Berita Tanjabbar
Kisah Aisyah, Balita Pengidap Kelainan Jantung Bawaan Kompleks di Tungkal, Butuh Bantuan Pengobatan
Aisyah Nazwa Oktari, perempuan kecil yang cantik nan mungil berusia 1 tahun 6 bulan tampak masih bisa tertawa
Penulis: Samsul Bahri | Editor: Nani Rachmaini
TRIBUNJAMBI.COM, KUALA TUNGKAL-Aisyah Nazwa Oktari, perempuan kecil yang cantik nan mungil berusia 1 tahun 6 bulan tampak masih bisa tertawa dan tersenyum, dan terkadang menangis seperti anak balita pada umumnya ketika dikunjungi tribunjambi.com beberapa waktu lalu.
Di balik tawa dan senyum yan terpancar dari bibirnya, ternyata Aisyah menyimpan rasa sakit karena penyakit yang ia derita dari kecil.
Aisyah merupakan putri kedua dari pasangan Nur azizah dan Muhammadiyah. Aisyah divonis mengalami penyakit Kelainan jantung Bawaan Kompleks.
Kedua orangtuanya tidak
Baca juga: Daftar Harga Playstation 5 Indonesia Lengkap Deretan Nama Toko Offline Retailer Resmi Jakarta Bali
Baca juga: Tergoda Wanita Telanjang di Video Call, Seorang Nelayan Diperas Rp 15 Juta, Begini Nasibnya?
Baca juga: Apa Itu Rapid Test Antigen yang Jadi Syarat Keluar Masuk Jakarta? Berapa Tarifnya?
menyangka sama sekali jika Aisyah harus mengalami penyakit kelainan jantung.
Selama proses kehamilan sang istri, Muhammadiyah selalu rutin melakukan pengecekan kehamilan ke dokter kandungan.
Bahkan hingga proses kelahiran dikatakan Muhammadiyah tidak ada suatu keanehan pada tubuh Aisyah yang lahir secara normal tersebut.
"Kita selalu cek kondisi kandungan istri ke dokter kandungan, di USG juga dan tidak ada yang aneh. Semua normal, berat badan juga normal pas lahiran, beratnya 2,5 kilo gram," katanya
Muhammadiyah dan istrinya baru melihat ada keanehan ketika Aisyah memasuki usia enam bulan.
Bercak biru pada bagian tubuh Aisyah mulai timbul, tidak hanya itu, nafas Aisyah juga mengalami sesak, dan kemudian Aisyah tidak aktif seperti anak seusia pada umumnya.
"Jadi terdeteksi ini waktu usia 6 bulan. Tegakin kepala sendiri tidak bisa, terungkup juga tidak bisa. Jadi curiga kita, ruam-ruam biru juga sudah muncul dengan bibir dan kuku membiru," ungkapnya.
Keanehan tersebut membuat Muhammadiyah dan istri khawatir terhadap kondisi Aisyah.
Kemudian keduanya memutuskan untuk membawa Aisyah ke RSUD Daud Arif Kuala Tungkal.
Berdasarkan pemeriksaan dan dilakukan Ronsen dengan hasil dinyatakan ada pembengkakan jantung dengan diagnosa TOF (Tetralogy of Fallot).
"Kaget kita karena memang dari keluarga kita juga tidak ada riwayat, hasil-hasil USG normal. Jadi kaget pas di kasih tau kalo anak saya ada penyakit pembengkakan jantung," sebutnya.
Setelah itu, atas saran dari pihak RSUD Daud Arif, Muhammadiyah kembali membawa anaknya ke RSUD Raden Mattaher untuk dilakukan pemeriksaan Eco Jantung.
Hasilnya Asiyah harus menjalani operasi dan tidak bisa dilakukan di Jambi.
"Jadi disarankan untuk ke Jakarta melakukan operasi. Kemarin ada sempat satu bulan kita ke Jakarta. Lakukan pemeriksaan di RS Jantung harapan kita. Jadi di lakukan pemeriksa MST SCAN, sekitar september lalu," katanya
Sementara itu, disampaikan oleh Muhammadiyah pada awal November pihaknya mendapatkan telpon dari RS untuk melakukan operasi.
Namun, karena kendala biaya, pihaknya belum bisa ke Jakarta.
"Kita belum ada biaya. Karena bulan kemarin saja kita habis hampir Rp20 juta selama satu bulan di Jakarta."
"Itu aja kita pakai uang minjam dan sekarang juga belum dibayarkan. Kemarin itu hanya pemeriksaan, kalo operasi ini pasti lebih mahal lagi," ungkapnya
Soal biaya kata Muhammadiyah juga tidak dijelaskan secara rinci oleh pihak rumah sakit.
Selama pengobatan pihaknya menggunakan BPJS, namun tidak semuanya tercover oleh BPJS.
Karena kata Muhammadiyah ada beberapa obat dan tindakan yang di luar tanggungan BPJS.
Selain soal biaya, Muhammadiyah juga terkendala dari kondisi Aisyah yang tidak mengalami pertumbuhan berat badan.
Selama ini, Aisyah harus rutin mengkonsumsi susu khusus untuk menambah nutrisi untuk tubuhnya.
Namun hingga saat ini berat badan Aisyah tidak bertambah.
"Ini juga susunya khusus tinggi kalori yang sebulannya menghabiskan 8 kaleng yang satu kalengnya Rp 170 ribu."
"Ini juga sudah dua bulan tidak naik-naik tubuhnya, sementara kalo operasi juga berat badan harus ideal," tambahnya.
Saat ini kata Muhammadiyah, Saat ini total biaya yang dibutuhkan sebesar Rp 50 juta. P
ekerjaan Muhammadiyah dan Istrinya yang hanya sebagai tenaga honorer, tidak mencukupi untuk biaya berobat Aisyah dan saat ini membutuhkan biaya.
"Kita hanya bisa berharap dan menunggu ada bantuan dari pihak yang bisa membantu kami. Karena memang biaya pengobatan yang cukup besar," pungkasnya.
(Tribunjambi/samsul bahri)