Renungan Kristen
Renungan Harian Kristen - Tuhan Pencipta Semesta, Engkau yang Mahamulia
Bacaan ayat: Kejadian 1:1 (TB) - "Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi" Ada kesadaran universal pada diri manusia bahwa ada kuasa besar
Tuhan Pencipta Semesta, Engkau yang Mahamulia
Bacaan ayat: Kejadian 1:1 (TB) - "Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi"
Oleh Pdt Feri Nugroho
Ada kesadaran universal pada diri manusia bahwa ada kuasa besar yang menguasai dirinya dan berkarya dalam setiap peristiwa kehidupan yang dialaminya.
Kuasa Besar itu patut disembah, namun manusia tidak tahu tentang siapa Dia dan bagaimana menyembah-Nya.
Alkitab memberikan penjelasan bahwa manusia diciptakan dari debu tanah, dibentuk dan dihembuskan Nafas kehidupan oleh Allah sehingga debu tanah tersebut menjadi mahkluk yang hidup.
Nafas hidup itu adalah Roh Allah sendiri yang menjadi sumber hidup.
Saat manusia mati maka yang dari debu tanah akan kembali menjadi debu tanah, sedangkan nafas hidup yaitu Roh kehidupan dari Allah akan kembali kepada Allah.
Baca juga: Renungan Harian Kristen - Tidak Menyerah Karena Tuhan yang Memampukan dengan Memberikan Kekuatan
Nafas hidup dari Allah tersebut memungkinkan manusia untuk mempunyai kesadaran diri tentang keberadaannya.
Kesadaran diri ini membawa manusia pada posisi berpotensi untuk berhubungan dan membangun komunikasi dengan Allah.
Fakta modern saat ini, bahwa hanya manusia yang dapat berdoa.
Binatang mungkin dapat dilatih untuk melakukan sikap doa, namun binatang tidak bisa berdoa.
Kesadaran diri juga membawa manusia untuk menyadari keterhubungannya dengan Allah.
Ketika manusia taat kepada Allah, keterhubungan tersebut berlangsung dengan baik.
Manusia memilih tidak taat dan memberontak kepada Allah, manusia menjadi berdosa.
Akibatnya hubungan manusia dengan Allah menjadi rusak, dan kerusakan tersebut berimbas pada hubungan baik yang telah terjadi.
Meskipun demikian, nafas kehidupan yang Allah anugerahkan masih ada dalam diri manusia.
Kesadaran akan adanya Allah masih melekat pada diri manusia.
Tetapi kesadaran tersebut menjadi terbatas pada akal pikiran semata.
Dengan akal budinya manusia mencari Allah, menciptakan ritual untuk terhubung dengan Allah dan mewariskannya kepada generasi selanjutnya.
Penemuan arkeologi dalam sejarah berjalan paralel dengan fakta tersebut.
Penemuan tempat pemujaan yang bertahan ribuan tahun mengindikasikan bahwa kesadaran diri manusia telah menciptakan ritual yang kompleks dalam menyembah.
Hal ini terkait dengan kemajuan cara berfikir dan teknologi yang dimiliki manusia dari zaman ke zaman.
Animisme menjadi tahap awal manusia percaya pada halal besar diluar dirinya.
Batu, pohon, gunung, dan benda-benda lain yang besar, dipercaya sebagai pihak yang bertanggung-jawab dengan apa yang dialami manusia.
Animisme berkembang menjadi dinamisme.
Baca juga: Renungan Harian Kristen - Jalan Kehidupan Masih Terus Berlanjut
Ketika diketahui batu hanyalah benda mati yang tidak bisa bergerak, manusia mulai percaya kepada benda hidup.
Pemujaan nenek moyang, menyembah benda langit, binatang, dan lain-lain, menjadi pilihan kepercayaan. Berbagai kepercayaan muncul.
Para tokoh yang mendapat pencerahan dan kebijaksanaan menciptakan pengajaran yang baik bagi kehidupan.
Muncullah berbagai kepercayaan yang kemudian melembaga sebagai agama.
Setiap kepercayaan mempunyai ajaran tentang kehidupan.
Masing-masing mengklaim menemukan jawaban terhadap persolaan kehidupan dan penjelasan logis yang ada akan dipercaya sebagai kebenaran.
Umat Tuhan dalam masa Perjanjian Lama berdampingan dengan berbagai bangsa yang mempunyai banyak keyakinan.
Godaan untuk mengadopsi berbagai keyakinan yang ada menjadi sangat besar.
Hal ini sempat menjadi kekuatiran tersendiri yang dialami Musa, ketika umat Israel bersiap memasuki tanah Perjanjian yaitu Kanaan.
Setiap kepercayaan mempunyai ajaran tentang asal mulai kehidupan.
Masing-masing mempunyai alur dan penjelasan yang dinamis dan oleh pengikutnya diyakini sebagai kebenaran.
Baca juga: Renungan Harian Kristen - Megahkanlah Tuhan Karena Dia Tuhan yang Berkarya Menyelamatkan Kita
Menarik, ketika pesan pertama yang dibawa Alkitab adalah asal muka kehidupan, bahwa "Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi."
Pesan ini membawa implikasi teologis yang mendalam bahwa segala yang terlihat dan tidak terlihat diciptakan oleh Allah.
Allah diposisikan sebagai Pencipta, penyebab utama yang menciptakan ruang dan waktu.
Konsekuensi dari pesan ini membawa umat untuk menyembah hanya kepada Allah sebagai yang Mahakuasa.
Batu, tanah, pohon, gunung, dan apapun yang terlihat adalah ciptaan yang tidak punya kuasa.
Bintang, matahari, malaikat, iblis, dan hal lain yang tidak terlihat, juga hanyalah ciptaan sehingga tidak pada tempatnya untuk menyembahnya.
Keyakinan ini menjadi proklamasi iman bahwa yang disembah adalah Allah yang menciptakan segala-galanya.
Dia yang yang menciptakan keberadaan ruang dan waktu sehingga Dia mengatasi ruang dan waktu dan tidak terikat pada ruang dan waktu.
Pesan ini berlaku kekal dari zaman ke zaman.
Ketika masa kini pengetahuan telah berkembang dengan ditemukannya benda angkasa dalam kategori tata surya, planet, bahkan galaksi yang jumlahnya tak terhitung; penjelasannya hanya satu bahwa semua itu adalah ciptaan Allah.
Saatnya kita merenung. Jika segala hal adalah ciptaan Allah, maka bisa dipastikan Ia akan memelihara ciptaan-Nya dengan baik.
Setiap ibadah dimulai, didasarkan pada proklamasi iman bahwa pertolongan yang kita dapat berasal dari Allah yang menciptakan langit dan bumi.
Proklamasi iman ini hendaknya diimani secara nyata, bukan sekedar lipsing semata.
Hari demi hari kita dibawa pada sikap iman untuk percaya dan mempercayakan kehidupan kepada Allah yang Mahakuasa.
Dia pasti selalu memelihara kehidupan kita. Amin
Renungan Oleh Pdt Feri Nugroho S.Th, GKSBS Palembang Siloam
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/18112020_feri-nugroho.jpg)