Breaking News:

PETI Masih Ada di Sarolangun, Ini Dampak yang Terjadi Dari Penambangan Liar

Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kabupaten Sarolangun masih saja beroperasi tanpa memikirkan dampak lingkungan

Dokumentasi DLH Sarolangun
Aktivitas PETI yang ada di Kabupaten Sarolangun 

Laporan Wartawan Tribun Jambi, Rifani Halim

TRIBUNJAMBI.COM, SAROLANGUN - Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kabupaten Sarolangun masih saja beroperasi tanpa memikirkan dampak lingkungan dan masa depan kelangsungan hidup manusia.

Kabid pengelolaan lingkungan hidup DLH Sarolangun Suhardi Sohan menyebutkan,
Kerusakan yang paling rentan terjadi di lokasi penambangan emas tanpa izin yakni banjir oleh sebab pendangkalan sungai.

"Dampak nyata dari peti, Jika curah hujan tinggi, itu dari atas sana (wilayah kecamatan Batang Asai), akan menyumbangkan air bah banjir bandang  karena kerusakan tanaman perubahan bentang alam, membawa kayu-kayu yang sudah tumbang menghantam rumah-rumah sepanjang sungai," kata Suhardi, Jum'at (13/11/2020).

Baca juga: Link Baca One Piece Chapter 995 - Nami Nyaris Dibunuh Ulti, Chopper Terinfeksi, Marco vs Big Mom

Baca juga: Link Baca Manga One Piece Chapter 995, Detik-detik Tama di Tempat Sama Dengan Page One

Baca juga: Ribut Kepulangan Habib Rizieq, Moeldoko: Negara Tidak Hanya Mikir Orang yang Suaranya Keras

"Tak hanya banjir kekeringan karena disana tidak ada serapan air lagi pohon- pohon sudah habis. Kalau sempat terjadi kemarau masyarakat yang mengunakan sumur apalagi ada tamanan sawit dekat pemukiman itu yang membuat kering dan sungai akan terjadi pendangkalan dan kegiatan peti di sungai," kata Suhardi sohan.

Efek lingkungan sangat berpengaruh besar jika peti terus-menerus dilakukan, butuh 5- 10 tahun untuk membuat tanah Vegas galian lobang peti menjadi tanah yang produktif kembali.

Selain itu, fisik yang sangatlah nyata di pandang oleh masyarakat, di lokasi PETI yaitu air sungai menjadi keruh dan butek. Belum lagi yang melakukannya di sungai atau yang melakukan pencucian emas di sungai.

"Secara tidak langsung itu ada butiran merkuri yang masuk ke sungai dan mempengaruhi lingkungan dan biota sungai terutama fauna air, ikan- ikan yang terkena efek dari merkuri terjadi cacat secara fisik, atau ikan jenis baung bisa berubah seperti ikan monster karena efek dari merkuri," katanya.

Baca juga: Peluang Besar, Banyak Pegawai Senior Mundur KPK Buka Lowongan Kerja, Ini Syarat dan Cara Daftarnya

Baca juga: Promo KFC 12-15 November 2020 - Super Deal 3 Ayam dan 2 Nasi Rp 45.455, Gratis Coca-cola 1 Liter

Baca juga: Kabar Baik, Puluhan Warga Binaan Lapas Klas IIA Jambi Dinyatakan Sembuh dari Covid-19

Dampak selanjutnya dari Dompeng rakit yang dilakukan di sungai mengunakan Rakit, menyebabkan pengalihan arus sungai, erosi, arus sungai menjadi sigzak dan longsor.

Hal yang paling di takutkan dari erosi bisa terjadi longsor secara mendadak.

Penulis: Rifani Halim
Editor: Rahimin
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved