Rabu, 22 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Tribun Wiki

WIKI JAMBI Sosok Kolonel Abundjani, dari Pendidikan hingga Karier Militer

Selain itu, namanya juga diabadikan pada nama fasilitas umum, seperti rumah sakit dan jalan. Siapa sebenarnya Kolonel Abundjani?

Penulis: Mareza Sutan AJ | Editor: Rian Aidilfi Afriandi
Tribunjambi/mareza
Museum Perjuangan Rakyat Jambi 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Kolonel Abundjani merupakan satu di antara pahlawan asal Jambi. Dia merupakan seorang pejuang Jambi pra dan pascakemerdekaan.

Jasanya terhadap Jambi membuat namanya dikenang.

Selain itu, namanya juga diabadikan pada nama fasilitas umum, seperti rumah sakit dan jalan. Siapa sebenarnya Kolonel Abundjani?

Baca juga: Air Danau Sipin Meluap, Ojek Perahu Taman Wisata Danau Sipin Mengalami Peningkatan Omzet

Baca juga: 10 Bukti Kemiripan Pemeran di Video Syur Mirip Gisel Versi Pakar, Roy Suryo Menduga Video Dicuri

Baca juga: VIDEO Biadab! Detik-detik Seorang Kakek Jadi Korban Jambret di Kota baubau

Lahir di Batang Asai

Kolonel Abundjani dilahirkan di Batang Asai, Sarko (Sarolangun-Bangko), Jambi, 24 Oktober 1918. Dia adalah seorang pejuang asal Jambi.

Kolonel Abundjani adalah anak seorang demang yang berkedudukan di Rantau Panjang, Batang Asai, yang bernama Demang Makalam.

Demang Makalam berasal dari Pondok Tinggi, Kerinci, sedangkan ibunya bernama Siti Umbuk berasal dari Desa Keladi.

Dia merupakan anak keempat dari lima bersaudara. Dari rahim Siti Umbuk, lahir lima orang anak. Mereka adalah Siti Rodiah, M Kamil, Siti Raimin, Abunjani, dan M Sayuti.

Pendidikan Kolonel Abundjani

Baca juga: 10 Bukti Kemiripan Pemeran di Video Syur Mirip Gisel Versi Pakar, Roy Suryo Menduga Video Dicuri

Baca juga: VIDEO Biadab! Detik-detik Seorang Kakek Jadi Korban Jambret di Kota baubau

Baca juga: Warga Sekernan Tangkap Ular Piton Sepanjang Tujuh Meter, Sudah Mangsa Dua Ekor Kambing Warga

Sejak kecil, Abundjani telah mendapat asupan pendidikan yang layak.

Ayahnya yang merupakan seorang demang memberi kesempatan untuk anak-anaknya bersekolah di lembaga pendidikan formal, sampai akhirnya memiliki peran besar dalam memimpin pasukan di Jambi.

Berdasarkan makalah yang ditulis sejarawan Jambi, Junaidi T Noor (kini almarhum), pada 1926, Abunjani bersama kakaknya, M Kamil dikirim ke Jambi untuk bersekolah di bawah asuhan Ali Sudin, keponakan Makalam yang bekerja sebagai clerk (juru tulis) di kantor Kontrolir (Countroleur) Jambi.

Saat itu Abundjani masih berusia 8 tahun, sedangkan kakaknya berusia 11 tahun.

Tidak sampai di sana, atas beberapa pertimbangan, Makalam menitipkan keduanya pada seorang teman berkebangsaan Belanda yang bekerja di Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM). Dari sanalah, keduanya akhirnya mulai mahir bahasa Belanda.

"Secara berturut-turut, tahun 1931 Abunjani berhasil menamatkan pendidikan di Hollandsc-Inlandsche School (HIS) selama 7 tahun dan tahun 1934 menamatkan pendidikan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Bandung.

Pada 1940 Abunjani mengikuti pendidikan di Middelbare Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaar (MOSCVIA) di Bandung, tetapi tidak tamat karena berlangsungnya pendudukan Jepang," tertulis dalam makalah itu.

Meski begitu, saat masa pendudukan Jepang itulah Abunjani menamatkan pendidikan di Shonan Kao Kun Renjo (Sionanto) di Singapura selama 1 tahun.

Abunjani kemudian diangkat sebagai asisten Ki Imuratyo. Pendidikan militer ini kemudian diteruskan ke akademi militer Giyugun di Pagar Alam, Lahat dengan pangkat tamatan Letnan Dua (Shoi).

Alumni pendidikan Angkatan Darat (Kanbu Kyoyiku tai) Jepang ini merupakan cikal bakal tentara nasional di masing-masing daerahnya.

Perjuangan Pascakemerdekaan

Berawal dari beredarnya berita Proklamasi Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, para pemuda Jambi langsung bergerak cepat dalam menyatakan kemerdekaan Jambi.

Bendera Merah Putih berkibar di Puncak Menara Air.

Sementara itu, prajurit lain menurunkan bendera Jepang (hinomaru) di Kantor Pengadilan Jepang, lalu menaikkan bendera Merah Putih.

Singkatnya, pada 22 Agustus 1945, bendera Merah Putih berkibar di Jambi dan beberapa kota lainnya di Keresidenan Jambi.

"Karier militer Abundjani dimulai pascakemerdekaan. Pada 22 Agustus 1945, Abundjani merintis terbentuknya Angkatan Pemuda Indonesia (API) yang merupakan bagian dari BKR (Badan Keamanan Rakyat). BKR nantinya menjadi cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI). Selanjutnya, Abundjani diangkat sebagai komandan BKR daerah Jambi dengan jabatan Kolonel. Hingga tahun 1949, jabatan Kolonel Abundjani adalah komandan Kodam Garuda Putih Jambi," tertulis dalam makalah Junaidi T Noor tersebut.

Namun, dengan adanya kebijakan rasionalisasi di kalangan TNI, pangkat Kolonel Abundjani diturunkan menjadi Letnan Kolonel.

Kendati demikian, Letnan Kolonel Abunjani tetap di militer dengan jabatan rangkap sebagai Wakil Gubernur Militer Sumatera Selatan khusus daerah Jambi, juga sebagai Komandan STD sampai pertengahan Januari 1950.

Dalam karier militernya, peran besar Abundjani dalam menunjang perjuangan di masanya adalah membentuk Badan Keuangan Perjuangan yang memobilisasi pedagang karet ke Singapura dengan menyisihkan 10 persen keuntungan untuk perjuangan.

Dalam usahanya, Abunjani memobilisasi pedagang karet ke Singapura dengan menyisihkan 10 persen keuntungan untuk perjuangan.

Dana itu untuk membantu Pemerintah Pusat, di antaranya sewa-beli Pesawat Catalina (RI 05) sebagai pesawat penghubung ke Sumatera Barat maupun Yogyakarta dalam jaringan pemerintahan.

Usaha tersebut, selain dapat membantu perjuangan Pemerintah Pusat, sewa-beli Pesawat Catalina (RI 05) sebagai pesawat penghubung ke Sumatera Barat maupun Yogyakarta dalam jaringan pemerintahan.

Abunjani juga memasok perlengkapan dan perbekalan pasukan dengan sistem barter komoditas lada, vanili, karet, dan lain-lain.

Hal yang tidak kalah penting, kepemimpinan Letnan Kolonel Abundjani adalah memindahkan pusat pemerintahan dan pertahanan militer saat serangan Belanda pada 29 Desember 1948.

Bersama dengan Raden Inu Kertapati dan M Kamil mengungsi ke pedalaman, tapi terhenti di Sengeti.

Raden Inu Kertapati kemudian kembali ke Jambi untuk menenangkan keluarga dan masyarakat kota Jambi oleh bombardir pesawat dan serangan tentara Belanda melalui Kenali Asam dan Palmerah.

Pada 1 Januari 1949, terbitlah surat kuasa Residen Jambi, Raden Inu Kertapati, kepada M Kamil, Bupati Jambi Hilir, untuk meneruskan Pemerintahan Darurat Keresidenan Jambi.

Dalam rapat antara unsur pemerintah dan militer di Tebo, didapati keputusan bahwa H Baksan, yang saat itu menjabat sebagai Bupati Jambi Ulu, sebagai Residen Pemerintah Darurat Keresidenan Jambi.

Selain itu, Pusat Komando Militer dipindahkan ke Bangko.

Walaupun mengalami berbagai gempuran, perjuangan dan pemerintahan darurat berjalan sebagaimana mestinya.

Terhitung Februari 1950, Letnan Kolonel Abunjani mengundurkan diri dari TNI beralih profesi menjadi seorang pengusaha di Jambi dan Jakarta.

Dengan pengalamannya sebagai Sudantyo Giyugun dari tahun 1942-1945, Abunjani mempunyai kemampuan bahasa Belanda, Inggris, Jepang.

Belakangan, itu juga menjadi modalnya yang sangat berguna dalam kiprah di dunia bisnis selepas menanggalkan karier militernya.

Baca juga: BREAKING NEWS Paripurna APBD 2021 Tanjabbar Dua Kali Ditunda, Bupati Safrial Belum Datang

Baca juga: Jalan Pramuka Muara Bulian Terendam Banjir, Air dari Danau Letang Meluap Lebih dari 50 Meter

Baca juga: Ikatan Cinta Malam Ini 30 November, Usaha Al & Andin untuk Mendapatkan Kembali Reyna

Tutup Usia di Jakarta

Kolonel Abundjani tutup usia di Jakarta pada 28 Desember 1979.

Jasadnya dimakamkan di Pemakaman Tanah Kusir, Jakarta.

Dia tidak dimakamkan di Makam Pahlawan, meski jasa-jasanya bisa menempatkannya ke sana.

Meski begitu, namanya kini masih dikenal. Nama besar Abundjani terpampang sebagai nama jalan di Jambi, juga di beberapa kota lain.

Selain itu, seperti di Bangko, Merangin, yang tak jauh dari tanah kelahirannya, namanya dijadikan nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di sana.

Kini, kediamannya masih berdiri kokoh di Telanaipura, Kota Jambi. Rumah itu kini masih didiami keluarga dan keturunannya.

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved