut

Dia menceritakan bahwa kisah batu itu dulunya berasal dari datuk Lang Gagah yang turun dari Pariaman, menuju Pagaruyung sudah dikacau alam sungai Pagu.

Kemudian mendaki gunung Kerinci-menurun gunung Urai-maka terus pula ke Tanah Abang yang ada sekarang antara desa Timbolasi dengan desa Sangi di daerah Muara Buat, masih ada perkuburannya di atas lubuk tersebut.

Maka terus nenek Lang Gagah berakit tareh nan tujuh batang mengilir Batang Bungo, maka sampai ke Pinang Sebatang.

Pinang kato orang BA dan Jambe kato orang Jawa.

Datuk Lang Gagah naik keatas mengintip kancil bertanduk emas yang merupakan permainan sanak batino nenek datuk Lang Gagah, yang bernama Putri si Unduk Pinang Masak, yang bergelar Putri Terus Mata, yang sekarang perkuburannya masih ada diatas Lubuk Duyung seberang pasar Muara Buat.

Putri tersebut mempunyai rambut dikilan sembilan kilan, dihasto sembilan hasto, didepa sembilan depa.

Kancil yang dicari datuk Lang Gagah dapat oleh seorang putra dari jawa.

Nenek datuk Lang Gagah menuntut kembali kancil itu, tetapi putra tersebut tidak mau mengembalikannya.

Maka dirundinglah seorang Putra Jawa menikah dengan Putri si Unduk Pinang Masak.

Selesai perkawinan orang tersebut maka dilepaslah itik satu jantan dan satu betina, untuk mencari Pucuk Jambi Sembilan Lurah.

Maka dapatlah Lima di Batang Hari (1) Batang Bal (2) Batang Siyek (3) Batang Asam (4) Batang Beko (5) Batang Jujun.

Dapat Empat di Batang Tebo (1) Batang Bungo (2) Batang Pelepat (3) dan Batang Seni Amat (4)

Jatuh Batang Senamat yang bungsu, karena kata-kata Seni maknanya kecil. Juga Batu Patah Sembilan ujungnya di Senamat Ulu, maka Batang Senamat adalah Batang Air yang Bungsu, dalam Pucuk Jambi Sembilan Lurah. Yang tujuh Gaib (hilang) sampai sekarang belum bertemu dalam cerita.

Pangkal Batu Patah Sembilan di ujung Bukit Barisan dekat Gunung Patah Sembilan. Gunung Patah Sembilan bergandeng tiga, (1) Gunung Raman, (2) Gunung Sati, (3) Gunung Patah Sembilan. Terletak ditengah-tengah Gunung Patah Sembilan, dikanan Gunung Raman dikiri Gunung Sati.

Bahkan Guru Hasan Bawi telah menuliskan sebuah puisi. Isinya sebagai berikut.

Manis nian tebu Saleman

Dikubak sambil mendaki

Dimakan sambil menurun

Sampah dimana kubuangkan

Sampai menangis Gunung Raman

Hendak sebanding Gunung Sati

Sayang diempang Gunung Sembilan.

Dan masih banyak lagi cerita versi yang berbeda dengan buku yang ditulis oleh Guru Hasan Bawi yang akan didapatkan dari warga sekitar mengenai asal muasal batu besar tersebut.

Namun, yang pasti batu Patah Sembilan ini sangat mudah dijumpai jika sudah memasuki Dusun Senamat Ulu itu.

Karena, batu itu tepat berada dipinggir jalan di seberang jalan rumah mantan Rio (Kepala Desa) dusun Senamat Ulu.

Untuk bisa melihat langsung jejak telapak kaki harimau itu, kita harus memanjat tangga kayu yang sudah disediakan di batu itu, dengan tinggi sekitar dua meter lebih.

Kepercayaan warga dusun Senamat Ulu, batu ini merupakan batu yang digunakan nenek moyang mereka untuk melakukan aktivitas kehidupan yang lebih dahulu berada di kawasan itu selama ribuan tahun lalu. Namun, mereka tidak bisa menjelaskan secara detail.

Mereka hanya percaya bahwa cetakan yang berada di atas batu itu adalah jejak telapak kaki harimau, jejak kaki bayi, cakar ayam, dan bekas batu asahan parang (pedang) yang sudah membantu.

Tapi, kepercayaan masyarakat bahwa batu itu bukan hanya kelompok besar, sudah menyatakan pihak Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi.

Karena, pada tahun 1997, batu Patah Sembilan ini sudah dilakukan pengkajian oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi dan dijadikan sebagai cagar budaya.

Sehingga warga setempat dan orang yang akan melihat wajib untuk melestarikan salah satu peninggalan kebudayaan dahulu tersebut.

Batu Patah Sembilan ini sebagai pengaturan batu peninggalan pada zaman Megalitikum, atau zaman batu besar.

Pada zaman Megalitikum, batu yang terdapat di Dusun Senamat Ulu ini lebih identik dengan Menhir, salah satu jenis hasil budaya pada zaman itu.

Menhir merupakan tugu yang terbuat dari batu besar untuk memuja arwah nenek moyang. Selain itu juga merupakan lambang atau simbol kesuburan

Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved