Breaking News:

Lawan Covid 19

Suka Duka Nani Jubir Satgas Covid-19 RSUD Daud Arif, Ada yang Tak Terima Keluarganya Positif Corona

“Suka nya kalau lihat pasien yang awalnya masuk dalam kondisi bergejala, setelah dirawat dan akhirnya pulang dan dinyatakan sembuh”

Penulis: Samsul Bahri
Editor: Fifi Suryani
tribunjambi/samsul bahri
dokter Nani berfoto dengan alat yaitu suction yang merupakan bagian dari peralatan untuk pengobatan pasien positif covid 19. 

TRIBUNJAMBI.COM, KUALA TUNGKAL - “Suka nya kalau lihat pasien yang awalnya masuk dalam kondisi bergejala, setelah dirawat dan akhirnya pulang dan dinyatakan sembuh”

Ungkapan itu disampaikan Dr Nani, Juru Bicara Satgas RSUD Daud Arif Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Selasa (26/1). Nani dokter yang bertugas untuk menangani pasien Positif Covid 19 di RSUD Daud Arif Kuala Tungkal. Sudah hampir satu tahun Ia berdedikasi sebagai bagian dalam pelayanan bagi pasien Positif Covid-19 yang di rawat.

Nani tidak sendirian, ada banyak ratusan bahkan ribuan tenaga kesehatan yang kini tengah menjadi garda terdepan untuk penanganan pasien Covid-19 yang juga tengah berjuang untuk sembuh. Ada banyak suka duka yang Nani rasakan, terlebih soal waktu.

"Pengalaman pertama melayani dan merawat pasien Covid-19 pasti ada suka dan duka nya dalam menjalani tugas ini ya, yang jelas pertama waktu sudah pasti tersita, dan HP berdering nonstop," ungkapnya.

Perasaan senang dan rasa bahagia Nani, tentu sama halnya dirasakan tenaga kesehatan melihat pasien yang dirawat sembuh.

Nani menyebutkan ada banyak pasien terkonfirmasi positif Covid 19 yang ditanganinya bersama dengan tim kesehatan lainnya yang berada dalam lingkup RSUD Daud Arif Kuala Tungkal.

"Suka nya kalo lihat pasien yang awalnya masuk dalam kondisi bergejala, setelah dirawat dan akhirnya pulang dan dinyatakan sembuh,"ungkapnya.

"Cerita unik biasa lah kadang kena marah-marah sama keluarga pasien, ada yang sampai mengancam akan menuntut juga," tambahnya.

Nani mengungkapkan bahwa di tengah melaksanakan tugas mulia tersebut, apalagi dalam penanganan Covid 19 ini Ia sebagai juru bicara rumah sakit di tim satgas RSUD Daud Arif. Ia dihadapkan dalam sejumlah komplain yang datang dari keluarga pasien.

Kata Nani, Ia memaklumi ketika ada sejumlah keluarga pasien yang komplain dan tidak terima jika anggota keluarganya dinyatakan positif Covid-19. Karena menurutnya, tidak ada keluarga manapun yang menginginkan anggota keluarganya dinyatakan positif Covid 19 apalagi ini kondisi ini merupakan hal baru dan tengah menjadi pandemi.

"Ada pasien dan keluarga yang tidak terima setelah di diagnosa Covid-19. Banyak keluarga pasien yang komplain sana-sini.

Tapi tetap kita jelaskan dengan baik dan kita mencoba jelaskan ini bukan akhir segalanya dan masih bisa kita obati dan bisa sembuh," sebutnya.

"Saya pribadi tidak terlalu ambil dalam hati, saya hanya berpikir mungkin keluarga pasien syok karena belum bisa menerima karena dapat diagnosa seperti itu. Jadi saya hanya mencoba menjelaskan dengan baik-baik saja," pungkasnya

Sudah hampir 16 tahun Nani mengabdikan diri untuk berdedikasi menjadi tenaga kesehatan.

Tak hanya menjadi dokter, hampir satu tahun di tengah Pandemi Covid 19 ini ia menjadi Juru Bicara Satgas RS Daud Arif.

Menjadi bagian dari penanganan virus yang menjadi pandemi dan belum ditemukan obatnya ini memberikan rasa khawatir bagi keluarganya.

"Sebenarnya ada kekhawatiran dari orang tua dan keluarga lain. Tapi saya sendiri bisa meyakinkan mereka, bahwa ini sudah menjadi kewajiban dan tuntutan profesi, sehingga memang harus ikut membantu dalam mengatasi masalah pandemi Covid-19 ini," katanya.

Atas penjelasan tersebut, kata Nani akhirnya semua keluarga bisa menerima dan selalu mengingatkan dan mendoakan dirinya untuk selalu sehat, menjaga stamina. Tidak hanya itu, kata Nani dirinya selalu diberi nasihat untuk tetap memakai APD saat ke pasien dan penerapan 3M (menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan).

Di sisi lain, Nani menyadari bahwa menjadi Juru Bicara adalah bagian dari tugas penuh konsekuensi. Menghadapi sejumlah keluarga pasien yang komplain adalah bagian tugas yang selama ini Ia hadapi. Bahkan Ia sempat mendapat ancaman dari keluarga pasien ketika baru mendengar bahwa anggota keluarganya dinyatakan positif Covid 19.

"Ada sampai keluarga yang diluar kota pun menelpon saya (komplain). Tapi sampai sejauh ini tidak berlanjut kok. Biasa statement awal keluarga pasien mungkin karena panik saja. Setelah mendapatkan penjelasan lebih lanjut, akhirnya mereka (keluarga pasien) menerima lah," ceritanya.

Di sisi lain, bertugas di tengah pandemi saat ini membuat waktu Nani tersita, termasuk dengan waktu untuk keluarga. Nani sendiri memiliki dua anak perempuan dan satu anak laki-laki. Terkadang rasa ingin berkumpul dengan anak dan keluarga muncul ketika Ia bertugas, namun Ia menyadari bahwa ada banyak masyarakat yang membutuhkan dirinya.

"HP ini 24 jam non stop aktif dan terkadang ada saja yang menelpon. Saya sampai mikir, waduh, nomer HP saya keliling keluar kota. Tapi tidak apa-apa tetap saya angkat juga walaupun nomor tidak kenal masuk," ungkapnya.

Lebih lanjut, Nani berharap kondisi pandemi saat ini bisa cepat pulih seperti biasanya. Apalagi saat ini dengan adanya vaksin, Nani berharap Vaksin ini dapat terealisasi ke sejumlah daerah termasuk ke Kabupaten Tanjabbar.

"Dua minggu yang lalu saya baru mengikuti pelatihan vaksin Covid 19 via virtualisasi dari pusat. Semoga vaksin Covid 19 segera terdistribusi ke seluruh daerah, sehingga seluruh masyarakat Indonesia bisa mendapatkan vaksin Covid 19," harapnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved