Harga Emas
Prediksi Harga Emas Tahun 2021 Kenaikan Harga Bakal Terbatas?
Direktur Panin Asset Management Rudiyanto memprediksi kenaikan harga emas akan terbatas tahun depan
TRIBUNJAMBI.COM - Tahun 2020 menjadi tahun harga emas yang tak henti berkilau.
Tapi silaunya kemilau emas di tahun pandemi 2020, tampaknya bakal meredup di tahun depan.
Sebabnya, kilau emas mulai tertutup prospek aset berisiko seperti saham yang kini mulai bangkit dari tidurnya.
Direktur Panin Asset Management Rudiyanto mengungkapkan, penguatan harga emas tahun ini lebih terkait dengan program stimulus Amerika Serikat (AS).
Dimana, stimulus dibiayai melalui program cetak uang oleh Bank Sentral AS terkait pandemi covid-19.
Baca juga: Harga Emas Siang Ini (3/12) di Pegadaian, Antam Ukuran 2 gram Rp 1.921.000 UBS Rp 951.000 per gram
Baca juga: Harga Emas Antam Hari ini (3/12) Naik Lagi Rp 5.000, Jadi Rp 957.000 per gram
Baca juga: Bos Tambang Emas Ilegal di Tebo Tewas Mengenaskan Tertimbun, Pekerja Sedang Lahap Makan
"Ke depan menurut kami (kenaikan harga emas) akan terbatas, karena program cetak uang masih akan terus dilanjutkan. Namun nilainya mungkin tidak sebanyak saat ini," kata Rudiyanto kepada Kontan, Rabu (2/12).
Apalagi, ada kemungkinan di era Presiden AS yang baru yakni Joe Biden, Negeri Paman Sam tersebut bisa melakukan pendanaan program stimulus melalui kenaikan tarif pajak.
Di sisi lain, untuk kinerja obligasi baik pemerintah maupun korporasi didukung dengan suku bunga Bank Indonesia (BI) yang terus menurun.
Rudiyanto menilai, tahun depan BI Rate masih bisa turun, meskipun ruangnya lebih terbatas sehingga potensi kenaikannya pun bakal lebih terbatas.
Adapun daya tarik untuk surat utang ke depan lebih banyak datang dari faktor kupon, sehingga tingkat return-nya akan lebih rendah dari 2020.
"Menurut kami, saham dan obligasi berpeluang naik tahun depan, didukung pemulihan ekonomi dan tren bunga rendah," tambahnya.
Rudiyanto menambahkan, ke depan sentimen seperti rencana kenaikan tarif pajak Amerika Serikat (AS), pelaksanaan Omnibus Law, pelaksanaan vaksin, dan tren harga komoditas seiring dengan pemulihan ekonomi bakal jadi sorotan pelaku pasar.
Prediksinya, untuk tahun depan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bakal bergerak pada rentang 6.300 hingga 6.500.
Sedangkan untuk prospek yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun bakal berada di kisaran 5,8% hingga 6%.
Berdasarkan rangkuman Kontan, instrumen investasi yang berhasil memberikan return atau imbal hasil terbanyak tahun ini adalah emas spot dengan kenaikan mencapai 17,11% secara year to date (ytd) per Oktober.